Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
S2 Mas Adam


__ADS_3

Seperti yang telah disepakati oleh Adam dan Karina, kedua sejoli itu mulai hari ini tinggal bersama di apartemen Adam dengan status sebagai tunangan yang akan menikah dalam waktu dekat.


Sebenarnya, cara ini adalah solusi yang diusulkan oleh Sagara agara hubungan kakaknya yang keras kepala semakin dekat dengan calon kakak iparnya.


Dia lebih tahu dari siapapun tentang sifat kakak keduanya yang keras dan tak berperasaan. Mereka sejak kecil memang di didik menjadi anak yang tegas dan terkesan kaku. Namun sejak kehadiran cinta dalam hidup mereka, semua berubah.


Terutama Sagara, dia benar benar berubah dari dirinya yang dulu hingga menjadi seorang suami dan ayah yang begitu perhatian pada keluarga kecilnya.


Mereka berharap Adam akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Jika tidak dijodohkan, Adam pasti akan memilih untuk menikah dengan pekerjaannya.


“ Kalian berdua, hiduplah bersama dengan baik,”


“ Belajar saling memahami satu sama lain dan juga belajar untuk mengenal lebih dekat, karena kalian akan bersama sampai waktu yang tidak ditentukan!” ucap nyonya Maureer di hadapan Karina dan Adam yang berdiri di depan apartemen Adam.


“ Mama tidak akan mengantarkan kalian sampai ke dalam, masih banyak urusan, ketiga cucu Mama mau diajak jalan-jalan!” celetuk nyonya Maureer sambil tersenyum.


“ Ma... singgah sebentar, Mama dan Papa kan jarang datang ke apartemen Adam,” pinta pria itu.


Sejujurnya dia merasa canggung karena untuk pertama kali dia membawa seorang gadis untuk tinggal bersamanya di apartemen itu.


Selain urusan kerja, dia tidak akan mengijinkan siapapun datang tanpa perintah nya.


Tentu bukan hal yang mudah baginya untuk menyesuaikan diri apalagi yang dia bawa adalah seorang gadis desa yang pastinya tidak tahu apa-apa.


“ Maaf anakku, Mama tidak mau melihat apartemen mu yang seperti bengkel itu, semua isinya hanya tentang pekerjaanmu, membosankan!” ucap nyonya Maureer.


“Benar Adam, lebih baik kami menemani cucu cucu kami daripada harus stress melihat rumahmu yang sudah seperti toko miniatur barang itu,” imbuh tuan Maureer.


“ Tapi, Pa Ma, itu semua anak-anakku, berkat mereka aku berhasil!” ucap Adam tak terima barang kesayangannya diejek,


“ Itu kan, ckckckck...” Tuan Maurer geleng-geleng kepala melihat putranya.


“ Miniatur miniatur itu kau sebut sebagai anakmu? Kau sepertinya sudah benar benar gila Adam.” Celetuk Tuan Maureer.


“ Nak Karina, kau harus bersabar menghadapi bocah ini, Papa harap saat kami berkunjung suatu saat nanti, rumah ini sudah berubah, tidak diisi dengan anak anaknya yang tidak jelas itu tapi diisi dengan anak-anak kalian!” ucap tuan Maureer.


“ Eh... i—itu.. pa.. paman Karina..” Gadis itu tampak gugup.


Melihat ada kesempatan menggoda Karina, Adam langsung merangkul bahu gadis itu,” hahaha... baiklah, punya anak kan?” Adam menaikturunkan alisnya.


“ kami akan segera punya anak yang sangat banyak, sekali lahir langsung sepuluh!!!” ucap Adam.


“ ehh ta-tapi om Adam, Karina hanya bisa melahirkan satu anak, kalau dikasih kembar mungkin saja tapi kalau sepuluh, bukankah Karina akan seperti kucing? “ celetuk gadis itu dengan polosnya.


“pffthhh...”

__ADS_1


Tuan dan Nyonya Maureer tertawa , calon menantu mereka benar benar cocok dipasangkan dengan Adam yang berwatak keras.


“ kami nantikan Adam, semoga dapat sepuluh anak! “


“ Wahh harus berapa kali bikin adonan ya!!” celetuk tuan Maurer sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda putranya yang memulai semua candaan ini.


“ paa!!!”


“ Adam bercanda!!” teriak pria itu.


Tuan Maureer dan istrinya tertawa,” kami nantikan nak, bawa sepuluh cucu untuk kami, sekaligus hahahahaha....”


