
Lusinan pria berseragam hitam tampak berbaris bagaikan pasukan perang di tengah lapangan besar yang tampak dikelilingi oleh pohon pohon rindang.
Mereka berdiri tegap dengan wajah tegang dan tatapan tajam. Salah satu diantara mereka berada di barisan luar, berdiri dengan senapan angin dan topeng yang menutupi wajahnya.
Pria berambut panjang, dengan kaki besinya menatap barisan itu dengan santai sembari menghisap cerutu nya.
Sebuah organisasi tanpa nama yang tanpa diketahui siapapun dibentuk oleh orang orang misterius. Melakukan penelitian dan merahasiakan identitas mereka dari masyarakat.
" Gernal, apa kau bisa menghargai ku sedikit saja keparat?!" seorang pria berpakaian rapi berjalan dengan gagah ke arah panggung depan sambil menatap pria yang dia ajak bicara itu.
" Selamat datang Bos!" Para pasukan itu memberi hormat sambil membungkuk namun tidak dengan pria bertopeng berna Gernal itu.
" Hak cuih!! Kau haus penghormatan keparat!?" umpat pria itu sambil mengangkat senapan anginnya, mengokang benda itu dan mengarahkannya ke arah pria berpakaian rapi di depan sana.
"Gernal, kau tidak punya sopan santun, dia adalah atasanmu!!" senggak pria berkacamata di samping orang itu.
Dia menatap tajam ke arah Gernal, tak Sudi dirinya bekerja sama dengan pria tidak tahu balas budi Sepertinya Gernal, yang bahkan dengan berani mengancam pimpinannya sendiri.
Gernal memiringkan kepalanya lalu menatap pria berkacamata itu," oi kacamata! Terima ini!" celetuk pria itu sambil tersenyum sinis dan...
Shooty!! Duuar!!
Satu tembakan melesat dan berhasil menjatuhkan topi pria berkacamata itu. Semua orang menenggak saliva mereka dengan kasar setelah melihat apa yang dilakukan oleh Gernal.
" Bi.. bisakah kalian tenang sedikit? Hargai aku pemimpin di sini, dasar pembuat onar!!" teriak pria berjas itu.
" Haihh... Baiklah baiklah, asisten kau itu yang menyebalkan, lanjutkan acaramu Yopi!" ucap Gernal sambil melangkah ke depan menghampiri Yopi, pria bertubuh pendek tapi berotak encer.
"Cih... bualanku sangat banyak, aku datang dengan kabar baru mengenai orang-orang itu!" ucap Yopi sambil menyerahkan sebuah dokumen pada Gernal.
Gernal mengambil dokumen itu," pegang senapanku bodoh!" ucap Gernal pada si pria kacamata yang masih terdiam dengan wajah pucat pasi.
"Kita bicarakan di dalam!" ucapnya seraya melirik ke arah barisan para pasukan,memberi kode pada Yopi untuk membereskan mereka.
Yopi mengerti kode dari pria itu," Kalian semua lanjutkan pekerjaan kalian!" titah pria itu.
" Baik Bos!" seru mereka serentak.
Gernal dan Yopi melangkah memasuki sebuah rumah tua di tengah hutan itu. Rumah tua yang menjadi pusat penelitian milik keduanya.
"Kacamata,berikan senapanku!" ucap Gernal yang tiba tiba berbalik dengan tatapan tajam ke arah lapangan
Yopi dan pria berkacamata yang kera disapa Togo itu terkejut dengan reaksi Gernal yang aneh.
__ADS_1
" Ada apa!? Kenapa ka begini lagi!?" bisik Yopi.
Gernal tersenyum sinis sambil melirik Togo," Ada pengkhianat, kau merasakannya bukan !?" ucap Gernal sambil menatap Togo dengan senyuman jahat
Glek!!
" Di.. Dia ini bukan manusia bos! Bagaimana bisa dia tahu, padahal belum kuberi info tentang penyusup itu!!" bisik Togo dengan suara ketakutan ketika menatap Gernal.
"Dia ini satelit, menangkap semua sinyal yang ada!" balas Yopi sambil tersenyum puas.
Gernal tampak mengarahkan senjatanya ke sisi kiri lapangan, lebih tepatnya tengah membidik salah satu dari anggota pasukan yang berjalan dengan gerak gerik mencurigakan.
"Dapat kau!!' ucapnya sambil menarik pelatuk senapan anginnya dan..
Shoooott!!! Duar!!!
Satu tembakan tepat sasaran mendarat di bagian kaki pria itu.
Seketika seluruh area menjadi heboh.
