
Sagara memimpin pencarian di sekitar area alian sungai yang terhubung dengan jalan besar. Pohon pohon tampak berdiri tegap, suasana di sana cukup aneh bagi Sagara.
"Area ini memiliki aura yang aneh," ucap Sagara sambil melemparkan pandangannya ke seluruh area hutan yang tampak 'terlalu cantik' itu.
"Kalian bilang hutan ini tidak pernah disentuh manusia?" tanya Sagara.
" Benar tuan muda, karena ada rumor tentang hantu dan mahluk halus, para penduduk memilih menghindari area hutan di gunung kecil ini," jelas Sekretaris Lin.
Sagara menatap area itu, hanya dengan melihatnya saja dia sudah merasakan ada bahaya di balik sosok gunung cantik itu.
"Tidak selamanya yang cantik itu aman, justru gunung ini sangat mencurigakan!" ucap Sagara.
" Segera menyebar, cari mereka!!" ucap Sagara.
Dia melanjutkan langkahnya. Meski terlihat sangat tenang di luar, dia benar benar panik saat ini. Kabar hilangnya anak anak membuat darahnya berdesir hebat. Sekujur tubuhnya gemetar, seolah setengah dari hidupnya diambil dari dirinya.
Dia terus berjalan, tanpa sadar dia malah salah arah karena rasa pusing di kepalanya.
"Tuan muda, di sana jurang!!" teriak anak buahnya.
Sagara tampak melamun, dia terus berjalan seperti orang bodoh. Bayangan istrinya yang menangis juga wajah tiga anak anak itu membuatnya tidak bisa fokus.
" Tuan muda awas jurang!!!" pekik Lin sambil menarik tangan pria itu sebelum ia terjun bebas ke jurang di depannya.
Terlambat satu detik, Sagara akan hanyut dalam aliran sungai yang deras itu.
"Tuan muda!" panggil Lin dengan wajah terkejut.
Bima dan anak buah yang lain juga terkejut saat pertama kali melihat bos mereka tampak bingung seperti ini.
Bruk!!
Sagara terjatuh ke atas tanah dengan nafas sesak, " Lin... Bima... temukan mereka... temukan anak-anak ku, aku tidak bisa kehilangan mereka!! CEPAT!! CEPAT TEMUKAN MEREKA !!! TEMPAT INI BERBAHAYA, TEMUKAN MEREKA SEKARANG!!!" pekik Sagara sambil bangkit berdiri.
Akhirnya emosi yang dia tahan meledak juga. Sekujur tubuhnya berdesir, darahnya memanas, rasa takut memenuhi pikirannya.
"Tuan beristirahat lah, kami kan menemukan mereka, tenang lah!" bujuk Sekretaris Lin.
"Sial, jangan urus aku, cepat temukan mereka keparat!" ucap Sagara sambil terus melangkah mencari anak anaknya.
Semuanya terdiam membisu, bahkan Dyroth yang menyaksikan semua itu sampai menenggak salivanya saat melihat dan mendengar ledakan amarah Sagara.
" Dasar kak Dea, suamimu itu pria yang hebat, dia menahan semuanya agar kau tidak semakin panik, apa ini yang kau sebut berubah jadi aneh? Ckckckxk..." Dyroth hanya bisa geleng-geleng kepala sambil melanjutkan pencariannya.
Dengan pikiran yang tetap fokus, Sagara menyusuri seluruh area itu. Dia berjalan melintasi sungai dan menyusuri jalan raya mencari keberadaan anak-anaknya.
Hingga dia menemukan gantungan kunci milik Rere yang terjatuh di dekat tebing curam lainnya di area sungai itu.
" Ini... Ini milik Rere!!" ucap Sagara sambil memungut gantungan berbentuk kelinci itu. Dia menatap benar itu dengan jantung berdebar kencang.
__ADS_1
" Mereka mungkin di sekitar sini, cepat cari ke bawah!!" teriak Sagara panik.
Seluruh anak buah dikerahkan mencari di sekitar area sungai.
Sagara menatap ke sana kemari sambil menggenggam gantungan kunci milik putri kecilnya.
" Jangan pisahkan aku dari mereka... Ku mohon!!" Sagara melangkah dengan hati yang kacau.
Dia mencari dan terus mencari. Semua waktu yang telah dia lewatkan, masa masa keemasan pertumbuhan anak-anak nya yang dia lewatkan akan dia tebus dengan cara apapun.
Sagara berlari dan terus berlari.
" Gege, Rara!! Robert di mana kalian!!!" pekik Sagara.
Dia berlari sambil berteriak hingga suaranya serak.
"Papa!!" suara teriakan Gege dan Rara terdengar.
