Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 49


__ADS_3

"Kau… Apa kau memanggil pria lain di depan suamimu!?" celetuk Sagara sambil mengetuk kening gadis itu.


Dea terkesiap, "Eh… Maaf!!" ucap Dea dengan wajah gugup sambil mengusap air matanya.


“Sial, hampir saja aku berpikir kalau dia adalah Kak Gara. Tidak mungkin! Dia dan Kak Gara berbeda. Kak Gara tidak akan membuatku menangis. Dia ini hanya Sagara, hanya namanya saja yang sama!” batin gadis itu dengan wajah cemberut.


Melihat wajah Dea yang cemberut, membuat Sagara tertawa di dalam hatinya.


Jari-jarinya menyentuh pipi gadis itu dan mengusap air mata Dea, “Seperti apa sosok Gara yang kau sebutkan tadi? Dia pria yang kau cintai itu, kan?” tanya Sagara.


Mendengar pertanyaan Sagara, tentu saja membuat Dea sedikit gugup dan takut kalau pria itu sampai marah. Bahkan Lin, yang duduk di kursi depan, sampai terkejut dan tidak berhenti menatap mereka berdua dari kaca depan.


“Bisakah kau ceritakan orang seperti apa dia? Aku ingin tahu sosok pria yang membuat istriku memegang janjinya,” ucap Sagara.


Wajahnya tenang, tak ada mimik kemarahan di sana. Lin, yang sudah memperingatkan kalau tuannya akan marah, malah dibuat kaget dengan ekspresi dan tatapan penuh kasih sayang yang terpancar di wajah pria itu.


“Apa yang terjadi? Kenapa tuan muda sangat tenang? Seolah-olah hal ini bukanlah masalah besar. Nyonya memiliki seseorang yang beliau cintai. Bukankah tuan setidaknya merasa cemburu!?” batin Lin.


Pertanyaan besar terpatri di kepala pria itu. Sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Sagara. Sama halnya dengan Dea, cukup terkejut dirinya saat mendengar dari bibir Sagara kalau pria itu penasaran dengan sosok cinta pertama Dea.


“Jelaskanlah, supaya aku tahu cara mengejarmu!” ucap Sagara.


Dea terhenyak, “Dia mau mengejarku!? Tapi kenapa?” batin gadis itu. Berbagai pertanyaan melintas di kepala Dea. Belum lagi perjalanan masih jauh, Dea tidak tahu harus bagaimana.


“Tapi… Aku akan berbicara tentang seseorang yang kucintai. Apa kau tidak keberatan?” tanya Dea dengan wajah takut.


Sagara menggelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak. Aku cukup percaya diri kalau diriku lebih baik dari pria itu,” ucap Sagara dengan yakin.


Dea dan Lin tentu saja sama-sama kaget. Kepercayaan diri Sagara memang tak bisa dianggap main-main.

__ADS_1


“Baiklah, kau yang meminta!” ucap Dea.


Sagara mengangguk. Ia siap mendengarkan pendapat Dea tentang dirinya yang lama, tentang masa lalu mereka, dan segala hal tentang mereka.


“Pria itu memiliki nama yang sama denganmu, Sagara! Kesan pertemuan pertama kami cukup menggelikan. Saat itu aku adalah siswa pindahan, kami bertemu pertama kali di depan gerbang sekolah. Saat itu dia membawa banyak sekali makanan. Dia diejek oleh teman-temannya. Ketika kami berdiri di depan gerbang, dia menatapku dengan tatapan tajamnya sambil berkata, ‘Dasar sok cantik,’ hahaha…” Gadis itu tertawa sembari menjelaskan.


“Saat itu dia mendorongku sampai jatuh, lalu pergi begitu saja. Dia anak yang lucu. Aku memutuskan untuk berteman dengannya. Seluruh sekolah menghindari dan mengejeknya, bahkan di depan mataku sendiri aku melihat dia dipukuli,” jelas Dea.


“Tapi dengan berani aku menyelamatkannya saat dikurung di kamar mandi sekolah. Ternyata dia takut dengan tempat gelap dan sempit. Sejak kejadian itu kami berteman baik!”


“Dia juga bukan contoh anak yang baik kala itu.” ucap Dea.


“Bukan contoh anak yang baik bagaimana?” tanya Sagara.


