Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 78


__ADS_3

Suasana hening tampak meliputi kediaman mansion Tulip. Berita buruk tentang sosok yang sangat disayangi Dea telah membuat semuanya juga turut bersedih karena gadis pelayan malang itu harus mengalami hal keji dari majikannya.


" Kasihan nyonya muda, beliau pasti sangat terpukul saat mendengar berita tentang pelayan itu," ucap Friska yang sedang membersihkan halaman bersama Luhan dan pelayan lainnya.


" Kau benar Friska, kita tahu sendiri nyonya muda adalah orang yang sangat lembut dan penuh kasih sayang, ada berita seperti ini akan mempengaruhi kesehatan nyonya," imbuh yang lain.


Semua nya kini membicarakan nyonya muda mereka yang sedang bersedih. Tak ada yang tega melihat perempuan ceria dan baik hati itu menangis dan menghadapi masalah seperti saat ini.


Di saat semuanya sedang membicarakan pelayan yang disayangi oleh Dea itu, pengawal penjaga gerbang membukakan pintu karena kedatangan tamu penting.


Yonatan dan istrinya telah tiba di mansion Tulip.


" Selamat datang Tuan Muda Yonatan, semua sudah menunggu kedatangan anda," sambut Kevin dengan sopan dan hormat.


"Selamat datang nona," sapa Kevin seraya membungkuk pada Amira.


"Terimakasih," balas Amira sambil membungkuk juga. Tentu saja sikap Amira ini membuat Kevin bingung tapi tak berani bertanya.


Mereka berdua dipersilahkan untuk masuk ke dalam kediaman itu.


Yonatan sangat terkejut melihat keadaan mansion Tulip yang berubah total.


"Pak Kevin, apa ini benar benar mansion Tulip? kami tidak salah rumah kan!? Hampir setengah tahun tidak ke sini, semuanya berubah dengan cepat!" ucap Yonatan dengan wajah takjub melihat tatanan mansion itu sekarang.


Jika dulu hanya Padang rumput hijau dan semak belukar yang dipelihara Sagara di sana, maka sekarang tatanan mansion itu dipenuhi dengan warna warna indah dan juga bunga bunga yang harum semerbak.


Amira juga takjub melihat tatanan bunga itu, seketika membuatnya teringat dengan nona mudanya," Taman ini seperti sentuhan tangan seorang wanita," ucap Amira dengan mata berbinar-binar sambil melemparkan pandangannya ke arah taman bunga yang indah di hadapan mereka.


" Nona, taman bunga ini dirancang khusus oleh nyonya rumah ini, kami semua juga sangat takjub dengan tatanan taman bunga yang indah ini!" tukas Kevin dengan bangga menunjukkan taman bunga buatan nyonya mudanya.


" Pantas saja, perempuan itu pasti seseorang yang elegan, cantik luar dan dalam!" puji Amira.


" Anda sangat cerdas nona, nyonya muda kami memang persis seperti yang anda katakan," ungkap Kevin.


" Kalau begitu silahkan masuk tuan, nona," Kevin mempersilahkan mereka masuk.


" Terimakasih Pak, bawa kami menemui yang lain," ucap Yonatan sambil merangkul istrinya memasuki rumah itu.


" Aku bisa jalan sendiri, buat dirimu nyaman," bisik Amira yang merasa segan terhadap Yonatan. Selain segan, dia juga sedikit gugup karena akan bertemu keluarga pihak suaminya untuk pertama kalinya.


"Aku nyaman begini," balas Yonatan sambil tersenyum lembut.


Yonatan memperlakukan Amira dengan penuh kelembutan. Mereka berjalan dengan tenang dan berhati hati menuju Bangsal keluarga, di mana mereka semua berada saat ini.

__ADS_1


Amira melirik Yonatan, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, membuat dia penasaran dan terus menerus menatap pria itu.


" Apa ada yang mau katakan Amira?" tanya Yonatan yang mendapati tatapan penasaran dari wajah Amira.


Perempuan itu segera menggelengkan kepalanya,"Ti... tidak ada, nanti saja," jawab Amira dengan nada gugup.


"Apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya?" batin Yonatan.


Pasangan itu mengikuti Kevin menuju bangsal pertemuan keluarga. Ruangan itu kini sedang dalam keadaan sedih setelah mendengar laporan Sekretaris Iin tentang kondisi terakhir Amira setelah diusir dari kediaman bangsawan Eldrich.


"Tuan, nyonya, tuan muda Yonatan telah tiba," ucap Kevin.


Semuanya tampak terkejut, Yonatan tak memberi kabar kalau dia sudah dalam perjalanan.


" Biarkan dia masuk, " ucap Sagara sembari berdiri menyambut kakak laki laki nya.


