
Seperti yang telah direncanakan jauh jauh hari. Sagara berangkat hari ini menuju negara luar di mana dia akan mendapatkan perawatan intensif untuk penyakitnya.
Setelah mengundur waktu keberangkatan hingga beberapa kali, akhirnya Sagara harus benar benar berangkat.
Semua anggota keluarga bahkan seisi Mansion mengantarkan kepergian tuan muda Sagara pemilik mansion Tulip.
"Sayang aku pergi ya," ucap Sagara sambil menatap kedua netra istrinya dengan lembut dan memeluk tubuh Dea dengan erat.
Berat sekali rasanya ketika dia harus membuat keputusan ini. Dia ingin pergi ke negeri lain selama bertahun-tahun dan sembuh tanpa harus membuat istrinya takut.
Sagara tidak akan sanggup mengikuti serangkaian pengobatan jika dia melihat istrinya di sekitarnya. Rasa takut, bersalah dan keberanian nya akan hancur ketika melihat wajah Dea yang sedih karena keadaannya.
Oleh karena itu, Sagara menolak membawa dan melibatkan Dea dalam pengobatannya. Bukannya sembuh, Sagara malah akan semakin hancur dan mungkin mati dalam waktu yang cepat.
Diam diam Dea mengetahui semua ini. Dia telah memahami sepenuhnya karakter suaminya, padahal hatinya berat melepaskan Sagara ke negeri orang untuk berjuang sendirian di sana.
Namun jika Dea bersikeras untuk ikut, kesehatan Sagara tidak akan kunjung membaik.
"Kak Gara..." Lirih Dea sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Sagara.
Air matanya mengalir begitu deras, dia menatap suaminya sambil menangis sesenggukan. Sagara hanya mengatakan kalau dia akan menjalani operasi jantung, tetapi Dea tahu Sagara akan menjalani rehabilitasi sekaligus pengobatan intensif untuk kanker yang dia derita.
"Jangan menangis, aku pasti akan kembali," ucap Sagara sembari mengusap air mata istrinya.
Jujur saja, rasanya sangat singkat mereka bertemu kembali. Momen yang mereka lewati juga singkat, dan kini waktu kembali menguji hati mereka. Setelah belasan tahun saling mencari, mereka dipertemukan tetapi harus berpisah lagi selama beberapa tahun.
Kesetiaan, cinta, kejujuran dan kesabaran mereka benar benar diuji oleh sang langit.
"Dea, aku pasti akan kembali, aku berjanji, aku pasti akan datang dengan keadaan yang lebih baik, dan hidup sampai tua bersamamu, " ucap Sagara seraya membelai lembut pucuk kepala istrinya.
Dea mengangguk,"aku yakin, hiks hiks hiks... Aku yakin kakak akan kembali, Kita sudah berpisah belasan tahun, diuji beberapa tahun lagi pun aku akan tetap setia menunggumu sampai semua baik baik saja!" ucap Dea dengan yakin.
Sagara mengecup kening istrinya dan kemudian mengecup bibir Dea dengan lembut sambil terus menatapnya.
"Tunggu aku. tak perlu khawatir, aku pasti akan kembali!" ucap Sagara.
Dea mengeluar sesuatu dari kantongnya, sebuah kalung dengan liontin unik bergambar karakter monster pengejek persis seperti kenangan masa kecil mereka.
"Ingat sayang, aku selalu di sisimu, aku akan menunggumu, kalau kau takut, lihat saja kalung ini, rasa takut dan penyakitmu akan hilang semua!" ucap Dea dengan nada bersemangat.
" Haha... baiklah, akan kuingat baik baik! " ucap Sagara.
__ADS_1
Pria itu juga mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya, sebuah gelang dengan hiasan karakter jahat seperti di mata kalung Sagara.
" Monster jahat akan melindungi mu, aku selalu bersamamu sayang, " ucap Sagar memasangkan benda itu di tangan Dea.
Keduanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Semua yang ada di sana menyaksikan mereka dan menatap mereka dengan penuh haru.
Sagara akan berangkat bersama dokter Arthur, Dokter Barak, Sekretaris Lin dan Bima dengan menggunakan pesawat pribadi Sagara.
"Tuan muda, sudah waktunya," ucap Sekretaris Lin.
Dea menatap Suaminya begitu mendengar ucapan Lin. Dia tersenyum begitu lebar," Aku akan menunggumu, Pergilah sayang, aku akan menunggumu!!" ucap Dea sambil tersenyum manis, memberikan semangat dan dukungan penuh pada suaminya.
