
"Apa yang salah denganku?" tanya Sagara.
" sudahlah, nanti kita bicarakan, suruh mereka berdiri tegak, rasanya sangat canggung kalau terus begini," balas Dea dengan suara berbisik.
Sagara tahu, Dea bukan orang yang haus akan sanjungan atau penghormatan. Tentu saja sikap para karyawan ini membuatnya tak nyaman.
"Kalian berdirilah dengan tegak, bersikaplah dengan normal!" ucap Sagara.
" Te.. terimakasih tuan!" balas mereka semua.
" Lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Sagara.
Para karyawan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Tentu saja mereka semua penasaran, bagaimana bisa seorang tuan muda yang selama ini disebut pangeran kegelapan tampak memilik sedikit aura kemanusiaan di dalam dirinya.
Sagara dan Dea bersama Lin dan anak buah yang mengikuti mereka berjalan menuju eskalator bukan menggunakan lift. Dalam perusahaan ini, lift justru khusus digunakan oleh para karyawan.
Sagara memantau semua pekerjaan menggunakan eskalator, para karyawan tampak fokus dengan pekerjaan mereka seperti biasanya.
Setiap lantai mereka naiki dengan menggunakan eskalator, berjalan hingga lantai tertinggi sampai membuat kaki Dea sedikit tidak nyaman karena terlalu lama berdiri menggunakan high heels.
"Ahh... seharusnya aku pakai sepatu flat saja tadi kalau kita naik eskalator begini," gumam Dea sambil melepaskan sepatunya yang runcing. Rasanya sakit dan tak nyaman.
" Hufftt lebih nyaman seperti ini!" Dea bernafas lega sambil tersenyum manis.
Melihat kaki istrinya yang kemerahan membuat Sagara merasa bersalah," maafkan aku, seharusnya kau naik lift saja tadi," ucap Sagara.
" Mm? bisa naik lift? kenapa kita tidak naik lift dari tadi!?" tanya gadis itu heran.
Sagara hanya diam, dia memperhatikan ujung jari jari kaki istrinya yang hampir lecet.
"Apa kau masih kuat berjalan?" tanya Sagara.
" Masih, sangat kuat setelah ku lepas sepatu ini, memang sepatunya yang tidak nyaman, tak masalah!" ucap Dea.
"Tetapi ini akan jadi masalah bagiku!" ucapnya sambil menatap mata Dea.
" Lin ambilkan sendal di ruanganku!" ucap Sagara.
" Baik tuan!" balas pria itu sambil bergegas menuju lift untuk mengambil alas kaki bagi Dea.
" Kita tiba di departemen produksi, istirahat sebentar di sini sambil menunggu Lin membawakan sendal untukmu, aku akan memeriksa pekerjaan mereka dulu!" ucap Sagara sembari merangkul Dea memasuki ruangan departemen produksi.
"Baiklah, lakukan pekerjaan mu. aku boleh lihat lihat kan?" tanya Dea.
Sagara mengangguk seraya menepuk pucuk kepala Dea," jangan terlalu jauh, kau belum kenal siapa pun di sini, takutnya ada bahaya!" ucap Sagara.
__ADS_1
Dea memiringkan kepalanya," memangnya bahaya apa yang ada di perusahaan mu sendiri, pasti mereka semua adalah orang orangmu," ucap Dea heran.
Sagara hanya mengangkat bahu nya," ku harap semuanya murni orang-orang ku, kau jelas ingat kejadian keracunan di mansion, aku cepat belajar dari pengalaman!" tukas Sagara.
Dea mengangguk setuju, " baiklah aku paham, aku hanya ingin melihat lihat sekitar sini saja," ucap Dea.
Sagara setuju, sembari dia memeriksa langsung pekerjaan karyawannya, Dea berkeliling area produksi itu sambil menatap semua hasil rancangan yang akan segera diluncurkan itu.
Dia menatap gambar produk produk kesehatan dan aplikasi yang dirancang oleh Sagara dan timnya, sangat menakjubkan dan membuat Dea termotivasi untuk bisa lebih baik dalam karirnya.
"Semuanya serba Teknologi!" gumam Dea.
" Kak Gara juga kan suka bermain komputer, dia bahkan bisa menciptakan aplikasi, seandainya dia bekerja dengan pria itu, mereka pasti akan jadi partner yang hebat!" batin Dea.
Semuanya tampak menakjubkan, membuat gadis itu terinspirasi untuk rencana bisnisnya di masa depan.
Dengan bertelanjang kaki, Dea melihat lihat area kerja tim produksi. Semuanya tampak sangat serius dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Nyonya, ini Sendalnya," Sekretaris Lin menghampiri Dea dan memberikan sendal milik Sagara pada gadis itu.
" Terimakasih Lin!" balas Dea dengan senyuman manis nan mempesona.
Cekrek!
Suara jepretan kamera terdengar di telinga gadis itu. Sontak dia menoleh ke arah para karyawan yang sedang asik bekerja dengan komputer mereka.
