
Sagara masuk ke dalam bangsal. Menemui Dyroth dan Barak yang menjaga Dea di sana.
" Bagaimana keadaannya?" tanya pria itu dengan wajah khawatir.
" Sudah membaik, kau melakukan yang terbaik Sagara!" Barak menepuk bahu Sagara agar pria itu tenang.
Sagara menarik nafas dalam-dalam. Dia telah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tidak akan menunda lagi balas dendam terhadap Ivan Maxim yang menimbulkan banyak kekacauan terutama terhadap istri Sagara.
Dia duduk di samping Dea, diusapnya pucuk kepala istrinya dengan lembut. Kedua netranya menatap wajah pucat sang istri.
" Kau telah menderita, serahkan semua padaku sayang," gumam Sagara.
Dia menggenggam tangan istrinya dengan erat, dikecupnya punggung tangan Dea berharap kondisi Dea semakin membaik.
" Barak pindahkan Dea ke kediaman Maureer, Kaka Yonathan sudah menunggu di luar," perintah pria itu.
" Baik, akan kami lakukan," ucap Barak.
Sagara menatap istrinya sekali lagi, dibelainya rambut hitam legam sang istri," maafkan aku sayang, maaf membuatmu terus menerus menderita !" gumam Sagara.
Hati Sagara bagai tersayat melihat betapa menyedihkan keadaan Dea sekarang. Ada orang gila yang bermain main pada istrinya, dia tak akan membiarkan orang itu lolos begitu saja.
Apapun akan Sagara lakukan untuk membalas semua perbuatan jahat Ivan.
Sagara berdiri, dia berjalan menuju ruang ganti. Tatapan matanya mengatakan dia akan segera membunuh seseorang.
" Berani mengganggu keluargaku, maka nyawamu di tanganku!" geram Sagara.
Sagara mengganti pakaiannya dengan cepat, dia telah mengetahui di mana letak markas Ivan Maxim dan anak buahnya. Tak akan dia biarkan mereka lolos begitu saja setelah mengusik keluarga kecilnya.
Setelah berganti pakaian, Sagara keluar dari dalam kamar ganti," Apa mobilnya sudah siap?" tanya Sagara pada Barak.
" Sudah bos, Dea siap dibawa!" ucap Barak.
Sagara segera mendekati istrinya, dibalutnya tubuh Dea dengan selimut tebal, lalu diangkatnya tubuh wanita itu dan dibawanya ke dalam mobil untuk segera dipindahkan ke kediaman utama keluarga Maureer.
Tak ada yang berani berbicara. Wajah Sagara mengatakan kalau dia benar benar marah saat ini.
Sinar rembulan begitu terang, cuaca yang baik untuk menghancurkan kehidupan keluarga Maxim dan Montana dalam sekali serangan.
" Jaga istriku baik-baik! Jika sampai terjadi sesuatu padanya, maka bersiaplah kepala kalian akan ku gantung!" tegas Sagara sambil menatap mereka semua.
Glek!!
Semuanya terdiam membeku saat mendengar ancaman dari Sagara. Bahkan Adam dan Mike tak berani menyanggah kata-kata pria itu.
Sekembalinya Sagara dari New York, dia berubah menjadi lebih dingin dan menyeramkan. Sikapnya terhadap orang lain begitu tegas dan kejam. Tetapi dia akan berubah menjadi pria yang lembut ketika berbicara dengan istri dan anak-anaknya.
“ Kami akan menjaganya dengan baik, serahkan pada kami!” ucap Yonathan meyakinkan adiknya.
__ADS_1
Akhirnya Dea dibawa oleh Yonathan bersama Mike dan rombongan mereka. Penjagaan ketat diberikan dalam pemindahan Dea menuju kediaman Maureer. Mereka harus memastikan keselamatan wanita itu.
“Kita berangkat!” ucap Sagara yang tanpa basa basi langsung masuk ke dalam mobil sportnya.
“ aku akan mengirim rencana pada kalian, pelajari dan ikut perintahku!” ucap Sagara.
Adam, Barak dan anak buah yang lainnya hanya mengangguk patuh dengan perintah Sagara.
Rencana dadakan dilaksanakan, Sagara memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam serangan kali ini karena bala bantuan dari Gernal alias kakak Dea akan menjadi dorongan besar dalam perang kali ini.
Pertumpahan darah harus dilakukan, karena perbuatan Ivan, dua orang terpenting bagi Sagara harus jatuh sakit dan Anna entah bagaimana nasibnya sekarang.
“ apa kau siap? Ini akan sangat berisiko!” suara Gernal terdengar melalui speaker mobil Sagara.
“ Siap, bukankah ada dirimu kakak ipar!” balas Sagara.
