
Sejak saat itu, Sagara dan Dea menjadi sahabat baik. Keduanya bermain bersama, dan Dea melindungi Sagara dari anak anak nakal yang terus mencoba mengganggu Sagara.
Suatu kali, Dea membela Sagara dan memukul semua anak yang merundung Sagara bahkan sampai melukai anak laki-laki itu dengan parah.
Keduanya sampai bolos sekolah dan berlari keluar dari sekolah itu setelah membuat beberapa siswa terluka.
Dea membawa Sagara berlari, meski terengah-engah dia terus mengejar Dea yang menuntun jalannya menuju sebuah taman bunga yang sangat luas. Letaknya tepat berada di bukit di belakang gedung sekolah itu.
"Teddy bear ayo cepat!!" teriak Dea yang sedang memetik bunga dan merangkainya dengan indah.
Sagara berlari dengan wajah lelah. Keringatnya sampai membasahi tubuhnya.
Pertemanannya dengan Dea telah memberikan motivasi baru bagi anak itu, Kualitas belajarnya semakin meningkat, rasa takutnya akan ruangan sempit perlahan berkurang dan gangguan kecemasannya serta pola hidupnya yang tidak sehat perlahan lahan berubah menuju arah normal.
Sagara dan Dea duduk di tengah tengah taman itu.
Dea memakaikan mahkota bunga pada dirinya dan juga Sagara. Sambil menatap indahnya langit biru keduanya tertawa bersama-sama.
"Teddy bear, nggak nyangka nilai kamu lebih tinggi dari aku!!" celetuk Dea yang bersandar di punggung Sagara.
" Heheh... kan pendekar kecil yang mengajari Teddy bear," ucap anak itu dengan senyuman manis di wajahnya.
"Dea mungkin tidak akan bisa menemani Gara lagi, Dea akan pergi untuk waktu yang sangat lama," ucap gadis itu dengan wajah sedih.
Sagara menatap Dea dan menggenggam tangannya dengan lembut," Apa tidak boleh kalau Dea bertahan di sini?" tanyanya.
Dea menggelengkan kepalanya sambil menangis," tidak boleh, Dea harus pergi hiks hiks hiks... Dea harus menurut pada Papa, Dea juga ingin tinggal tapi Papa akan marah," ucap gadis itu sambil menangis.
Sagara segera mengusap pipi Dea dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Teddy Bear akan menunggu pendekar kecil, saat kita sudah dewasa nanti, mari kita mencari satu sama lain, Aku pasti akan menemukanmu dan menikah denganmu!" ucap Sagara sambil menepuk pucuk kepala gadis itu.
" Janji !" seru Dea sambil menautkan jari mereka.
"Nanti kalau Teddy bear takut, gambar saja wajah jelek seperti ini, dia akan melindungi mu dari orang-orang jahat!!" ucap Dea sambil menggambar ekspresi mengejek di punggung tangan Sagara.
Sagara mengangguk, dia menepuk pucuk kepala gadis itu lagi," Tunggu aku pendekar kecil, aku akan menemukanmu !"
__ADS_1
Pertemuan itu, menjadi pertemuan terakhir mereka. Anak anak yang berkembang bersama-sama itu berhasil membuat seisi sekolah mereka terkejut dengan perkembangan nilai mereka yang pesat.
Sagara yang awalnya anak dengan nilai terendah bahkan tinggal kelas dan Dea yang awalnya menjadi pembuat masalah untuk mencari perhatian ayahnya, perlahan berubah menjadi dua siswa terunggul di sekolah itu.
Momen yang mereka habiskan hanya sampai satu semester, setelahnya, Dea pindah ke luar negeri dan hidup dalam pengasingan keluarga bangsawan Eldrich.
Sagara duduk di paviliunnya, dia menatap kertas kosong yang terletak di hadapannya.
Diambilnya kuas tinta lalu digambar nya ekspresi meledek, sama persis seperti yang diajarkan Dea padanya.
"Pendekar kecilku masih mencintai Teddy Bearnya, itu artinya aku harus berusaha membuatnya mencintai Teddy bear versi dewasa ini," ucap Sagara dengan wajah bahagia.