Di balik Pintu, Yonatan menggenggam tangan Amira. Jujur saja dirinya pun merasa gugup untuk memperkenalkan Amira pada keluarganya, apalagi menghadapi respon mereka yang tidak tertebak.


"Apa anda ragu tuan, sebaiknya katakan di lain hari saja sampai tuan benar benar siap," ucap Amira seraya menatap pria itu dengan wajah lembutnya.


Yonatan menghela nafas, dia menatap Amira, menyisir lembut Surai wanita itu dengan jari jarinya," Aku hanya sedikit gugup. Tak ada bedanya kita sampaikan hari ini atau lain waktu. Toh semuanya akan ketahuan cepat atau lambat," Ucap Yonatan.


" Tunggu di sini sebentar, akan kukatakan pada mereka berlebih dahulu, aku tidak ingin kau melihatku dimaki oleh mereka," ucap Yonatan.


" Hans, jaga dia!" tukas Yonatan pada asistennya.


"Baik tuan!" balas Hans dengan tegas.


Yonatan menatap Amira sejenak, dia menepuk pucuk kepala perempuan itu sebelum dia masuk ke dalam bangsal pertemuan.


Yonatan melangkah dengan pasti, dia menenteng beberapa hadiah untuk Sagara yang sudah dia siapkan .


"Selamat Sore semuanya!!" seru Yonatan dengan wajah ceria.


" Kak Yonatan, akhirnya kau datang!" Sagara langsung menghampiri dan memeluk kakak laki-lakinya. Mereka memang yang paling dekat.


"Wahhh saudaraku, kau semakin cengeng saja, terkahir kali wajahmu masih kaku dan tegang. tapi sekarang kau sudah bisa menangis sampai ingus ku keluar!!" celetuk Yonatan sambil memeluk Sagara.


" Hahaha.... siapa yang menangis, ada ada saja," ucap Sagara seraya menatap kakaknya dengan senyuman cerah.


Yonatan cukup tertegun melihat perubahan besar pada adiknya. Dia tak menyangka akan ada harinya saat Sagara benar benar bebas mengekspresikan dirinya.


"Selamat ulang tahun bro, doa yang terbaik untukmu, ini hadiahku, jangan lihat nilainya,lihat niat baik kakakmu ini!" ucap Yonatan sambil tersenyum.

__ADS_1


Sagara tertawa, " terimakasih kak, tapi...." Sagara menatap Yonatan sambil memicingkan matanya.


Dia tahu ada yang aneh dengan tawa dan ekspresi Yonatan saat ini. Seolah dia tidak bebas tertawa.


" Sepertinya ada yang aneh denganmu anak tengik!" ucap Tuan Maureer sambil berkancah pinggang menatap putranya.


Mike, Adam dan Nyonya Maureer juga merasakannya. Mereka sangat mengenal watak pria itu. jika Yontana sedang dalam masalah maka akan ketahuan dari suara tawanya yang ganjil.


"Darah memang lebih kental daripada air, kalian benar benar. keluargaku," ucap Yonatan seraya menggaruk kikuk kepalanya yang tak gatal itu.


"Katakan, apa alasanmu kali ini? selama berbulan bulan kau tidak bisa dihubungi!" tukas nyonya Maureer.


Yonatan menarik nafas dalam-dalam, dia menatap mereka semua dengan wajah gugup.


"Sebenarnya... aku membuat masalah yang sangat besar!" ucap Yonatan dengan tenang.


" Masalah besar apa lagi kali ini?" tanya Sagara serius.


Yonatan memasang wajah dinginnya," Aku melecehkan seorang gadis tak bersalah dan kini sudah resmi menikahinya tanpa sepengetahuan kalian, aku hanya akan memberitahukan kalian masalah ini, kalian tidak boleh ikut campur karena dia sekarang sedang mengandung anakku dan sudah resmi menjadi istriku!" tukas Yonatan dengan nada tegas dan jelas .


" APA!?" semuanya tampak sangat syok dengan pernyataan dari Yonatan.


" Benar, aku sudah menikah!" ucap Yonatan yang langsung berjalan keluar lalu menghampiri istrinya," Ayo kita ke dalam," ucap Yonatan.


"Apa anda yakin?" tanya Amira.


Yonatan mengangguk yakin," Aku yakin Amira," ucap Yonatan.


Dia merangkul perempuan itu memasuki bangsal pertemuan keluarga. Melangkah perlahan dengan seluruh mata tertuju pada mereka.


" Ini Amira, istriku!" ucap Yonatan.


Di ujung sana, Dea yang mendengar nama Amira dan Sekretaris Lin yang mengenal wajah Amira terdiam dengan wajah syok.


" Ga.. gadis pelayan itu!!" ucap Sekretaris Lin.


"Mira!? A.. apa itu Amira!?" ucap Dea dengan suara terbata-bata.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2