
Bugh!! Bugh!! Bugh!!
"Arrkhh dasar menyebalkan, huwaaa...Sagara menyebalkan beraninya kau menjahili aku!!!!" Dea berteriak kesal sambil menghajar boneka beruang di dalam kamarnya, sampai pukulannya menelan korban kedua.
Ini boneka beruang kedua yang dia hancurkan dengan tangannya sendiri sampai hancur tak berbentuk.
" huahhh... hufftt!!! lihat saja nanti!!!" kesal gadis itu sambil melemparkan tubuhnya ke atas kasur, membuat kapas kapas kecil beterbangan ke sana kemari memenuhi ruangannya yang kini sudah seperti kapal pecah.
Dea sungguh berpikir kalau Sagara telah melakukan sesuatu terhadap dirinya semalam.
Gadis itu menepuk nepuk dahinya, sambil mengingat kembali apa yang terjadi semalam di pesta itu.
Dia jelas mengingat kalau wajahnya di tampar oleh seorang perempuan yang salah sangka dan termakan hasutan dari Gita kakak kandung Dea sendiri.
Gadis itu terdiam sejenak, bahkan setelah menerima tawaran pernikahan yang tak pernah dia inginkan, setelah mengorbankan dirinya demi keluarganya dia masih tidak dianggap bahkan dipermalukan oleh kakaknya sendiri.
" Kenapa musibah ini terus datang padaku? padahal jika ku lihat, orang lain sangat akrab dengan saudara-saudara nya, apa salahku sampai mereka membenciku?" batin gadis itu sambil menatap langit-langit.
Dia mengusap pipinya, rasa sakit tamparan nyonya Nancy semalam masih tak sebanding dengan rasa sakit saat kakak perempuannya menghina dirinya di hadapan orang lain.
Dea terus mengingat kejadian itu, sampai dia tersadar bahwa dirinya berlari pada Sagara dan menangis dalam pelukan pria itu.
"Tunggu dulu!!!" Mata Dea membulat sempurna, dia bangkit dari tempat tidurnya sambil mencengkram rambutnya sendiri.
" huwaaa.. tidak!! tidak!!tidaaakk!! bagaimana ini!!!" Dea berteriak histeri saat mengingat wajahnya yang menyedihkan semalam, dan aktingnya saat dia berpura-pura kuat di depan Ruka dan Bima.
" Apa yang ku lakukan semalam arrrhkkk!!!!!" Dea tersadar kalau semalam emosinya tak terkendali sampai dia mencari pelarian dan berakhir memaksa seorang tuan Sagara untuk membawanya pulang.
Padahal kerja sama itu sangat penting bagi perusahaan Sagara, tapi karena kejadian yang menimpa Dea, Sagara telah membatalkan kerja sama dengan grup Raksa.
" Ya Tuhan, mati aku!!"
Puk!!
Dea memukul kepalanya sendiri," Kau benar benar sudah kehilangan akal sehatmu Dea. kau benar benar bodoh!!" ucapnya merutuki dirinya sendiri.
Dea sadar telah melakukan kekacauan terhadap bisnis Sagara.
"Apa yang ku lakukan, bukankah kesepakatan itu sangat penting? apa aku sudah merusak bisnisnya!?" batin Dea sambil mengintip keluar mencari di mana gerangan Sagara berada.
Dea terduduk lemas di atas lantai, dia mengingat bagaimana Sagara begitu marah saat mendengar bahwa dirinya dipukul di pesta itu.
gadis itu menyadari tatapan Sagara yang berbeda, menyadari tindakan Sagara yang berubah drastis.
"Tapi dia membelaku, dia membawaku pulang sampai memperhatikan aku dengan baik, aku jadi merasa bersalah!!" batin gadis itu.
Dea mengerucutkan bibirnya, menghela nafas berkali-kali sambil merutuki dirinya yang kacau.
"Apa yang harus ku lakukan, huwaaaa... kenapa aku jadi bodoh begini!? seharusnya semalam ku tahan saja, " ucap gadis itu.
Sementara itu, di luar pintu bangsalnya, Sagara tengah berdiri dengan jubah hitam kesayangannya yang hangat dan tebal, menatap pintu itu sambil berpangku tangan.
__ADS_1
"Lin apa Raksa grup sudah kau bereskan?" tanya pria itu pada Sekretaris Lin yang berdiri di belakangnya.
" Semua sudah beres seperti yang anda minta tuan, tapi nyonya Nancy tampaknya terus mengunjungi kantor dan mengirimkan email untuk membuat janji temu," ucap Sekretaris Lin.
"Abaikan saja, dia sudah tidak dibutuhkan!" tukas Sagara.
"Baik tuan!" balas Lin dengan tegas.
Sagara menggerakkan jarinya, sebagai kode agar Lin pergi dari sana," Kembalilah ke kantor, aku tidak akan ke kantor hari ini!" ucap Sagara.
"Baik tuan Muda!" balas Pria itu sambil membungkuk hormat dan pergi dari sana.
Sagara masih menatap pintu bangsal Dea, dengan jelas dia mendengar rengekan dan suara menggerutu dari dalam ruangan itu.
Bibir Sagara melengkung ke atas, dia sangat menikmati momen seperti ini.
"Pendekar kecil, bagaimana kalau kau sampai tahu bahwa akulah Teddy bear mu? aku tidak sabar menunggu reaksimu!" batin Sagara.