Dea tertawa, “Dia sering berkelahi. Sebelum kami berteman baik, aku meniru perbuatannya karena kulihat setiap kali dia bertengkar, orangtuanya akan datang dan menjemputnya. Saat kucoba, ternyata tidak berhasil bagiku!” jelas Dea.


“Kenapa kau mencoba berkelahi?” tanya Sagara.


“Setelah berteman dengan Kak Gara, kami semakin dekat. Kami belajar bersama dan sama-sama menjadi juara kelas. Dia juga mulai berolahraga dan menjaga kesehatannya. Dia punya penyakit jantung, sulit baginya beraktivitas terlalu banyak.”


“Dia yang membuatku semangat menjalani hari-hariku. Dia yang menjagaku bahkan menyayangi ku tanpa tahu statusku sebagai anak bangsawan. Dia selalu tersenyum dengan lembut dan menepuk kepalaku seperti seorang kakak. Sejak saat itu, mungkin kedengarannya konyol tapi aku mencintai pria itu,” jelas Dea sambil tersenyum membayangkan wajah Sagara muda.


“Apa sebesar itu cintamu padanya?” tanya Sagara.


“Sangat besar. Sampai sekarang pun masih memikirkannya,” ucap Dea.


“Bagaimana kalau dia berubah? Bagaimana kalau dia tidak mencintaimu lagi?” tanya Sagara.


Dea menggelengkan kepalanya, “Dia tidak akan begitu. ‘Teddy bear’-ku adalah orang yang menepati janjinya. Aku percaya suatu saat kami akan bertemu lagi,” ucap Dea.

__ADS_1


“Bukankah kau bilang dia punya penyakit? Bagaimana kalau dia meninggal karena penyakitnya itu!?” tanya Sagara.


Pertanyaan itu langsung menampar perasaan Dea. Gadis itu terdiam, dia mencengkram lengannya sendiri. Kematian karena penyakit yang diderita Teddy Bearnya sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran Dea kalau penyakit itu akan merenggut nyawa Teddy Bearnya.


“Pe… Penyakit jantung, apa itu bisa merenggut nyawa seseorang dengan cepat? Ta…tapi dia sudah berobat, dia tak mungkin kan?” ucap Dea dengan suara bergetar.


Tentu saja, ia takut jika sosok pria yang dia cintai telah meninggalkan dirinya selamanya. Maka akan sia-sia penantiannya selama belasan tahun.


“Mungkin saja penyakit itu merenggut nyawanya,” ucap Sagara pelan.


Dea terdiam, dia tak bisa membantah. Hal ini jelas adalah sebuah fakta yang tak bisa dihindari.


"Dia tidak mungkin meninggalkanku sendirian. Aku menantikannya selama belasan tahun dan bahkan mencarinya hingga beberapa kali kembali ke sekolah itu, namun tidak menemukannya. Setelah keluar dari kediaman Eldrich, aku menikah denganmu dengan tujuan agar kau melepaskan aku karena aku sudah memiliki pria yang kucintai. Aku ingin mencarinya, tak mungkin semuanya sia-sia!" ucap Dea dengan mata berkaca-kaca.


"Dia tidak mungkin meninggalkan aku, Sagara. Dia tidak sejahat itu, dia... dia tidak mungkin!" tangis Dea semakin memuncak.


Membayangkan penantiannya menjadi sia-sia menjadikan pencariannya yang dilakukan bertahun-tahun menjadi percuma jika pria itu telah meninggal.


Tatapan mata Dea tidak dapat bohong, saat menceritakan Sagara muda, matanya berbinar-binar seperti orang yang sedang jatuh cinta.


Wajahnya mengatakan segalanya bahwa Sagara muda adalah bagian dari hidupnya. Momen yang mereka lewati bersama selama beberapa bulan menjadi dasar bagi Dea untuk menjalani hidup yang lebih baik.


"Apa kau sangat mencintainya?" tanya Sagara sambil menarik wajah Dea dan menatapnya.


Dea mengangguk, air mata bercucuran dari matanya. "Aku sangat mencintainya itu sebabnya, tolong lepaskan aku. Aku ingin mencarinya, kalaupun dia sudah pergi aku... aku ingin melihat makamnya. Itulah mengapa sebelumnya aku memintamu melepaskan aku," ucap Dea sambil menangis sesenggukan.


"Tidak!" Sagara menolak dengan keras.


"Tapi, tuan!?" Dea mencoba untuk memohon.

__ADS_1


"Aku menolak!" Sagara berpaling.


__ADS_2