Saat dia asik bernostalgia dengan kenangan masa lalunya, Suara Barak dan Bima membuyarkan lamunannya.
" Wahh melamun saja kerjamu, tumben bro, ada apa!?' celetuk Barak sambil duduk lesehan di hadapan Sagara, sedangkan Bima duduk di jendela paviliun.
"Aku menemukan dia, dan dia masih mencari ku sampai saat ini!" ucap Sagara.
Bima dan Barak sontak menatap pria itu. Dengan wajah terkejut Bima mendekati Sagara," Sagara, apa yang kau maksud? apa ini berhubungan dengan wanita yang Ruka selidiki beberapa waktu lalu!?" celetuk pria itu.
Sagara menatap Bima " Apa Ruka memberitahukan hal itu padamu?" tanya Sagara dengan wajah sinis.
Melihat ekspresi Bima yang tampak berbinar-binar, membuat Barak menatap aneh pada rekannya itu.
"Tunggu dulu Bima!" ucap Barak sambil berdiri dan berkancah pinggang menatap pria itu.
"Kenapa kau tampak sangat senang!?" tanya Barak.
Bima terdiam," mampus aku, saat mendengar dia menemukan gadis yang dia cari, aku kelewat senang karena artinya aku punya kesempatan untuk mendapatkan Dea, tapi sepertinya aku salah langkah!" batin Bima.
" Heheh... te...tentu saja senang, dia sudah mencarinya dan akhirnya menemukan gadis itu, aku sebagai sahabatnya turut merasa senang!" ucap Bima sambil tertawa kikuk.
Sagara hanya menatap datar pada Bima," Lupakan imajinasi bodohmu itu Bima, " ucap Sagara sambil bangkit berdiri.
"Em... tunggu dulu, apa gadis yang kau cari itu...
"Ya, dia orang yang sangat kunanti, sangat ku cintai, apa kau puas?" tanya Sagara.
__ADS_1
" Yes!!" seru Bima dengan kencang.
Barak dan Sagara sampai terheran dengan ekspresi pria itu.
"Bima? " panggil Sagara.
Seketika pria itu terdiam," hehe... aku turut senang bro!" ucap Bima seraya menepuk bahu pria itu. Menyembunyikan bahwa dirinya merasa senang karena Sagara mungkin akan berpisah dengan Dea.
" Lalu bagaimana dengan Dea?" tanya Barak.
Sagara terdiam sejenak, dia menatap ke arah langit," Dea, tentu dia tidak akan ke mana-mana!" ucap Sagara sambil tersenyum.
Benar benar senyuman yang manis dan lembut sepanjang sejarah pria itu hidup.
Sagara pergi dari sana, tanpa mengatakan apa pun lagi. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kepala Bima dan Barak.
" Tunggu dulu, apa dia mau menikahi mereka berdua sekaligus!? yang benar saja!!" ucap Barak Tak percaya.
"Pria ini sama sekali tidak bisa ditebak isi kepalanya, dia hanya akan menyakiti Dea jika menduakan gadis itu!!" ucap Bima yang dibalas anggukan kepala oleh Barak.
"Kasihan sekali Dea, malang sekali nasibnya!" ucap Bima dengan wajah kecewa.
Padahal di dalam hati dia merasa sedikit senang karena melihat bahwa ada kesempatan baginya untuk mendekati Dea.
Puk!!
Tangan Barak menepuk bahu pria itu," Kau benar, tapi apa dirimu tidak terlalu perhatian pada istri orang? apa kau menyukai nyonya muda!?" tanya Barak dengan tatapan mengintimidasi.
Degh!!
Bima terdiam, dia tersenyum kikuk," ba.. bagaimana mungkin aku menyukai seorang gadis biasa, ti.. tidak mungkin, jangan asal bicara Barak, hahaha.. kau ada ada saja!" ucap Bima sambil berjalan menjauh dari dari hadapan pria itu.
Barak menatapnya sambil berkancah pinggang," kenapa orang-orang di mansion ini jadi aneh, mereka perlu konsultasi dengan dokter jiwa!" gumam Barak sambil geleng-geleng kepala.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