“ kami pergi dulu!” mereka berdua melambaikan tangan sambil mengedipkan mata pada Adam yang terjebak dengan kata katanya sendiri.


Aam tak habis pikir, dia tidak pernah bisa kalah berdebat dengan kedua orang itu.


“ Ahhh apa apaan ini?” kesal Adam sambil memijit pelipisnya.


“Om Adam, apa kita benar benar harus bikin sepuluh anak sekaligus?” Karina menatap adam dengan serius sambil menghitung jari jarinya.


“ cara bikinnya bagaimana?”


“ melahirkannya bagaimana?”


“Astaga dasar si bodoh ini!” Adam menghela nafas sambil menahan kekesalannya.


“ yang benar saja, apa otakmu juga tidak beres?” kesal Adam sambil membuka pintu apartemennya.


Karina memiringkan kepalanya sambil menatap Adam yang berdiri di depan pintu dengan wajah masam. Niat ingin mengusili Karina dan orangtuanya, malah dia yang balik diusili.


“ Om, caranya bagaimana?” celetuk Karina lagi dengan serius.


Tuk!


Satu sentilan mendarat di kening gadis itu,” bodoh! Pakai otakmu, apa kau pikir kau bisa langsung melahirkan sepuluh anak?” ejek pria itu.


“ohh jadi om Adam mau bikin anak bareng Karina ya?” ucap gadis itu dengan polosnya.


“ Uhuk!”


“ Karina kalau mau bicara pikir pikir dulu!!” Adam terbelalak tak percaya. Sedangkan Karian terdiam dengan wajah bingung.


“ Umm? Memangnya ada masalah dengan cara bikin anak?” pikir Karina.


“masuk! Berhenti memikirkan itu, bodoh!” Adam mendengus kesal.

__ADS_1


Mereka berdua masuk ke dalam apartemen itu. Benar saja, sesuai ucapan tuan Maureer, begitu masuk mereka langsung disambut dengan pemandangan berbagai miniatur bangunan milik adam yang biasanya dia gunakan untuk menyusun dan merencanakan berbagai taktik untuk semua perusahaan miliknya.


“ Wahh... ini rumah atau toko mainan? Kenapa om Adam punya rumah rumahan di sini? Om Adam seperti anak kecil!” ucap Karina dengan ceplos.


“ Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan om Adam?” pria itu kesal.


Karina berbalik dan tersenyum,”Lalu mau dipanggil apa Om ?” tanya Karina.


Gadis itu benar benar sosok polos yang belum tercemar dengan jahatnya dunia ini. Dia tersenyum begitu manis dan lugu bahkan tak takut memasuki rumah seorang pria dewasa yang baru pertama kali dia kenal.


Ada sedikit rasa bersalah di hati Adam, dia sebenarnya ingin memanfaatkan Karina untuk mengusir Prita dari kehidupannya selamanya dan juga mengusir para perempuan yang berusaha menggodanya.


Melihat senyuman lugu itu, dia malah jadi takut kalau langkah yang dia ambil akan menyakiti hati seorang gadis polos.


“ Om Adam? Mau di panggil apa?” tanya Karina lagi.


“ ck... terserah, yang penting jangan panggil Om, itu menyebalkan!” Adam melangkah masuk sambil membawa tas Karina menuju kamar yang telah disiapkan untuk gadis itu.


“ kamarmu di sini, jika butuh apa apa langsung bilang saja, aku punya banyak pekerjaan, jangan ganggu aku jika sedang bekerja,”ucap Adam.


“ Kalau kau lapar kau boleh memasak, aku tak yakin apa masakanmu enak,”


“ sisanya terserahmu,” ucap Adam dengan ketus.


“ Baiklah, lalu apa tugas Karina? Apa Karina boleh mencari pekerjaan? Karina tidak punya uang,”


“ Kita kan diminta untuk mengenal satu sama lain, apa yang boleh Karina lakukan agar bisa mengenal Mas Adam lebih baik?” gadis itu mengubah panggilannya sambil tersenyum dengan bibir manis dan mata berbinar binar.


Deg...


Adam terhenyak, dia menatap karina sambil menyerngitkan keningnya.


“ Mas? Apa pertanyaan Karina terlalu banyak?” Karian mendekati Adam yang terdiam di depan pintu.


"Mas Adam!?"


"Mas Adam Sadar Mas!?" Karina terus memanggil Adam yang malah terdiam membisu di depan Karina.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2