
Sagara kembali ke bangsal istrinya sambil berjalan dengan pelan membawa beberapa cemilan ke kamar istrinya bersama Yonatan yang berjalan dengan wajah masam.
Dia diomeli habis habisan oleh ibunya dan juga tuan Mauereer, bahkan dilarang kembali ke negara tempat dia bersembunyi selama ini sampai Amira melahirkan.
“ Apa kau baik baik saja?” tanya Sagara seraya melirik yonatan.
“ Sejujurnya aku ketakutan setengah mati kalau sampai Mama dan kalian semua menolak Amira, betapa kasihan dia, aku takut dia tertekan dan malah mempengaruhi kehamilannya,” cerocos Yonatan.
Semua yang dia pikirkan saat ini adalah tentang kenyamanan istrinya, dia berharap agar Amira tidak tertekan sama sekali karena pernikahan itu dan juga karena keluarganya.
Tapi ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi sama sekali. Nyonya Maureer, Ayahnya dan saudara saudaranya justru marah pada Yonatan karena menyembunyikan status pernikahannya dengan Amira dan tidak segera melaporkan kejadian sebenarnya pada mereka.
“ Tapi Papa dan Mama justru mengomelimu karena kau menyembunyikan semuanya dari keluarga,” ucap Sagara.
Yonatan mengangguk, “ Aku tidak pernah bepikir kalau suatu saat aku akan sampai pada tahap ini, membawa seorang istri yang sedang mengandung anakku ke hadapan keluarga, dan hasilnya aku dimarahi habis habisan karena tidak membawa istriku untuk pernikahan yang layak,” ucap Yonatan sambil tertawa.
Sagara menepuk pundak saudaranya,” orangtua kita tidak mempermasalahkan hal itu, mereka sudah lebih baik sekarang,” ungkap Sagara.
Yonatan menatap saudaranya itu dan membalas tepukan sagara,” Kau juga hebat sekarang, punya istri yang bisa mengendalikan dan mengubah tempramen burukmu itu, hubungan kalian juga cepat sekali berkembangnya,” ucap Yonatan.
“ Hubungan kami sudah dimulai belasan tahun yang lalu kak, Dea adalah seseorang yang membuatku berhasil menjadi sesukses ini,” ucap Sagara dnegan penuh kebanggan.
“ tunggu dulu, apa dia gadis remaja yang menemani masa kecilmu? Yang sering kau ceritakan padaku dulu?” tanya Yonatan terkejut.
Sagara mengangguk, “ benar kak, aku sudah menemukannya, separuh hidupku,” ucap Sagara sambil membuka pintu bangsal.
Yonatan sangat terkejut, benang merah Sagara dan Dea tidak terputus dan berlanjut hingga mereka dewasa. Takdir memang tidak bisa ditebak, jodoh tak bisa dirancang sendiri.
Kedua pria itu memasuki bangsal Dea, tampak nyonya Maureer dan tuan Maureer tengah berbicara dengan kedua menantunya.
Nyonya Maureer menggenggam tangan Amira dengan lembut,” kalian bersabarlah dengan sikap buruk anak anak tengil itu, hah.. kasihan sekali kalian bertemu jodoh seperti mereka, selain tempramennya buruk, dirinya sendiri pun tak bisa diurus,” celetuk nyonya Maureer yang tak pernah mendukung sifat buruk anak anaknya.
“ Ma... sudah takdir kami mendapat jodoh seperti mereka, Mama jangan mengkhawatirkan Sagara, dia pasti akan lebih baik lagi, aku akan menghajarnya kalau dia berani macam macam pada kalian lagi!” celetuk Dea sambil tersenyum ceria.
__ADS_1
“ hahahhaa... menantuku memang hebat, kau bahkan bisa menaklukkan monster menyeramkan itu, Papa saja sampai angkat tangan!” balas tuan Maureer.
“ Hooohhhhh.... sedang membicarkan aku ya?” Sagara memeluk istrinya dari belakang seraya mengecup kening perempuan itu di depan semuanya,” aku sudah ditaklukkan oleh gadis ini, mana berani aku berkutik ,” ucap Sagara sambil tersenyum manis.
“ dasar banyak omong!” celetuk Dea sambil menepuk lengan suaminya.
“Nona... apa dia tuan Sagara yang dibicarakan itu?” tanya Amira.
“tapi bukankah kata para pelayan kalau wajahnya berkeriput, punya gigi mancung dan hidungnya rata, lalu berjerawat dan buruk rupa?” tanya Amira dengan polosnya sambil menatap Sagara dengan wajah penasaran.
“Prffhhttt bwahahhaaa...” Dea tertawa terbahak bahak begitu juga dengan yang lain.
