
Di halaman bangsal utama,
"ekhmm!!" Sagara berdeham, dia berdiri tegap seraya menatap para pelayan yang masih berlutut di depannya.
"Berdirilah, aku tidak akan menghukum siapa pun!" Ucapnya dengan tegas.
"TERIMAKASIH TUAN SAGARA!" seru mereka semua dengan lantang dan bahagia.
Lagi lagi Sagara bahkan sahabatnya yang ada di rumah itu terkejut dengan sikap para pelayan.
" Apa perlu kami singkirkan tuan? Tapi nyonya muda akan sedih, beliau sangat senang saat bunga bunga ini tumbuh dengan baik," jelas Kevin.
Siska maju ke depan," benar tuan, nyonya sangat bahagia saat bunga bunga ini memanggil banyak kupu-kupu ke taman ini," tambah Siska.
Di ujung barisan para pelayan, Ruka tersenyum geli melihat wajah Sagara yang tak bisa berbohong kalau sebenernya dia heran dan merasa aneh dengan sikap pelayannya.
"Hihihi...tuan muda, anda bodoh sekali!!" Batin Ruka sambil menahan tawanya.
Sagara mendengus, dia seperti dipojokkan dan dituduh sebagai pembuat kekacauan, padahal dia hanya ingin bertanya itu semua pekerjaan siapa. Namun para pelayannya malah membela Dea seolah Sagara hendak menghancurkan kebahagiaan kecil gadis itu.
"Tuan muda, anda tahu sendiri kalau kehidupan Nyonya muda tidak seindah yang diharapkan ketika lahir di keluarga bangsawan, tapi setidaknya nyonya muda bisa tertawa bahagia di sini!!' seru Ruka dari barisan belakang.
Semua pelayan mengangguk setuju, mereka sangat senang melihat gadis itu tertawa.
" Benar tuan, nyonya muda itu gadis baik, jangan buat dia menangis!" Seru mereka menyampaikan suara mereka di depan Sagara.
"DIAM!" senggak pria itu.
Seketika suasana berubah menjadi hening mencekam. Sagara memijit pelipisnya, para pelayan itu sudah sama cerewetnya dengan nyonya muda rumah itu.
"Panggil dia ke ruang makan, kalian semua bubarlah!!' ucap Sagara.
"Tapi tuan...
"Apa masih kurang jelas hah!" Teriak pria itu dengan kesal.
"Baik tuan muda!" Ucap mereka semua.
Para pelayan itu berlari dari sana dengan wajah khawatir. Tak seorang pun mempedulikan Sagara, mereka semua khawatir dengan nyonya mereka yang baik hati.
Pria itu menggelengkan kepalanya," hah.. apa apaan ini? Tuan mereka siapa? Yang membayar upah mereka kan aku? kenapa mereka begitu melindungi gadis itu!?" Gumam Sagara sambil menghela nafas.
Puk!!
Tangan Ruka mendarat di bahu pria itu," bagaimana perubahan di mansion ini tuan muda? Sungguh menarik bukan?" Bisik Ruka seraya menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Ruka, apa kau melakukan pekerjaan mu dengan baik!? Apa belum cukup penyamarannya!?" Tanya Sagara dengan nada dingin.
Ruka melepas tangannya dari bahu pria itu. Gadis itu adalah adik dari Bima, pengawal perempuan terbaik di organisasi bawah yang dipimpin Sagara.
Dia ditugaskan menjaga kediaman Sagara terutama menjaga Dea dari kejadian seperti beberapa waktu lalu.
Seorang gadis yang cukup kuat, adik dari pria yang sama gilanya dengan Dia, Bimantara.
"Sedang diselidiki, pelaku yang menabrakmu waktu itu sudah sangat jelas adalah orang bayaran si tuan muda kedua," jelas Ruka.
"Diskusi kerjasama dengan Grup tuan Jordan akan berjalan lancar jika kita bisa merebut hatinya, pria itu adalah maniak kosmetik, dan kurasa nyonya muda memenuhi kualifikasi untuk menarik perhatian tuan Jordan!" Ujar Ruka.
"Tapi tuan Jordan sepertinya sedang mencari pendamping baru, dia tidak akan tertarik pada istri orang!" Ucap Ruka.
" Tidak!' Sagara menolak dengan tegas.
"Jangan libatkan dia, kau tahu sendiri tuan Jordan sudah menjadi duda, dia bisa saja melirik istriku, itu akan mencoreng nama baikku!" Tegas Sagara.
Ruka terkekeh," mencoreng nama baikmu, atau kau merasa marah jika istri kecil yang kau cari selama ini berdekatan dengan orang lain!?" Ucap Ruka sambil menunjuk ke arah Bima dan Dea yang sedang berjalan bersama sambil membawa beberapa hidangan bersama pelayan.