" Saya tidak dengar apa apa nyonya," ucap Lin.
"Benarkah? apa aku salah dengar ya?" pikir Dea sambil menatap ke arah barisan bangku para karyawan.
Dea menggidikkan bahunya, dia melanjutkan aktivitasnya.
Gadis itu berjalan dengan penuh semangat dan aura positif nya membuat orang-orang yang melihatnya merasa damai.
Dea menatap suaminya, pria yang disebutnya monster jahat tak punya hati.
Sagara sedang berdiskusi dengan tim kreatif bagian produksi di meja kerja paling depan.
Pembicaraan mereka tampak sangat serius, bahkan Sagara sepertinya sedang menghadapi masalah dengan produk yang mereka kembangkan.
" Serius sekali, apa ada masalah?" gumam Dea.
" Tuan muda dan tim kreatif sedang mendiskusikan malfungsi yang tiba tiba muncul saat jam tangan itu digunakan nyonya, kami harus mengadakan uji coba sebelum benar benar di rilis, " jelas Lin.
" Memangnya produk ini digunakan untuk apa?" tanya Dea.
__ADS_1
"Apa nyonya tertarik untuk mendengar? ini mungkin sedikit membosankan," ucap Lin.
" Bagaimana mungkin bisnis membosankan Lin? apa kau pikir aku tidak tertarik dengan bisnis?" tanya Dea.
" Ahh maaf nyonya, saya salah," ucap Lin.
Dea mengangguk," coba jelaskan padaku," ucap Dea.
" Produk ini digunakan untuk memantau kesehatan pasangan, berbagai fungsi di dalamnya dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak," jelas Lin.
" Selain memantau kesehatan yang menunjukkan grafik tekanan darah, detak jantung dan suhu tubuh, gelang ini juga dirancang sebagai alat komunikasi antar pasangan, sebagai pelacak dan berbagai fungsi lainnya yang bisa dihubungkan dengan telepon seluler pemakai, selain itu juga menggunakan sistem baterai panel Surya, yang memanfaatkan tenaga Matahari," jelas Lin.
"Wahh.. ini hebat!" ucap Dea sambil menatap ke arah tim suaminya.
"Ini sangat cocok di sebut sebagai jam tangan romantis, karena bisa mengetahui keadaan pasangan masing-masing!" ucap Dea.
" Anda benar nyonya, sebelumnya aplikasi yang diciptakan tuan Lee akan ditanamkan dalam jam ini, tetapi karena masalah...." Sekretaris Lin terdiam saat dia keceplosan akan masalah dengan perusahaan tuan Lee.
" Masalah apa Lin?" tanya Dea.
" Bu.. bukan apa-apa nyonya, mari saya antar ke.. ke tempat lain!!" ucap Lin dengan wajah gugup.
" Jelaskan! apa produksi nya terhambat karena kejadian di pesta waktu itu!?" tanya Dea dengan wajah kaget.
" Eh.. nyo..nyonya, tidak ada hubungannya!!" ucap Lin dengan wajah gugup
"Apanya yang tidak ada hubungan Sekretaris Lin," manager tim produksi bagian 1 menghampiri mereka. Seorang gadis berkacamata dengan tubuh tinggi semampai menghampiri mereka.
Raut Wajah Sekretaris Lin langsung berubah, seolah dia sedang menatap musuh bebuyutannya.
" Salam kenal nyonya, Saya Anna, manager tim produksi bagian 1, saya melihat kejadian yang menimpa anda di pesta tuan Lee, namun karena kejadian itu tuan Sagara membatalkan kesepakatan dengan grup tuan Lee, dan menyebabkan jam tangan yang sudah di rancang oleh tuan gagal dirilis," jelas Anna dengan nada nya yang dingin.
" Lin, kenapa kau tidak bilang padaku!? " Dea menatap Lin dengan wajah terkejut.
" i.. itu, tuan muda meminta saya merahasiakannya dari anda nyonya, tuan takut anda khawatir dan menyalahkan diri anda!" jelas Lin.
" Lalu apa yang terjadi? produksinya bagaimana!?" tanya Dea merasa bersalah.
" Beruntung kita memiliki Presdir yang sangat kompeten, selama dua hari, tuan muda berhasil membangun aplikasi yang sudah lama dia rancang dan kini produk jam tangan ini terselamatkan, "
"Nyonya anda sangat beruntung, tuan begitu memperhatikan anda, saya tidak pernah melihat tuan begitu perhatian pada seorang gadis, ke depannya saya harap anda lebih berhati-hati dalam bertindak!" ucap Anna seraya menepuk bahu gadis itu dengan lembut sebagai peringatan keras untuk Dea.
"Anna jaga sikapmu terhadap nyonya!" senggak Sekretaris Lin.
Anna merotasikan kedua bola matanya," Jangan ikut campur otak udang!!" balas gadis itu dengan ketus.
__ADS_1
"Ka.. kau!! awas kau nanti! tunggu balasannya!" Lin berdecak kesal.