“ Amira, saat pertama kali ke tempat ini, aku juga bertanya tanya ke mana monster jahat buruk rupa yang dibicarakan pelayan itu, tapi yang kutemukan di sini adalah pria tampan yang ternyata adalah suamiku, hahahaa... saat itu ku pikir dia adalah pengawal!” ucap Dea sambil tertawa terbahak bahak mengingat kembali kejadian saat pertama kali dia dan Sagara bertemu.
Semua yang mendengar cerita Dea tertawa. Amira menatap nona muda yang dulu dia layani itu kini benar benar telah bebas dari sangkarnya, menemukan kebahagiaannya dan hidup seperti keinginannya selama ini.
Amira hanya bisa tersenyum getir, dia sadar posisinya hanya seorang pelayan rendah yang secara tidak sengaja menghabiskan malam dengan seorang tuan muda dari keluarga terhebat.
Amira sadar kalau dirinya sewaktu waktu bisa dicampakkan, dia mengusap perutnya,” apakah setelah melahirkanmu, Mama akan dibuang nak? Sepertinya Mama hanya bisa berharap pada takdir,” batin Amira dengan tatapan sendu di kedua pelupuk matanya.
Membayangkannya saja sudah membuat Amira merasa sangat sakit. Rasa nya cemburu melihat kehidupan bahagia yang didapatkan nona mudanya setelah keluar dari kediaman bangsawan Eldrich.
“ Amira, tidak boleh begitu, kau harus tahu berterimakasih, jangan berharap terlalu banyak, hanya bebas dari rumah itu saja kau sudah beruntung, jangan bersedih, bayi akan sedih juga nanti,” batin Amira seraya menggelengkan kepalanya.
“ Ada apa denganmu? Apa kau sakit? Pusing? Mual atau tidak enak badan?” Yonatan langsung duduk di samping Amira, merangkul dan menatapnya dengan penuh perhatian sampai membuat seluruh keluarga melongo dengan perhatian pria paling cuek sedunia itu.
“ Saya sedikit kedinginan tuan,” jawab Amira yang memang merasa kurang nyaman.
“ Astaga kenapa kau menahannya Amira, Kak bawa dia ke kamar kalian, Kevin sudah menyiapkan kamar yang hangat khusus untuk kalian, apalagi Amira sedang mengandung, cepat sana bawa dia ke kamar, jangan berlama lama,” ucap Dea yang langsung sibuk memasang jaket dan syal hangat untuk Amira.
“ Kalau tidak nyaman katakan Amira, jangan menahannya, kau sudah bebas sekarang, kau tidak terikat ,” ucap Dea yang paham dengan risalah hati sahabatnya itu.
“ Maaf membuat Anda khawatir nona,” ucap Amira .
__ADS_1
“ jangan panggil aku nona, kau bukan pelayan lagi, sejak dulu juga aku sudah memintamu mengubah panggilanmu! Kau adalah kakak ipar ku sekarang, jadi menurut dan ikutlah suamimu beristirahat,” omel Dea seraya menepuk kedua pipi Amira dengan lembut.
Air mata Amira lolos begitu saja, sejak dia hamil dia menjadi lebih sentimental dan mudah menangis.
“ Husshhh jangan menangis, kami ada di sini untukmu, kami keluargamu, kau punya keluarga besar Amira..” hibur Dea sambil tersenyum menguatkan wanita itu.
“ terimakasih Dea..” ucap Amira.
“ Sudah sana cepat ke kamar, di sini sedikit dingin” ucap Dea.
“ Aku akan membawanya beristirahat dulu,” ucap Yonatan yang dibalas anggukan kepala oleh mereka smeua.
Yoantan merangkul istrinya menuju kamar, berjalan perlahan lahan agar tak membuat Amira lelah.
“ Dia pasti merasa tertekan,” ucap Dea sambil menatap punggung Amira.
“ Orang seperti apa kakak ipar kita sayang?” tanya Sagara yang memeluk Dea dari belakang.
Dea mengusap lengan suaminya,” Orang yang selalu berkorban dan diam ketika dirinya tidak nyaman, dia selalu menahan semuanya, tidak banyak permintaan, tidak banyak bicara, patuh dan tahu cara mengendalikan ekspresinya,” ujar Dea.
“ kita harus membuatnya merasa bebas, dia berhak untuk hidup bahagia, dia berhak memiliki keluarga yang sebenarnya, “ ucap Dea.
“ Bagaimana dengan orangtuanya? “ tanya Lucy penasaran.
Dea menggelengkan kepalanya,” Dia anak yatim piatu yang dibawa mendiang kakek ke rumah bersama ibu angkatnya, ibunya pergi meninggalkannya di kediaman Eldrich sebagai penebus utang, dia terikat dengan keluarga Eldrich tanpa bisa memprotes,” tutur Dea.
“ tapi dia perempuan yang kuat, dia layak mendapatkan banyak perhatian,” ucap nyonya Maureer yang dibalaskan dengan anggukan setuju oleh semua yang ada di sana.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen