
Sekretaris Lin bangun dari tidurnya. Dia diopname selama beberapa hari, syok dan serangan panik mendadak membuat sekujur tubuhnya lemah dan tak berdaya.
" Anna, kak Anna... Kak Anna!!" Pria itu terbangun sambil terengah-engah dengan nafas tidak beraturan.
Peluh membasahi tubuhnya, mimpi buruk kehilangan kakaknya berhasil membangunkannya dari tidurnya yang menyiksa.
Beberapa hari ini dia tak bisa ke mana-mana karena mengamati demam tinggi dan syok berkali-kali.
Lin menatap nanar kamar inap itu, " Kau bangun Lin, lama sekali kau tidur nya!" ucap Bima menghampiri Sekretaris Lin.
" Bima.. Aku harus mencari kakakku, aku tidak bisa hanya duduk diam di sini, aku harus mencarinya!!" ucap Sekretaris Lin sambil bangkit dari brankarnya.
Pakaian pasien itu sangat tidak cocok dengan perawakannya yang besar.
" Lin mau apa kau?!' suara tegas Sagara membuat pria itu menoleh.
Sagara berdiri di pintu masuk sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam pada pria itu.
" Tu-tuan muda, saya mau mencari kakak saya, ijinkan saya pergi, ijinkan saya mencarinya!!" ucap Lin.
Dia sangat mengkhawatirkan Anna, tak tenang hidupnya jika tidak melihat kakak kembarnya itu.
" Tidak boleh! Kau belum pulih, untuk apa kau mencarinya sekarang!?" ucap Sagara sambil masuk ke dalam ruangan itu dengan santai.
Mendengar jawaban Sagara, Lin terdiam dengan wajah pias.
Dia mengeraskan rahangnya, dia benar benar marah saat mendengar ucapan Sagara yang seolah tak peduli dengan Anna.
" Tuan, Anna di luar sana tanpa da yang menjaga, kakakku.. Aku harus bertemu kakakku!!! Bagaimana kalau dia terluka, bagaimana kalau dia sakit!!!" protes Sekretaris Lin.
" Tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin menentang anda hari ini tuan!" tegas Sekretaris Lin.
Sagara tersenyum tipis, dia menatap Lin,jelas sekali Lin sedang menahan dirinya di hadapan Sagara.
" Tidak perlu dicari, " ucap Sagara.
Lin semakin tidak terima, dia berdiri dan melepaskan jarum infus dengan paksa.
" SAYA HARUS MENCARINYA TUAAANN!!" teriak Lin tanpa harapan.
Suara nya bergetar, kesedihan di hatinya membuat nya semakin lemah tak berdaya apalagi Sagara tidak memberinya ijin.
"Ya sudah sana pergi cari sendiri, kakakmu sedang istirahat kau mau cari ke mana!? Bodoh!" ejek Sagara sembari bangkit berdiri lalu meninggalkan Sekretaris Lin di sana.
__ADS_1
"Saya akan mencarinya, mau dia sedang beristirahat, mau dia se.. Tu-tunggu dulu!!" Sekretaris Lin terdiam sambil menatap Sagara dan Bima.
"Apa kata tuan tadi Bima?" tanya Lin.
" Anna kembali!" ucap Bima sambil tersenyum dan menepuk bahu Lin dengan pelan.
Lin terdiam seribu bahasa, sekujur tubuhnya bergetar hebat, dia menatap Bima tak percaya.
Plakk!!
" Ini bukan mimpi kan!?" Ucap Lin setelah dia memukul kasar wajahnya sendiri..
" Kau pikir kami bermain-main? cepatlah kalau mau melihat Anna!" ucap Bima.
Sekretaris Lin tak bisa mengatakan apapun, dia berlari keluar dari kamarnya mengejar Sagara yang telah berjalan lebih dahulu.
" Tuuuaaannnn" teriak Lin .
Sagara tersenyum tipis sambil mengangkat tangannya dan menunjuk kamar Anna.
" Ke sana," ucapnya sambil tersenyum menatap Lin yang menangis seperti anak kecil.
Sekretaris Lin berlari sambil menangis, tidak peduli orang-orang menyebutnya sebagai orang dewasa cengeng yang aneh, dia berlari menuju kamar yang dimaksud Sagara.
Perasaannya campur aduk, tidak pernah dia membayangkan bahwa dirinya dan Anna akan kembali ke posisi ini, bertukar peran layaknya masa lalu.
Sekretaris Lin berdiri di hadapan pintu ruangan inap Anna.
Semalam, Barak dan kesatuan tim dokter terbaik di negeri itu diturunkan untuk menangani seluruh kondisi buruk yang dialami para korban. Terutama Anna yang kondisinya paling buruk di antara korban yang lain.
Tubuh Anna berubah drastis, kurus kering, lebam di mana-mana , luka tusukan di sekujur tubuhnya bahkan terjadi robekan ligamen di area kakinya.
Dokter mengatakan bahwa Anna akan membutuhkan waktu untuk memulihkan fisik dan juga mentalnya yang hancur selama enam bulan di dalam kurungan.
Pelecehan, kekerasan fisik maupun verbal yang dialami Anna akan berdampak besar bagi kehidupan gadis malang itu.
Keluarga harus siap sedia mengawasi dan mendukung penyembuhan Anna agar dia kembali seperti semula meskipun hal itu sangat sulit di lakukan.
Lin menatap pintu itu, dia tampak gugup, dibersihkan nya wajahnya yang sembab, di tariknya sudut bibirnya ke atas, memasang wajah tersenyum untuk menyambut kakaknya yang dia sayangi.
Dia mengintip dari kaca intip di pintu, ada Dea dan Amira yang sedang menemani Anna di sana. Tampak wajah kurus Anna begitu menyedihkan.
Degh!
__ADS_1
Mata Lin membulat sempurna, dadanya terasa sesak bahkan dia sulit bernafas saat melihat keadaan Anna saat ini.
“ ke-kenapa dia seperti itu Bima, tuan muda.. kakakku.. dulu dia tidak seperti itu, dia sangat cantik, tapi kenapa.. kenapa jadi seperti itu? apa yang terjadi padanya?” Lin berbalik dan menatap Sagara juga Bima dengan wajah khawatir.
“ Masuklah dahulu, Biar Barak yang menjelaskan kondisinya padamu nanti, dia mencarimu sejak bangun tidur!” titah Sagara dengan tegas.
Lin diam, dia mengangguk pelan lalu menarik nafas dalam dalam.
Di raihnya gagang pintu itu, lalu dibukanya pintu itu dengan perlahan.
“ Kak Anna...” ucapnya pelan.
Kedua netranya memerangkap Anna yang berubah total setelah diculik selama enam bulan. Tak bisa Lin pungkiri kalau dirinya syok dengan keadaan kakaknya yang seperti itu.
“lin..” lirih Anna sambil menatap adiknya, adik kembar yang begitu dia sayangi.
Lin yang melamun segera menyadarkan dirinya, dia memasang senyum getir, jelas sekali lengkungan bibirnya itu dipaksakan,” Kak Anna... Kak..” Lin tak kuasa menahan dirinya.
Dia segera menghampiri Anna dan memeluk gadis itu dengan erat.
“ Bagaimana keadaanmu? Kau baik baik saja? Kau tidak makan enak ya?” ucap Lin sambil memeluk kakaknya. Dia tak kuasa menahan tangisannya, Anna pun demikian, setengah kekuatannya berasal dari Lin.
Dia memeluk erat erat adiknya sambil menangis bahagia,” kau harus bawa aku makan enak , kau harus!” ucap Anna sambil menangis sesenggukan dalam pelukan adiknya.
Lin tak mengatakan apa apa lagi, dia hanya menangis dan memeluk kembarannya itu dengan hati yang hancur. Ketika dia melihat wajah sendu dan lemah itu, hatinya hancur berkeping-keping.
Kakaknya yang cantik, ceria dan sehat kini malah berubah menyedihkan seperti itu karena ulah Ivan Maxim.
Dea dan Amira keluar dari ruangan itu, memberikan waktu bagi keduanya untuk berbicara, memberikan waktu bagi Lin untuk menemani kakaknya .
Akhirnya anna kembali, meskipun dalam keadaan yang menyedihkan. Akhirnya Anna dan Lin bertemu setelah kejadian mengerikan itu.
“ Aku tidak akan membiarkanmu menderita kak, aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku,” ucap Lin sambil menangis.
Hartanya, kebanggaannya, saudaranya, tempatnya bergantung adalah Anna. Gadis yang selalu melindungi Lin sejak mereka kecil, sejak mereka dibuang orangtua mereka yang durhaka. Kini giliran Lin berdiri di depan kakaknya dan menjadi tameng bagi Anna untuk menghadapi kehidupannya yang akan datang.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1