
Dea membuka kedua kelopak matanya. Dapat dia rasakan deru nafas suaminya yang menyentuh telinganya.
" Selamat pagi sayang," sambut Sagara yang tengah berbaring di sisi Dea sambil memeluk erat wanita itu.
Sejak satu jam yang lalu, Sagara sudah terjaga dan memilih menatap istrinya dalam-dalam sambil memeluk erat wanita cantik dua anak itu.
" Sa.. Sayang..." gumam Dea.
" Kita di mana?" tanya Dea.
Seingatnya dia terlelap di dalam kamar mandi dan tak tahu siapa yang membawanya ke rumah itu.
" Kamar kita, kediaman utama Maureer, ruangannya sedikit dimodifikasi," jelas Sagara sambil membelai lembut wajah istrinya.
" Bagaimana keadaanmu hmm? Sudah baikan?" tanya Sagara.
Dea mengangguk sambil meletakkan kepalanya d dada bidang suaminya.
" Aku takut," ucap Dea dengan suara kecil. Dia memeluk suaminya dengan mata berkaca-kaca. Pikirannya kini tertuju pada kondisi Anna di luar sana dan juga Yefta serta korban lain akibat perbuatan Ivan.
" Takut kenapa hmm? Apa sayangku memikirkan masalah bajingan itu?" tanya Sagara.
Dea mengangkat kepalanya dan menata Sagara dengan mata berkaca-kaca, dia mengangguk dan tanpa sadar air matanya malah terjatuh.
" Anna... Dia pasti sangat menderita, bagaimana keadaannya sekarang? apa dia makan dengan baik? Apa dia tidur dengan baik? Aku takut Kak Gara," tuturnya sambil menangis sesenggukan.
"Apa Anna sangat penting bagimu?" tanya Sagara.
Puk!
Satu pukulan mendarat di dada Sagara," pertanyaan apa itu!?" kesal Dea.
" Aku hanya bertanya sayang, sepenting apa Anna bagimu?" tanya Sagara sambil tersenyum.
" Hiks... Kau masih bisa tersenyum di saat seperti ini? Kau tidak punya hati nurani!" ucap Dea sambil mendengus kesal.
" Anna sangat penting bagiku, saat aku melahirkan anak-anak kita, Anna terus berada di sampingku dan menenangkan aku, bahkan sejak kamu pergi... Dia memilih pindah ke mansion untuk menemaniku," jelas Dea sambil menangis.
Sagara tersenyum," Apa kau ingin melihatnya sekarang?" tanya Sagara sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
Dea menyerngitkan keningnya," Sayang.. Jangan bilang..."
Mata Dea membulat sempurna saat melihat senyuman mekar di wajah Sagara. Pria itu mengangguk, meyakinkan Dea akan apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya saat ini..
"Anna telah kembali, dia dirawat di rumah sakit saat ini!" ucap Sagara.
Dea terkejut bukan main, dia menangis bahagia sambil menghamburkan pelukannya pada sang suami.
" Sayang!!! Hiks hiks hiks... kapan itu terjadi!? Kapan!?" tanya Dea histeris.
" Semalam sayang, semua sudah selesai, Ivan dan keluarganya telah ditangkap dan akan diadili dengan tegas, kau tidak perlu takut lagi," ucap Sagara.
Dea menangis sesenggukan,dia menatap wajah suaminya, menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca," terimakasih sayang, hiks hiks hiks.. Ka- kau baik-baik saja kan? Apa ada yang terluka!!" tanya Dea.
Sagara menggelengkan kepalanya," tidak terluka, tapi...." Pria itu menatap Dea dengan wajah sendu..
__ADS_1
" Tapi apa?" tanya Dea khawatir.
" Aku merindukanmu, bibirku gatal sayang," goda pria itu sambil tersenyum licik.
" pfthh Hahahahaha.... Bibirmu gatal? Digaruk dong!!' balas Dea yang spontan meraih tengkuk suaminya dan memberikan ciuman panjang pada pria itu.
Santapan pagi hari yang lebih lezat dari masakan restoran Michelin bintang Tiga.
Saling menghangatkan satu sama lain, menyalurkan cinta yang membara.
Di balik pintu masuk, ada dua bocah tengik yang tengah mengintip ayah dan ibu mereka.
"ck... Ck.. Ck... Mereka main vakum cleaner lagi!!" celetuk Gege sambil menutup mata adik kecilnya.
" Rere mau lihat kakak, kata nenek, itu cara bikin dedek, Rere mau lihat!!" celetuk bocah itu dengan rasa penasaran yang tinggi.
" Hah!? Apa ciuman bisa bikin dedek!?" Tanya Gege sambil menatap Rere
Dengan polosnya Rere mengangguk," Nenek yang bilang!" celetuk bocah itu.
" Wahahh... Kalau gitu abang mau ikut!!!" seru Gege yang langsung mendorong pintu kamar Dea dan Sagara dan masuk menyelonong ke dalam kamar itu.
" Rere juga mau ikut bikin dedek!!!" seru Gadis kecil itu sambil berlari dengan langkah kecilnya menghampiri kedua orangtuanya.
