Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 110


__ADS_3

Lucy memutar tubuh Dyroth berkali kali memeriksa pria itu dengan wajahnya yang begitu panik. Dyroth menurut saja di periksa oleh Lucy sembari menahan rasa sakit di punggungnya yang dia tutupi dengan jaket tebal.


“ kau baik baik saja? Apa ada yang terluka? Bagaimana kadaanmu hah?” tanya Lucy dengan nafas terengah engah saking paniknya. Saat di apartemen Dyrtoh di mana dia disemunyikan oleh Dyroth, dia mendengar dari ajudan pria itu mengenai keadaan di area pertempuran.


Saking paniknya dia memaksa agar pergi ke rumah sakit di mana Dyroth dan Dea berada.


“ Aku baik baik saja, kau tenanglah,” ucap Dyroth sambil tersenyum dan menggenggam tangan Lucy.


Lucy menatapnya, wajah Dyroth tampak pucat dan lucy tahu pasti ada yang tidak beres dengan keadaan Dyroth saat ini.


“ Tanganmu sangat panas,” ucap Lucy.


Tiba tiba Lucy berjinjit lalu menempelkan telapak tanagnnya di kening Dyroth. Wajah mereka berada di posisi yang sangat dekat, membuat pria itu terdiam membeku di hadapan Lucy.


“ Kau bilang tidak apa apa tapi kau demam, apa kau terluka?” Lucy begitu panik. Dia menarik jaket pria itu saat menyadari ada bercak darah di kerah leher baju pria itu.


Betapa terkejutnya Lucy saat melihat kaos Dyroth yang sobek dari bahu sampai ke pinggang atas, dan darah yang mengering tampak jelas dengan luka menganga di sana.


“ Dyroth!!” pekik Lucy dengan wajah panik.


“ I.. itu.. aku... terluka sedikit, bukan apa apa.” Ucap Dyroth sambil memakai kembali jaketnya.


Lucy menatapnya dengan tatapan kesal. Tentu saja dia kesal, karena sudah telruka separah itu, Dyrtoh masih saja bersikap seolah dia sanggup menahan semua luka di dunia ini.


“ Kau masuk ke rumah sakit!” ucap Lucy yang tanpa basa basi menarik tangan Dyroth untuk masuk ke dalam rumah sakit.


“ tidak, tak perlu, aku tidak mau dirawat!!” Dyroth menarik tangan Lucy, tak ingin gadis itu membawanya ke dalam rumah sakit yang sangat dia benci.


“ Ada apa denganmu? Apa otakmu bermasalah? Kau sudah terluka tapi masih menolak masuk ke rumah sakit? Kau itu manusia biasa bukan Superman! Cepat berobat!!” hardik Lucy sambil menarik paksa tangan pria itu.


“ lu.. Lucy... a... aku tidak bisa ke rumah sakit,” ucpa Dyroth dengan jujur.


Lucy menghentikan langkahnya, dia menatap Dyroth dengan wajah tertegun. Dia melihat dirinya yang dulu ketika Dyroth mengatakan hal itu.


“ apa kau trauma?” tanya Lucy.


Dyroth terdiam sejenak sambil menatap kosong ke sembarang arah lalu mengangguk dnegan pelan,” aku tidak bisa masuk rumah sakit terutama di malam hari,” ujarnya pelan.

__ADS_1


Lucy terhenyak, keadaan Dyroth sama seperti dirinya belasan tahun yang lalu ketika kakak laki lakinya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Saat itu Lucy melihat dengan mata kepalanya sendiri, jenazah kakak laki lakinya yang hangus dilalap si jago merah.


Sejak saat itu, Lucy trauma memasuki rumah sakit, namun berhasil mengatasi traumanya berkat dukungan Sagara yang selalu menjaganya dengan baik. Itu juga menjadi alasan besar bagi Lucy unutk mengambil seni peran, karena melalui kegiatan ini dia bisa mengekpresiklan emosinya yang dulu tidak stabil.


Saat adegan menangis, dia akan menangis memuaskan rasa sedihnya, saat adegan tertawa dia akan sangat bahagia. Seni peran membantunya untuk hidup kembali seperti manusia normal.


“ Kalau begitu, ikut aku, biar dokter yang datang untukmu,” ucap Lucy.


Dyroth menahan tangan gadis itu,” Tak usah khawatir, tim ku akan merawatku, kau masuklah ke dalam , kak Dea sedang syok, dia butuh seseorang di sisinya,” tutur Dyroth yang tak ingin merepotkan orang lain karena keadaannya.


