Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 125


__ADS_3

Ruangan baca tampaknya tidak begitu tenang seperti hari biasanya.


Gege, Rere dan Robert sejak tadi mondar mandir seperti setrikaan sambil menatap ke arah pintu masuk ruang baca. Gege berada pada barisan paling depan diikuti Rere dan Robert. Ketiganya berjalan seperti kereta api sambil gigit jari saking takutnya akan murka sang Ibu.


" Paman Dyroth, kenapa Mama gak masuk juga!? sudah berjam-jam kamu menunggu di sini!!" ucap Gege yang tampak sangat resah karena kesalahan mereka siang tadi.


"Mama kalian sedang marah, kalian sangat nakal, pasti Mama sedang menangis karena ulah kalian!" ucap Dyroth.


Pria itu duduk di sudut ruang baca dengan Novel detektif di tangannya.


"Paman... Apa Mama benar benar marah?" tanya Rere dengan mata berkaca-kaca.


Gege dan Robert juga menatap Dyroth dengan perasaan khawatir. Bagaimanapun juga mereka bertiga hanya anak kecil yang sedang dalam masa eksplorasi dan penasaran dengan banyak hal.


" Benar, Mama kalian sedang marah!" balas Dyroth.


Rere, Gege dan Robert terdiam dengan mulut membisu. Mereka menatap hukuman yang diberikan Dyroth tadi. Rasanya sangat sedih karena sampai saat ini Dea belum menemui mereka.


Rere menatap tangannya sendiri, dia benar benar menyesal telah melakukan hal bodoh tadi.


" Hiks hiks hiks... Ini salahku.... Mama pasti membenci Rere... Huwaa...... Aku salah... Rere Salah!!" Gadis kecil itu berteriak sambil menangis histeris.


Gege dan Robert yang sejak tadi menahan tangisan mereka tak lagi bisa menahan diri mereka.


" hiks hiks hiks... Ini salah Gege... Huwaa... Seharusnya Gege tidak mengeluarkan ide buruk itu, Gege hanya membuat Mama menderita!!" Gege menangis histeris sambil menyalahkan dirinya sendiri.


" Huwaa.... Tante Dea.... Robert salah, harusnya Robert tidak menuruti si kembar... Hiks hiks hiks... Tante pasti akan mengusir Robert, Tante pasti tidak menginginkan Robert lagi huwaa... Aku tidak mau satu kamar dengan pangeran kodok tukang ngorok!!!" teriak Robert.


Ketiga bocah itu menangis sesenggukan sambil berpelukan. Mereka bertiga menyadari kesalahan mereka dengan cara yang unik.


" Ini salah Gege, harusnya Gege tidak menguji Papa, hiks hiks hiks... Harusnya kita percaya saja kalau Papa itu bisa menjaga kit!!" ucap Gege sambil menangis sesenggukan.


" Kau benar, harusnya kita tidak boleh menguji orang dewasa!!' balas Robert.


" iya benar, kita malah hampir ditangkap orang aneh, tersesat di hutan dan sekarang Mama tidak berbicara dengan kita, huwaaa... bodohnya aku!!!" balas Rere.


" Aku juga bodoh hiks hiks hik!!!" tambah Gege yang menangis semakin kencang.


" huwaaa.... Kalian berdua memang benar benar bodoh, tapi lebih bodoh aku yang mengikuti orang bodoh seperti kalian!!!" balas Robert.


Ketiganya menangis dengan air mata bercucuran


Dyroth yang mendengar itu tertawa cekikikan di sudut sana. Tak lupa dia merekam semua drama bocah bocah nakal itu.


"Mereka bertiga benar benar keturunan keluarga Maureer!" batin Dyroth sambil menahan tawanya.


Dyroth menatap ke arah pintu masuk bangsal ruang baca. Jelas dia tahu bahwa seseorang sejak tadi telah berdiri di sana dan mendengar semua tangisan anak anak itu.

__ADS_1


Bibir Dyroth melengkung sempurna, dia bangkit berdiri lalu perlahan lahan berjalan keluar dari ruangan itu.


Dia membuka pintu, dan benar saja ada Sagara yang sedang berdiri di depan pintu, mendengarkan seluruh pengakuan ketiga bocah itu.


" Kakak ipar, masuklah, mereka juga sudah mengakui kesalahan mereka," ucap Dyroth.


Sagara menepuk bahu Dyroth sambil mengangguk," kau juga masuklah, ada yang aneh dengan hutan tadi, kau juga pasti merasakannya," ucap Sagara.


" Kak... Apa kau menyadarinya!?" tanya Dyroth.


Sagara mengangguk," aku menyadarinya, setelah berbicara dengan anak-anak, kita akan berangkat ke markas Elf, kau ikut denganku, panggil juga Yefta!" ucap Sagara.


