
Yonatan bergegas membawa sebuah baskom dengan air hangat dan handuk kering di tangannya.
Berjalan dengan cepat menghampiri Amira yang duduk di atas kasur.
"Apa masih mual?" tanya Yonatan yang duduk di atas lantai sembari mendongak menatap Amira.
Amira menggeleng kepalanya," sudah baikan tuan," jawabnya pelan.
"Baguslah, biar ku bersihkan kakimu, akan sangat bagus jika diberi pijatan, ini akan membuat janin tenang," ucap Yonatan.
" Jangan, biar saya saja, ini tidak pantas untuk anda tuan," tolak Amira dengan lembut.
Tetapi Yonatan adalah pria keras kepala. Sejak tiba di kediaman itu, dia sudah merasakan ada yang tidak beres dengan mood istrinya. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran wanita itu, dan hal ini membuat Yonatan tidak tenang.
" Jadi gadis yang patuh!" ucap Yonatan sambil menarik pelan kedua kaki Amira dan memasukkannya ke dalam baskom berisi air hangat dan ramuan aromaterapi.
"Apa terlalu panas?" tanya Yonatan.
" tidak tuan, "jawab Amira pelan.
Yonatan membersihkan kedua kaki istrinya, tak lupa memberikan pijatan agar kaki Amira terasa nyaman.
Dia memijit dari telapak kaki sampai betis wanita itu, membuat Amira benar benar merasa nyaman.
Perlahan lahan dengan lembut dan penuh perhatian. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan. Hanya diam dengan pikiran mereka sendiri.
Setelah memijit kaki Amira, Yonatan mengeringkannya dan memasang kaos kaki tebal di sana.
"Sudah selesai, tunggu ku ambil vitaminmu, tidak boleh lupa agar perkembangan janin tidak terganggu," ucap Yonatan.
Pria itu melakukan semuanya dengan tangannya sendiri. Membuat Amira tertegun dengan kelembutan yang diberikan Yonatan padanya.
Jantungnya berdebar, tak salah lagi kalau dia tertarik pada pria itu. Tapi Amira sadar, Yonatan melakukan ini semata mata hanya karena dia mengandung anak mereka.
"Aku ingin serakah. Tapi aku sadar siapa diriku," batin Amira dengan wajah sendu seraya mengusap perutnya.
Setidaknya Yonatan memperhatikan kandungannya dan memperlakukan dia dengan baik. Hanya mengetahui Yonatan menantikan anak mereka saja sudah membuat Amira dapat menerima keadaannya sekarang.
Amira terus menatap Yonatan yang bergerak ke sana kemari tanpa lelah menyiapkan semua kebutuhan Amira.
Pria itu membawa segelas air hangat dengan suplemen ibu hamil.
"Buka mulutmu," ucap Yonatan dan dengan patuh Amira melakukannya.
Yonatan memberikan kapsul vitamin ibu hamil dan membantu wanita itu minum dengan baik.
"Apa kau mau langsung beristirahat?" tanya Yonatan.
__ADS_1
Amira mengangguk lagi, dia benar benar patuh dan tak banyak permintaan.
"Baiklah, ayo berbaring," ucap Yonatan.
"Aku akan tidur di sofa," ucap Yonatan.
Amira menatap sofa yang sempit itu. Sejak mereka menikah, Yonatan selalu tidur terpisah dari Amira, membuat Amira berpikir kalau Yonatan tidak nyaman bersamanya.
"Tuan benar benar tidak nyaman denganku," batin Amira.
Amira tampak melamun, wajahnya sedih dan perasaannya tak enak.
"Tidurlah lebih awal," ucap Yonatan sembari memasang selimut Amira.
" Tu... tuan.." panggil Amira dengan wajah gugup.
"Ada apa? " tanya Yonatan.
"A.. apa anda tidak nyaman satu ruangan dengan saya? kenapa anda tidur di sofa? A... apa saya mengganggu tuan? " Amira bertanya dengan wajah gugup.
Yonatan terdiam sejenak. dia benar benar tak menyangka Amira akan berpikir seperti ini.
Wajah Datar Yonatan berhasil membuat Amira gugup," ma.. maaf menyinggung anda, a.. anggap saja saya tidak bilang apa apa!" ucap Amira yang langsung memiringkan tubuhnya dan menutup kedua matanya untuk segera tertidur.
"Apa yang sedang kau pikirkan Amira? apa yang mengganggu pikiran mu? jawab aku!" tanya Yonatan.
Amira mencengkram selimut erat erat, air matanya mengalir perlahan lahan. Wanita itu menutupi kepalanya dengan selimut, tak ingin Yonatan melihatnya yang begitu sensitif.
Saat duduk di sofa pun, Yonatan memilih tempat duduk lain, memakan menu yang berbeda dengannya, bahkan saat Amira ikut menonton di ruang televisi, Yonatan langsung melakukan aktivitas lain.