"Aku..." Sagara menggenggam tangan Dea erat-erat. Berat sekali rasanya ketika dia harus meninggalkan istrinya sendirian.
"Aku pergi Sayang, " ucap Sagara sambil menunduk dengan perasaan takut. Takut jika ini akan menjadi pertemuan terakhir nya dengan sang istri.
Dea tahu beban di hati Sagara, pria itu tidak akan mengatakannya.
Dea memeluk erat suaminya sekali lagi," Aku percaya padamu, aku akan menunggumu, tenang sayang, orang orang di sekitarku pasti akan menjagaku, keluargamu pasti akan menjagaku, giliranmu berperang melawan penyakitmu, kau bisa, kau pasti bisa demi keluarga kecil kita!" ucap Dea.
"Kami akan menunggumu pulang, kami akan menyambutmu !" bisik Dea.
Sagara menitikkan air matanya, dia memeluk erat istrinya sambil menahan tangisannya.
"Aku juga sayang, aku sangat mencintaimu, baik itu dulu, sekarang ataupun nanti!' ucap Dea.
Akhirnya Sagara berangkat. Perpisahan kali ini sangat mengganggu perasaan pasangan itu. Rasa takut, sedih dan khawatir menggerogoti pikiran mereka.
Siapa yang tahu apakah perpisahan Nini menjadi yang terakhir? siapa yang bisa menebak takdir.
"Sampai jumpa kak Gara!! semangat!!" teriak Dea sambil melambai.
" Sampai jumpa Tuan muda!!!" seru para pelayan sambil.menangis haru.
"Sampai jumpa Adik keempat, kami akan menjaga adik ipar, kau tenang saja!!" teriak Mike sambil melambai.
Sagara melambaikan tangannya sambil tersenyum dan melangkah menjauh.
"Nak tenang saja, Papa dan Mama akan menjaga istrimu!" seru tuan Maureer.
Nyonya Maurer dan Lucy langsung merangkul Dea, menatap kepergian Sagara .
__ADS_1
Dea menatap punggung suaminya hingga Sagara tak lagi tampak.
Dea menatap pria itu sambil menitikkan air mata," Kami menunggumu sayang, anakmu menunggumu, aku percaya kau akan kembali dan melihat anak kita.. aku percaya kau akan datang, kami menantikannya, sangat menantikan mu!" batin Dea seraya mengusap perutnya.
Dua hari yang lalu, Dea mengetahui dirinya tengah mengandung anak pertamanya dengan Sagara.
Betapa baiknya Tuhan, ketika Sagara pergi, dia dititipkan janin yang akan menemaninya menunggu kedatangan suaminya.
Kandungan Dea baru menjalani tiga Minggu, keluarga kecilnya begitu diberkati.
Dea tidak memberitahu kabar kehamilan ini agar Sagara tak ragu untuk pergi.Jika Sagara tahu istrinya sedang hamil, maka dia tidak akan mau menjalani rehabilitasi dan pengobatan.
Keputusan yang diambil Dea sangat berat. Namun imannya sangat kuat dan yakin kalau suaminya akan kembali ke keluarga kecil mereka.
" Nak, jadilah sosok sekuat Papa, lihat punggungnya yang kokoh itu, sekalipun hatinya kacau, dia tetap menunjukkan sisi dirinya sebagai seorang pria sejati!" ucap Dea di dalam hatinya.
Dia begitu bersyukur, semua telah dirancang dengan baik oleh sang Pencipta.Hanya butuh kesabaran ekstra untuk bertarung dengan waktu.
" Lima atau enam tahun tak masalah, kota bisa mengunjungi Papa diam-diam, serahkan pada Mama!" batin Dea.
Pesawat yang membawa Sagara kini telah lepas landas. Seluruh keluarga mendoakan yang terbaik bagi Sagara. Meski tak tahu pasti tempat tujuan Sagara, mereka yakin Sagara akan kembali.
" Dia anak yang kuat, dia pasti akan kembali nak, Papa dan Mama akan menjagamu di sini!" ucap nyonya Maureer.
Dea memeluk ibu mertuanya, sosok perempuan Yang sangat menyayangi nya bahkan memperlakukan dia dan Amira seperti anak kandungnya sendiri.
"Dea yakin Ma, Kak Gara pasti akan kembali," ucap Dea.
Di seberang sana, tampak beberapa pria misterius tengah berdiri di kejauhan seolah tengah mengawasi mereka semua.
" Baru saja berangkat tuan, " ucap salah satu pria itu melalui sambungan telepon.
"Lanjutkan Misi!" balas seseorang dari seberang sana.
" Baik Tuan!" balas mereka.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