Dyroth mengangguk paham," Baiklah," balas pria itu sambil mengikuti langkah kaki Sagara sambil memasuki ruang baca.


" Apa sudah menyadari kesalahan kalian!?" Suara bariton Sagara berhasil membuat ketiga anak itu terkejut.


Seketika ketiganya berbaris dengan rapi dan menunduk tak berani menatap wajah Sagara yang berdiri di hadapan mereka sambil berkancah pinggang.


"Jawab Aku!" ucap Sagara dengan tegas.


" Su...sudah paman..."


"sudah Papa..." balas mereka dengan suara tergagap.


" Aku akan berbicara sebagai suami Dealora yang kalian buat menangis har ini!" tukas pria itu.


" Tapi...Mama sudah memberi..." Gege mencoba menjelaskan.


"Hah.... Mau membela diri lagi? Apa masih belum sadar?" tanya Sagara.


" Sa.. Salah Papa... Gege salah..." ucap anak itu pelan.


" Aku akan membawa istriku me jauh dari kalian bertiga! Jika kalian terus membuatnya kesulitan aku akan memisahkan dia dari kalian!" tukas Sagara.


Sontak ketiga anak itu mengangkat kepala mereka sambil menangis histeris," Papa jangan!!!" pekik si kembar.


" Paman Robert salah... Hiks hiks hiks... Jangan bawa Tante!!" tambah anak itu sambil menangis ketakutan.


Begitu diancam, ketiganya langsung menangis. Mereka sangat menyayangi Dea, tetapi perbuatan nakal mereka juga harus dikendalikan.


" Anak anak ini sangat menyayangi Dea," batin Sagara sambil tersenyum tipis sampai tak ada yang menyadarinya.


" Aku suaminya, dia milikku bukan milik kalian!" ucap Sagara.


" Nyonya Dea itu Mamaku, yang melahirkan aku, jelas dia milikku!! " balas Gege tak terima.


" Mama juga milikku, aku tidak mau berpisah dengan Mama!" tambah Rere.

__ADS_1


" Aku akan membawanya jauh, agar dia bisa hidup tenang! " ucap Sagara.


" Pa... Papa...." Rere dan Gege tiba-tiba menarik ujung jas Sagara.


" Kami minta maaf... Jangan Bawa Mama..." ucap keduanya menyesal.


" Be..benar Paman, kami salah, ja.. Jangan membawa Tante," ucap Robert lagi.


"Berjanji dulu agar tidak membuat istriku khawatir!" ucap Sagara.


" KAMI BERJANJI!!" teriak mereka bertiga penuh semangat.


" Hahh... dasar anak anak," gumam Sagara dengan bibir tersungging.


Pria itu berjongkok, menatap ketiga bocah itu sambil tersenyum dengan hangat, " Anak-anak, Papa dan Mama bukannya tidak senang kalian melakukan hal hal yang kalian suka, tapi jika caranya seperti tadi, kalian hanya akan menambah beban Mama, " ujar Sagara.


" Mama masih harus mengurus kalian, mulai dari makanan, minuman, pakaian, kebersihan, barang barang, dia juga harus bekerja ke kantor, semua dilakukan sendiri selama enam tahun ini," ujar Sagara.


"Wajar kalau mama kalian mudah marah dan sensitif, bahkan setelah hari ini pun mungkin Mama masih marah pada kalian, Tapi Papa harap kalian gunakan waktu ini untuk merenung dan belajar untuk bersikap lebih baik terutama pada Mama kalian," jelas pria itu..


" Mulai hari ini, Papa yang akan bertanggungjawab untuk mengurus kalian, Biarkan Mama kalian sedikit santai dan mengejar cita-cita nya," ucap Sagara.


" Paman senang Robert di sini, tapi ingat pesan orangtua kamu agar melakukan segala tindakan dengan perhitungan yang matang," ucap Sagara pada Robert.


" Maaf Papa... Kami salah," ucap Gege sambil membungkuk.


" Bagus kalau sadar, sudahlah, kalian sudah boleh kembali ke kamar kalian, besok kalian terima saja hukuman dari Mama, dan rekaman yang kalian sebutan tadi serahkan pada Papa sekarang," ucap Sagara.


Rere mengeluarkan kameranya,sama halnya dengan robert.


" Paman, hutan itu aneh, di sana banyak alat seperti satelit tapi bukan satelit, menurutku itu pengacau sinyal," ucap Robert.


Sagara dan Dyroth saling menatap sejenak.


" Sudah, kembali ke kamar, kalian harus segera tidur, biar Papa dan Paman yang mengurus ini," ucap Sagara .


Ketiga anak itu mengangguk sambil tersenyum lalu berlari menuju kamar mereka.


" Dyroth, kita berangkat!" ucap Sagara dengan raut wajah dingin yang tak tahu apa arti sebenarnya.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2