Hal ini membuat pikiran Amira semakin padat. Dia merasa Yonatan tak menginginkannya, Yonatan hanya menikahinya karena bertanggungjawab.
Di satu sisi Amira sadar kalau dia berstatus rendah, dia ingin serakah dan berharap memiliki kehidupan pernikahan yang baik, tapi pikiran buruk ini membuatnya tertekan.
Melihat reaksi Amira, tentu saja membuat Yonatan bertanya-tanya, apakah dia melakukan kesalahan? ataukah dia menyinggung Amira.
"A.. Amira, jawab aku," panggil Yonatan.
"Sa.. saya ingin istirahat tuan!" Jawab Amira sambil menahan kekacauan dalam pikirannya.
Merasa ada yang aneh dari Amira, Yonatan berdiam diri sejenak.
Dia menatap Amira dengan wajah penasaran.
"Ada yang salah, tapi aku tidak mengerti, siapa yang mengerti sifatnya? dan kenapa dia seperti ini?" pikir Yonatan.
Seketika dia teringat dengan cerita Dea bahwa Dea dan Amira adalah teman yang sangat dekat.
__ADS_1
" adik ipar!" gumam Yonatan.
"Aku harus bicara dengannya, apa yang sebenarnya dialami Amira di masa lalu dan seluk beluk kehidupan Amira selama ini!" batin Yonatan.
"Aku keluar sebentar, kalau butuh apa apa kau bisa menghubungiku ," ucap Yonatan, tetapi Amira tak membalas perkataannya.
Yonatan berjalan bergegas keluar dari kamar mereka, menutup ruangannya dan memastikan tak ada jendela yang terbuka agar Amira tetap hangat.
Setelah Yonatan Keluar dari ruangan itu, Amira duduk di atas kasur sambil menahan rasa sesak di dadanya.
" Kenapa aku begini hiks hiks hiks....kenapa jadi begini!? aku seharusnya tidak cengeng, ini bukan apa apa Amira, kenapa kau menangis!?" Amira menangis sesenggukan.
"Apa yang salah denganku, apa karena hamil aku jadi lebih sensitif? hiks hiks hiks... Amira sadarlah jangan berlebihan, tuan akan merasa tidak nyaman kalau kau terus begini!!' Amira mengusap air matanya, berusaha untuk menenangkan pikirannya.
Tapi semua usahanya sia sia, dia terus menerus menangis. Rasanya sangat sedih, belum lagi semua ingatan akan kejadian di rumah bangsawan Eldrich tiba tiba menghampirinya dan memenuhi otaknya.
Hinaan, pukulan dan tekanan mental yang diberikan oleh Gita serta saudara-saudara nya membuat Amira stress dan bersedih hati.
"Huhuhuhu..... kenapa aku begini... kumohon jangan menangis lagi, hiks hiks hiks...." Amira terus menangis, sampai kedua matanya membengkak.
Dia benar benar dikacaukan oleh pikirannya.
Selama hidup dia hanya memiliki Dea yang berdiri di sampingnya, merangkul dan memeluknya ketika suasana hatinya memburuk.
Tetapi saat ini, dia bahkan merasa takut dan tertekan hanya untuk menemui Dea yang jelas ada di depan matanya.
"Sekalinya anak budak, kau akan tetap jadi budak selamanya!! tak ada yang menginginkanmu!!!" kalimat kejam dari bibir Gita terus terulang dalam ingatan Amira, menghancurkan dan menggerogoti hati wanita muda itu.
" Dea... hiks hiks hiks... Aku butuh kamu... Tolong aku... pikiranku kacau, siapapun temani aku... jangan biarkan aku sendiri... aku takut....." Amira meringkuk ketakutan di dalam kamar.
Semua ingatan akan kekejian keluarga banget Eldrich dan memori kelam saat dirinya dijual ke rumah bord*l merusak pikiran Amira yang belum pulih sama sekali.
Selama ini dia menahan dirinya, menurut dan jadi wanita yang patuh tanpa bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya mirip dengan jari diri Dea yang ceria, supel dan penuh semangat.
"Hiks hiks hiks... tak ada yang menginginkan aku... tolong aku.. siapapun... ..."
Tiba tiba pintu kamar terbuka, suara langkah kaki Yonatan terdengar begitu cepat.
" Amira!!! maafkan aku, maafkan aku!!!" Segera Yonatan memeluk Amira dengan erat. memeluk istrinya yang sedang terpuruk.
" Huwaa..... huhuhu..... kenapa meninggalkan ku sendirian... kenapa tidak menginginkan aku...." Amira menangis histeris sambil memeluk erat tubuh Yonatan.
" Hah... maafkan aku... maafkan aku, aku disini... aku disini Amira, tenanglah, aku disini... tenanglah...." ucap Yonatan dengan wajah panik dan khawatir akan keadaan Amira saat ini.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