Dia berjalan mendekati ruangan bangsal itu, mengambil kunci cadangan dari kantongnya dan membuka pintu itu sendiri.
Dia telah mendengar semua keluh kesah Dea, tetapi yang membuat dia tertegun, dalam keadaan seperti ini pun Dea masih memikirkan orang lain.
Klak!
Pintu ruangan itu dibuka, Sagara melangkah masuk dan...
Prruuuffhhhh
" uhuk! uhuk! uhuk! ada apa ini!!! Dea!!!" teriak pria itu dengan wajah terkejut.
Bukannya melihat Dea, dirinya malah disambut dengan gumpalan kapas yang beterbangan ke sana kemari.
" Arrkhhh.. huaaachuuu!!! huaaahccuhhh!!! uhuk uhuk uhuk!!!!" Suara gadis itu terdengar.
Dea batuk dan bersin bersin di dalam ruangan itu karena terlalu banyak menghirup partikel kecil dari kapas yang beterbangan itu.
Sagara melihat samar-samar gadis itu sedang menepuk-nepuk dadanya,dia sesak karena kamarnya dipenuhi kapas.
Sontak pria itu berlari dan menarik tangan Dea keluar dari dalam bangsal itu.
"Ayo keluar!!" ucap Sagara sambil menggenggam tangan Dea.
Keduanya keluar dari sana.
" Apa yang kau lakukan di dalam!? kau tahu tidak betapa berbahayanya partikel kecil dari kapas itu hah? kau bisa batuk dan sesak nafas!! lihat dirimu sudah sangat berantakan!!!" Sagara segera mencerca gadis itu dengan rentetan pertanyaan dan omelan.
"Uhuk... uhuk.. uhuk.. tadi... hah... hah... aku menghancurkan boneka beruang sampai tak berbentuk, kapasnya menyebar ke mana mana!! uhuk uhuk uhuk!!!" Dea menjelaskannya dengan nafas terengah-engah sambil terbatuk-batuk.
Sagara tahu hal itu, dia menatap Dea sambil tersenyum tipis," Dasar ceroboh!" ucapnya pelan sambil membersihkan sisa kapas dan bulu di rambut istrinya.
Dia mengambil kapas kecil itu, bahkan yang menempel di wajah dan pakaian Dea.
__ADS_1
" Sudah berapa boneka yang kau rusak hmm?" tanya Sagara seraya menatap Dea dengan tatapan lembut sambil memperbaiki rambut gadis itu.
Deg.. deg... deg...
" Ya Tuhan aku masih belum mau mati muda, kenapa dia sangat tampan dan sungguh tidak bisa diabaikan, lihat dadanya itu huwahahh mahakarya yang agung!!' batin Dea sambil menatap Dada Sagara di balik jubah kesayangannya itu.
Dia menatap wajah tampan Sagara, rahang tegas, bibir merah muda dan hidung mancung dengan bulu mata yang sangat lentik membuat hati Dea berdebar tak karuan.
"Ini yang kedua," jawab Dea dengan patuh.
" Kedua? alasannya?" tanya Sagara pelan, dia masih merapikan rambut istrinya. Tampaknya tangan itu tak terhentikan ketika berdekatan dengan Dea.
"Karena aku marah dan kesal padamu, ehh.. ups!!" Dea sontak menutup mulutnya saat sadar dengan kata-katanya.
Sagara tertawa," Lalu..." Pria itu mendekatkan wajahnya ke hadapan Dea.
Dea terdiam membeku sambil menutup mulutnya, wajah tampan itu benar benar dalam jangkauan pandangannya.
"apa sekarang masih marah hmm?" tanya Sagara dengan harga setengah berbisik sambil tersenyum tipis dan memandang Dea dengan tatapan yang sangat lembut.
Deg... deg.. deg..
" Ti.. tidak! Tidak marah lagi!!!" ucap gadis itu langsung melangkah mundur dengan pipi bersemu merah.
" Hahaha.... dasar kaki pendek!!" ejek Sagara sambil menepuk pucuk kepala istrinya dengan gemas.
" Cih... tiang listrik penuh tegangan!!" ketus gadis itu.
"Emm ngomong-ngomong, terimakasih untuk yang semalam!" ucap Dea dengan suara pelan.
"Apa? tidak dengar, coba ulangi!!" ucap Sagar.
"Terimakasih untuk yang semalam!!" ucap Dea dengan lantang.
"Ohh... terimakasih ya, hanya itu?" tanya Sagara seraya menaikkan sebelah alisnya.
Dea terdiam sejenak," maksudnya apa lagi? apa yang harus ku lakukan? kenapa dia tiba tiba bersikap seperti ini!?" batin Dea.
"Emm... sebagai permintaan maaf dan terima kasih, aku akan menurutimu satu hari ini saja!" ucap Dea tanpa pikir panjang.
" Setuju!! kalau begitu ayo!!" ucap Sagar yang langsung berjalan di depan Dea.
Dea menatap pria itu dengan wajah bingung, sepertinya ada yang salah.
"eh... tunggu dulu, kenapa aku barusan merinding? apa yang akan terjadi? apa aku salah mengambil keputusan!?" batin Dea seraya menatap punggung Sagara yang tadinya terlihat megah malah menjadi kelihatan sangat horor.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