Sagara dan Dea terkejut bukan main saat mendengar suara teriakan kedua kedua bocah itu.
"Sayang anak-anak!!" seru Dea dengan mata membulat.
Sagara yang sedang bermain di leher istrinya terkejut bukan main dan teringat kalau pintu tak dikunci semalam.
" Kamu gak kunci pintu!?' mata Dea membulat.
"Hahahhaha... Dasar kamu ini!" Dea tertawa terbahak-bahak sambil menatap wajah pias suaminya.
" Yang.. Padahal aku sudah itu..." gumam Sagara.
Dea tertawa cekikikan sambil menyembunyikan kepalanya di balik selimut, pipinya memerah karena malu, jantungnya berdebar tak karuan.
" Hahahhaha... Rasakan itu, main sana sama mba mba rose!" celetuk Dea sambil menunjuk kamar mandi.
Sagara tersenyum kikuk," Haihh... Gak deh, maunya sama kamu!" celetuk Sagara sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Papa Mama, Abang mau ikut bikin Dedek!!" teriak Gege dengan lantang sambil memanjat kasur dan menghampiri kedua orangtuanya.
" Rere juga mau ikut bikin dedek!!" seru bocah kecil itu sambil menatap Dea dan Sagara dengan wajah penasaran nan polos.
Sagara dan Dea saling menatap satu sama lain dengan wajah tersipu malu..
" Sa-sayang, kalian bilang apa!?" tanya Dea tak percaya.
" Emm.. kata nenek, kalau papa dan Mama ciuman itu lagi bikin dedek, makanya Rere dan Abang mau ikut cium Mama supaya ada dedek di perut Mama!" jelas bocah itu dengan polosnya.
" Pfftthh.. Yang.. Mama kok bilang gitu .." bisik Dea sambil menahan tawanya.
Sagara tersenyum," Ya.. Gak salah si yang, kan emang dari cium cium dulu!" balas Sagara dengan wajah nakalnya.
__ADS_1
Dea terkekeh.
" Anak-anak, kalian mau dedek kan!?" tanya Sagara.
Si kembar mengangguk dengan serius," Mau!!" balas mereka serentak sambil mengangkat tangan ke atas.
" Tapi, supaya dedek mau datang, kakak dan Abang harus mandi, makan dan ganti pakaian dulu, setelah itu tunggu beberapa Minggu, dedek pasti akan datang!" ujar Sagara.
" Benarkah Pa?" tanya Gege.
" hu um, kalian harus melakukan semua itu selama tiga bulan ke depan! Papa janji akan ada dedek, iya kan ma!?" celetuk Sagara sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dea tersipu malu," kamu ihh..." balasnya sampai salah tingkah.
" Sayang jawab yang bener dong, anak anak nunggu kamu nih," ucap Sagara.
Si kembar menatap penuh harap pada Dea.
"ekhmm..be-benar sayang, tapi hanya Papa dan Mama yang boleh membuatnya, anak anak tidak boleh ikut," balas Dea.
" kenapa!?' tanya keduanya.
"Karena hanya Papa dan Mama yang punya alatnya, dan itu adalah rahasia besar, tidak boleh diberitahu pada siapapun," ucap Sagara.
"Kalau kalian mau dedek, saatnya melakukan yang papa sebutkan tadi!! Kalau tidak mau, ya sudah," ucap Sagara.
" Mau! Mau! Mau!!" seru si kembar yang langsung turun dari kasur dan berlari keluar.
Sagara mengantarkan anak-anaknya dan mengunci kamar itu.
" Sayang, saatnya bikin dedek!" seru Sagara sambil melompat ke atas kasur dan memeluk istrinya melanjutkan permainan yang tertunda tadi..
"Hahahhaha..... sayang.. Tunggu dulu!! Sepertinya... Aku sedang datang bulan!!" ucap Dea menghentikan aksi suaminya.
" Ohh tiiidaaakkkk... Ini gimana yang!? Tanggung jawab kamu!!!" teriak Sagara frustasi.
Dea mengecup pipi suaminya," aku akan bertanggung jawab empat hari lagi!" bisik Dea sambil bangkit berdiri.
Jelas sekali ada bercak di sana.
" Yang.. Beneran datang bulan," ucap Dea dengan wajah cemberut menatap noda itu.
"maaf, ini jadi kotor, " ucap Dea.
Sagara menata seprai itu, dia tersenyum," gak apa apa sayang, sudah sana bersihkan dirimu, biar aku tangani ini, kita akan menemui yang lain di rumah sakit!" ucap Sagara.
Dea tersipu malu, dia cepat cepat pergi ke kamar mandi.
Sagara menatap kasur itu," dasar bulan merah sialan, kenapa kau datang sekarang!? Lihat saja aku akan menundamu datang selama setahun penuh!!!" kesal Sagara sambil menarik seprai yang terkena noda itu tanpa jijik sedikitpun.
Dari bilik kamar mandi Dea mengintip suaminya dengan mata berkaca-kaca," Terimakasih Tuhan, memberikanku keluarga yang harmonis, aku sangat bersyukur," gumamnya sambil menangis haru.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