Pria itu berbalik, seolah waktu berhenti sejenak, dia melihat ketiga bocah itu tengah duduk di bawah pohon.
Wajah mereka tampak kelelahan, keringat membasahi tubuh mereka.
Ketiganya tersesat di jalan dan memilih beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan merek.
" Hah.... Hah..... Anak-anakku... Akhirnya... akhirnya ketemu!!" gumam Sagara.
Dia berlari dengan kencang ke arah ketiga anak itu. Dipeluknya mereka bertiga dengan wajah lega. Setelah melihat mereka, barulah jiwa Sagara kembali tenang.
Memeriksa apa ada luka serius di tubuh mereka.
Si kembar terdiam dengan wajah melongo saat melihat wajah Sagara yang begitu khawatir atas keadaan mereka.
Anak anak yang selama ini tidak mendapatkan sosok ayah dalam hidup mereka itu,tertegun dengan perhatian dan sosok ayah yang kini ada di hadapan mereka.
Pertama kali merasakan khawatir nya seorang ayah, membuat keduanya tak bisa berkata-kata.
Bahkan Robert pun tertegun melihat sikap Sagara.
"Pa..." Rere dan Gege menatap Sagara dengan mata berkaca-kaca.
Pria itu terdiam, dia menghela nafas lega, kedua anaknya dan keponakannya ditemukan dalam keadaan selamat.
Dia memeluk ketiganya dengan erat sambil menahan rasa sesak di dadanya.
"Apa yang kalian lakukan di gunung ini!? Kalian membuat semua orang khawatir," ucap Sagara.
Gege, Rere dan Robert merasa sedikit bersalah, apalagi setelah melihat kejadian menyeramkan di depan mata mereka tadi.
" Kami salah paman, seharusnya kami tidak masuk ke gunung ini," ucap Robert dengan suara sendu.
__ADS_1
Gege dan Rere juga menunduk dengan penuh penyesalan.
"Sudah, yang penting kalian selamat, kita pulang ke rumah," ucap Sagara.
Dia menggendong ketiga bocah itu. Robert dan Gege di masing-masing sisinya dan Rere dia buat di punggungnya.
Benar-benar sosok ayah yang hebat. Dia membawa mereka keluar dari hutan itu, tanpa melepaskan satu pun dari mereka.
"Papa benar benar kuat, bisa menggendong kita bertiga!!" seru Rere dengan wajah berbinar-binar.
"Benar, paman hebat sekali, tidak seperti Ayah kodok tukang ngorok, menggendong putranya saja mengeluh sakit pinggang!!" celetuk Robert yang tengah mengadukan perilaku ayahnya pada sang paman.
" Hahaha... Apa Papamu tidak.mau menggendong mu?" tanya Sagara.
Robert mengangguk," benar paman, dia sangat pelit, hanya Mama saja yang terus menerus dia gendong, anak sendiri diabaikan, menyebalkan!" ketus Robert seraya menggembungkan pipinya.
Sagara tertawa, kelakuan Robert benar benar fotokopi Yonathan, apalagi ketika dia kesal, mereka benar benar sama persis.
Sepanjang jalan mereka berceloteh ria. Seluruh pasukan ditarik kembali dari area itu.
Namun insting dunia bawah Sagara mengatakan ada yang aneh dengan tempat itu. Seolah disengaja, gunung itu terlalu indah untuk disebut berhantu. Terlalu tenang dan terlalu hening.
" Papa... Kami menemukan sesuatu yang besar!" ucap Rere.
" Benar paman, hutan ini benar benar aneh!" ucap Robert.
" Apanya yang aneh? Coba jelaskan!" ucap Sagara.
" Di hutan ini ada orang yang tinggal, tapi anehnya sebagian berlari dengan jubah putih bernoda darah dan sebagian berseragam hitam seperti pasukan, mereka berkeliaran di tengah hutan lebat itu!" jelas Gege.
Sagara terhenyak, benar tebakannya, ada yang aneh dengan hutan itu.
" Papa..papa..tadi kami ditolong paman bertopeng, dia yang menunjukkan jalan aman!!" celetuk Rere.
" Paman bertopeng!? Kalian tidak tahu siapa dia!? Apa pernah melihatnya!?" tanya Sagara.
Ketiga bocah itu menggelengkan kepala mereka," tidak Pa, kami tidak pernah melihatnya," ucap Gege.
" Tadi Robert sudah merekam area yang kami lihat, Rere juga ambil banyak foto, nanti kami tunjukkan pada Paman," ujar Robert.
Sagara mengangguk paham, hutan yang tampak tenang itu sepertinya menyimpan rahasia besar yang tak diketahui orang orang.
" Ada apa dengan gunung ini!?" batin Sagara.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