Sepanjang perjalanan mereka membicarakan rencana besar yang di dengar oleh seluruh tim.
Sementara itu, Bima dan Ruka mengalihkan perhatian setengah dari anak buah Ivan dengan membawa alat pelacak yang harusnya berada bersama Dea.
Mereka memperpanjang rute dan menuntun mereka menuju lokasi yang jarang di kunjung oleh penduduk.
“ Kak apa tidak masalah jika hanya kita berdua yang menghadapi mereka?”tanya Ruka sambil menatap kakaknya.
“ apa kau ragu?” tanya Bima tanpa menoleh pada Ruka.
Bima tersenyum tipis, dia menepuk pucuk kepala adiknya dan mengacak acak rambut gadis yang sejak kecil itu sudah merasakan penderitaan hidup yang luar biasa mengerikan.
“ Tenang, ada kakak di sini!”ucap Bima sambil tersenyum.
Rukla terdiam sejenak, kakaknya tempat dia bergantung masih sama meskipun tahun tahun berlalu, Bima selalu menunjukkan sosok kakak yang baik dan penuh perhatian.
“ Dasar sok!” ketus Ruka.
“ bukan sok adikku sayang, tapi kita punya bala bantuan dari seseorang yang tidak dapat kau tebak!”ucap Bima.
“ Bala bantuan?” tanya ruka.
Bima mengangguk. Dan benar saja, ketika mereka hampir tiba di tempat tujuan mereka, beberapa mobil hitam tampak keluar dari persembunyian mereka dan mengkawal perjalanan mereka.
“ Kak siapa mereka?” tanya Ruka terkejut.
“ bala bantuan!” balas Bima sambil tersenyum.
Di sisi lain, Ivan Maxim terus mengamati titik pelacak yang dia tempelkan ke tas Dea. Bodohnya dia tanpa curiga sedikitpun mengikuti titik pelacak itu dan mengamatinya berjam jam.
“ aku pasti akan menemukan tempatmu Dea, setelah itu aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya!” ucap Ivan sambil tersenyum jahat dengan segala rencana busuknya.
“ Bos, bukankah rute ini sedikit aneh? Kenapa juga perempuan itu pergi ke tempat yang sedikit penghuninya?” ucap Kobe yang mulai merasa curiga dengan titik pelacak itu.
__ADS_1
“ Bagaimana mungkin? Tidak mungkin dia menyadarinya, pelacak itu sangat kecil dan transparan!” ucap Ivan tak percaya.
“ Tu-tuan, bisa saja dia sudah menyadarinya, karena titik lokasi ini benar benrmencurigakan, selain itu titik ini sering didatangi oleh pengganggu yang merusak laboratorium obat kita!” ucap Kobe dengan wajah takut.
Ivan terhenyak dengan wajah pias.
Dia menatap Kobe dengan mata membulat sempurna,” katakan sekali lagi? Siapa yang sering datang ke tempat ini?” tanya Ivan sambil mencengkram kerah leher Kobe.
“ Sa-saya baru menyadarinya tuan, tempat itu adalah markas pengganggu yang merusak laboratorium seminggu yang lalu!” ucap Kobe dengan suara terbata bata.
“ KEPARAT SIALAN KENAPA KAU BARU BILANG SEKARANG!!” Ivan memekik begitu keras sampai suaranya terdengar ke seluruh penjuru markas.
Bughhh!
Satu tendangan bebas mendarat di perut Kobe sampai dia terhempas dan membentur dinding.
“Ma-maafkan saya tuan, saya salah!” ucap Kobe sambil menahan rasa sakit di perutnya.
“ arkrhhh sailan!!” pekik Ivan.
Brak! Brak! Brak!!
Dia menghancurkan komputer di depannya, diinjak injaknya benda itu seolah tak ada harganya. Dia marah, dia murka karena cara kerja bawahannya yang tidak becus.
Hingga tiba tiba ketika dia melihat tangannya dia menyadari sesuatu.
“ apa ini!” Ivan menyerngitkan keningnya sambil menatap titik kecil seperti tahi lalat di lengan bawahnya.
Dia menarik benda kecil yang menempel sangat kuat di lengannya itu dan..
Jlakk!
“ Sialan!!!” Ivan berteriak lagi.
“ Kosongkan markas, mereka sudah tahu lokasi Markas!!” pekik Ivan dengan wajah membiru karena panik.
“ Arkhhh... Dealora... apa yang sebenarnya kau lakukan padaku, siapa kau sebenarnya sialan!!” pekik Pria itu sambil mengeraskan rahangnya.
"Bos Ada maslaah besar di penjara bawah tanah!!" Teriak penjaga penjara dnwgan panik.
" Ada apa lagi!? Kenapa kalian tidak becus tikus sialan!!!"
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1