Pria tadi terkapar di atas tanah dengan kaki bersimbah darah, tak sanggup untuk melarikan diri.
" Kau.. Kau membunuh orang dasar setan!!" teriak Togo memarahi kelakukan serampangan Gernal yang seringkali melakukan hal di luar nalar sampai mengancam nyawa orang lain.
Gernal melirik Togo," tolol! Kau urus bajingan itu, tanya di mana mereka menyembunyikan tempat penelitian itu!" ketus Gernal sambil mendorong Togo keluar dari rumah itu.
" Kita lanjut pembicaraan tadi!" ucap Gernal sambil melangkah menuju sebuah kursi tua dengan dinding cokelat di belakangnya.
Dia menarik seutas benang dari kursi itu dan tiba tiba saja... Creakkk.... Kriiitttt....
Sebuah pintu rahasia terbuka, mereka disambut dengan tangga kecil menuju ruang bawah tanah.
" Apa yang kau temukan!?" tanya Gernal sambil melangkah.
" Kau tinggal baca saja, semua sudah ku rangkum di sana, untuk apa menanyakan ku!?" ucap Yopi dengan wajah ditekuk.
" Cih... Kau minta di pukul hah!?" kesal Gernal sambil menatap tajam pada Yopi.
" Eh... Maaf maaf, Akan ku jelaskan!" ucap Yopi sambil mengikuti Gernal memasuki ruangan rahasia itu.
" Mereka menargetkan wanita itu dan keluarganya! Sudah sejak satu setengah tahun yang lalu, obat yang mereka ciptakan diedarkan pada karyawan kantor dan sudah beberapa kali kejadian itu merusak suasana kantor!" ungkap Yopi.
Gernal mengeraskan rahangnya kala mendengar laporan Yopi.
__ADS_1
" Sialan! kenapa baru kau lapor sekarang Yopi!? Ini bukan seperti cara kerjamu!" kesal Gernal.
Yopi memutar malas kedua bola matanya, " keparat kau!" ketus pria itu sambil melangkah dengan cepat meninggalkan Gernal di sana.
" Apa maksudmu!? Kau jelaskan Yop!!" protes Gernal.
Yopi menatap pria itu dengan wajah masam," siapa yang seja awal mengatakan padaku untuk hanya mengawasi dari jauh!? Kan kau yang minta kampret, sekarang kau menyalahkanku, sialan kau!" kesal Yopi dengan wajah malas.
Orang-orang dalam ruangan serba putih dengan tingkat sanitasi yang tinggi itu hanya tertawa geli melihat pertengkaran kedua pria itu.
Setiap bertemu, mereka memang seperti kucing dan anjing yang sulit akur.
"Apa aku bilang begitu!? Mana mungkin!!" balas Gernal.
" Mungkin tuan Gernal!!" seisi ruangan itu menjawab pria bertopeng itu sambil menahan tawa.
Gernal menghela nafas" cihh... Sialan, lanjutkan pekerjaan kalian!!" ketus pria itu.
" Hahaha...." mereka tertawa sambil melanjutkan penelitian mereka.
Di tengah tengah ruangan itu, ada sebuah ruangan kaca di mana empat manusia berjubah putih berbaring di atas brankar dengan segala jeni kabel yang terhubung ke tubuh mereka.
Tampaknya mereka tengah meneliti orang-orang itu.
" Gernal, mereka adalah karyawan dari tempat itu, sampai saat ini kami belum menemukan cara untuk menyelamatkan mereka!" ucap Yopi sambil menatap tiga pria dewasa dan satu gadis muda yang berbaring di atas brankar itu.
"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau orang-orang ini dari perusahaan itu!?" omel Gernal lagi.
Yopi menatapnya dengan wajah masam,"arrkhh dasar pelupa, aku sudah menjelaskannya padamu beberapa hari lalu, tapi kau hanya tidur dan marah-marah, malas aku bicara denganmu, sudahlah!!" Yopi berdecak kesal karena kelakukan Gernal.
" Ya maaf, aku tidak mendengarkan, karena aku tidak bisa melupakan bocah kembar itu!" ucap Gernal.
" Kau teringat dengan adikmu? Kenapa tidak temui saja dia? " tanya Yopi.
"Ahhh... Kau ini banyak bicara ya!!" celetuk Gernal sambil menarik kepala Yopi dan mengapitnya di bawah ketiaknya.
" Arkhhh sialan, sakit keparat, kau membunuhku!!!" pekik Yopi sambil melakukan perlawanan terhadap pria itu.
" Hahahah... Rasakan ini!!!!" teriak Gernal sambil tertawa terbahak-bahak.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