“ Lalu siapa yang akan menjagamu?” tanya Lucy.


“ Aku tidak perlu!” ucap Dyroth dengan wajahnya yang selalu datar dan pikirannya yang rasional itu.


“ aku sudah terbiasa terluka, ini bukan masalah besar, kau masuklah!” ucap Dyroth seraya mendorong Lucy mendekati rumah sakit.


“ Siapa yang berjaga di sana?” tanya Lucy .


“ Ada kedua kakak ipar kak Dea, mertuanya, kak Yefta dan orang orang dari mansion,” jelas Dyroth.


“ Itu sudah cukup! Kak Dea tak kekurangan orang untuk memperhatikan dirinya, aku bisa menjenguknya setelah merawatmu,” ucap Lucy.


“ Ikut denganku, kau terluka, kau butuh diperhatikan, jangan sok kuat!’ ketus Lucy.


“ Kenapa kau sangat keras kepala, sudah ku bilang ini bukan apa apa!” ucap Dyroth dengan nada keras.


Lucy berbalik dan menatap pria itu dengan wajah marah,” kalau baik baik saja, kenapa kau keringat dingin dan demam tinggi? Kalau baik baik saja, kenapa sejak tadi tanganmu gemetar? KALAU BAIK BAIK SAJA KENAPA KAU SEMPOYONGAN KAK DYROTH!!!” pekik Lucy sambil menangis tak kuasa menahan rasa khawatirnya.


Keheningan terjadi. Lucy tampak terengah-engah, sedangkan Dyroth hanya terdiam tak lagi membantah kata kata gadis keras kepala di hadapannya itu. Angin malam yang dingin semakin menusuk, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka.


Amarah yang memuncak, kekerasan hati yang sulit dilawan membuat keduanya belajar hal baru tentang diri masing-masing.


Dyroth menatap gadis itu. Setelah beberapa tahun, dia belum pernah menerima perhatian sebesar ini dari orang lain. Terakhir dia ingat jelas momen penuh perhatian yang dia terima adalah momen terakhirnya bersama Dea, Yefta dan seluruh kelompok Macron sebelum mereka berpencar dengan jalan mereka masing-masing.


Dan setelah bertahun tahun, seorang gadis yang selalu dia ingat dalam hatinya kembali muncul dan memberikan perhatian tak terduga pada dirinya yang selama ini hidup bagaikan robot.


“Maaf...” bibir Dyrtoh terbuka.

__ADS_1


“ kalau kau begitu khawatir, ikut aku ke markas, dokter pribadiku di sana,” tutur Dyroth seraya menarik tangan gadis itu.


Lucy mengusap air matanya sambil mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh asisten Dyroth. Dengan penjagaan, mereka melaju menuju markas pelatihan anak buah Dyroth yang selama ini menjaga Lucy dari orang orang yang ingin berniat jahat.


Sepanjang perjalanan, tak seorang pun dari mereka yang berbicara. Dyroth tampak semakin lemah karena kehilangan banyak darah, dia menyandarkan kepalanya ke kursi di depannya. Rasanya sangat sakit karena luka yang lebar dan dalam.


Tubuhnya berkeringat, tangannya gemetar dan dia demam tinggi.


Lucy melirik pria itu,” Ka...kak Dyroth...” panggil Lucy pelan dnegan wajah khawatir.


"Kak kau baik baik saja!?" Tanya Lucy lagi


" kak Dyroth, kau dengar aku tidak!?" Panggil gadis itu lagi.


Dyroth tidak menjawab.


Lucy menjadi panik karena melihat kedua kaki dan tangan Dyroth malah gemetaran.


“ kak..” Lucy menyentuh kening pria itu.


“ demam tinggi!! Dia demam tinggi, percepat mobilnya kak Zoe!!” teriak Lucy sambil menatik wajah Dyroth.


Pandangan pria itu semakin buram, dia benar benar pucat sekarang.


“ Zoe percepat, keadaan bos tidak baik!”ucap rekannya yang lain dengan wajah panik saat melihat kondisi Dyroth yang kini berada dalam rangkulan Lucy.


Segera mereka melesat menuju markas agar Dyroth mendapatkan pertolongan.


"Bertahanlah, jangan pingsan, kau harus kuat, aku di sini, aku di sini, aku akan menjagamu!!!" Lucy memeluk Dyroth sambil berharap mereka segera tiba di markas.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2