Mereka berdua tampak sangat ceria, tertawa dan terlihat dekat satu sama lain.
"Ekhmm... Siapa bilang aku marah!? Aku tidak cemburu!" Ucap Sagara sambil berjalan dengan tegap menunjukkan kalau dirinya tidak akan murka hanya karena hal kecil itu.
" Apa saya pernah bilang kalau anda sedang cemburu!?" Celetuk Ruka.
"Ternyata kak Sagara ini bisa cemburu juga, hahahaha..." Ruka mengejek Sagara, lalu berlari pergi jauh dari sana menghampiri Dea dan Bima yang sedang menyiapkan makan siang.
Sagara berdiri di tempat. Dia menatap mereka dengan tatapan kesal, entah kenapa dia merasa bimbang seperti ini. Padahal dia adalah suami Dea, tapi kenapa dia tidak bisa dekat dengan gadis itu seperti Bima mendekati Dea?
"Kenapa juga aku sibuk memikirkan ini!?" Batin Sagara yang segera menyadarkan dirinya kalau dia sedang tidak normal saat ini.
Sementara itu, para pelayan membantu nyonya muda mereka menyiapkan hidangan makan siang. Selain untuk kediaman utama, Dea juga menyiapkan menu bagi para pelayan.
Hal ini yang membuat para pelayan merasa sangat bahagia bersama nyonya muda mereka yang baik dan rendah hati. Tidak seperti nona besar pada umumnya, Dea selalu bersikap adil pada semua orang.
" Nyonya, saya khawatir tuan muda akan marah lagi pada anda soal taman itu," ucap Luhan.
" Benar nyonya, sebaiknya nyonya makan bersama kami saja. Tuan muda terlalu menyeramkan," ucap Siska lagi.
" Biar saya yang bicara pada tuan muda nyonya. Kami tidak ingin anda kena marah lagi," ucap Kevin.
Para pelayan yang lain juga mengangguk setuju. Membayangkan nyonya muda mereka disakiti oleh tuan muda yang keras kepala dan kejam, membuat mereka tidak bisa tenang.
" Kalian tenanglah, aku akan baik-baik saja, " ucap Dea sambil tersenyum menenangkan mereka.
__ADS_1
"Karena aku sudah punya cara untuk memberi dia pelajaran! Heheheh... Lihat saja nanti, kau akan ku buat menyesal!!" Batin Dea sambil tersenyum puas dengan rencana briliannya.
Para pelayan hanya bisa pasrah, entah situasi apa yang akan mereka lihat nanti di ruang makan, yang jelas mereka tidak akan tega melihat nyonya muda mereka di sakiti.
Hidangan makanan tertata rapi di atas meja makan mansion besar. Dea, Bima, Lin dan Barak sudah berkumpul di sana.
Para pelayan menata meja dengan rapi, sedangkan Ruka tampaknya tidak muncul sejak tadi.
" Kevin, Ruka di mana? Beberapa hari ini dia sering tidak kelihatan," tanya Dea.
" Ruka sedang ada tugas nyonya, nanti saya panggilkan," ucap Kevin.
" Hmm.. baiklah, dia itu sangat misterius, sangat jarang ada pelayan yang jago bela diri dan bisa bahasa asing, itu menakjubkan, kalian belajarlah dari Ruka!!' ucap Dea.
"Baik Nyonya!" Seru mereka dengan semangat.
Barak, Bima dan Lin saling melirik. Jelas saja Ruka sangat berbakat, dia adalah adik si gila Bima yang kecerdasannya juga sangat luar biasa.
" Apa kau menyukai Ruka?" Tanya Bima yang berdiri di samping Dea.
Gadis itu mengangguk," dia gadis baik!" Ucap Dea.
" Kau juga gadis baik!" Ucap Bima yang tanpa sengaja malah menggenggam tangan Dea yang sedang mengambil sendok.
Bima menggenggam tangan itu, menatap Dea sejenak dan lagi-lagi, jantungnya berdegup kencang.
Dea tersenyum dan menepuk tangan pria itu dengan lembut," tentu saja!" Ucapnya sambil menatap lembut ke arah Bima.
Bagaikan disetrum listrik, Bima terdiam membeku menatap keindahan d depan wajahnya.
Lin dan Barak sampai terkejut melihat ekspresi Bima yang tidak biasa. Tapi memang nyonya muda itu sangat menawan.
"Ekhmm... Sudah cukup pegangan tangan nya!" Suara bariton Sagara mengejutkan mereka.
" Mampus, tuan pasti marah!!" Batin Lin dan yang lainnya dengan wajah ketakutan.
Sontak Bima menarik tangannya, dan menatap kikuk ke arah Sagara yang menatapnya seolah ingin memakannya.
"Beraninya!!"
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