Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 112


__ADS_3

Setelah operasi pengangkatan kanker pada paru paru Sagara dan operasi besar pada jantungnya,pria itu sama sekali tidak sadarkan diri.


Kankernya tak lagi menunjukkan gejala apa pun dan diharapkan tak akan tumbuh lagi.


Namun yang membuat panik mereka adalah jantung Sagara yang telah dioperasi mengalami penurunan fungsi yang sangat mendadak.


Hal ini menyebabkan keadaan Sagara terus drop. Seluruh area laboratorium itu kini dalam.kehebohan. Jika sampai terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa Sagara, maka mereka semua akan menerima akibat mengerikan.


Sagara dilarikan ke dalam ICU, tindakan menyeluruh akan segera dilaksanakan. Namun saat ini dokter Arthur masih berusaha keras untuk mengembalikan detak jantung Sagara.


Dokter Arthur bergantian dengan dokter Barak antara CPR dengan kejut jantung, mereka melakukannya beberapa kali bergantian dan berharap detak jantung pria itu kembali.


Dokter Arthur sampai kelelahan, dia menatap layar monitor yang tak kunjung menunjukkan detak jantung Sagara.


Seluruh petugas medis di dalam ruangan itu terdiam seribu bahasa dengan bibir terbungkam.


Denyut jantung Sagara tak kunjung kembali,tak ada tanda tanda kehidupan dari pria itu.


" Dok.... sudah tak ada harapan!" ucap Dokter lain yang mendampingi mereka.


" Tidak!!! kita coba lagi, tidak mungkin!! tidak mungkin!!!" pekik Barak yang langsung naik ke atas brankar dan melakukan CPR berharap Sagara kembali.


Dia sangat terpukul, kepalanya rasanya mau pecah, dadanya terasa sangat sesak, dia benar benar syok saat garis lurus itu yang memenuhi layar monitor.


"Sagara bangun Sagara!!!" pekik Dokter Barak sambil menangis dan histeris. Dia menekan dada Sagar, terus menekan dengan harapan besar di dalam hatinya.


"Barak hentikan!!" teriak dokter Arthur.


"tidak... hiks hiks hiks... ti.. ti.. tidaaakkk... tidak mungkin!!! " pekik Dokter Barak sambil mencengkram kerah jubah pasien Sagara.


Dia menatap Sagara sambil menangis," tidak mungkin dia pergi begitu saja!!! INI TIDAK MUNGKIN DOK!!!!!" pekik Dokter Barak yang begitu terpukul setelah melihat apa yang terjadi.


Detak jantung Sagara tak kunjung kembali. Tubuh Barak rontok, harinya hancur berkeping-keping.


"Waktu kematian.... atas nama tuan Sagara Maureer... meningga..." Dokter Arthur berhenti bicara karena teriakan Dokter Barak.


" Tidaakk!!! dia tidak.mungkin meninggal!!!" pekik Barak sambil menatap mereka semua dengan hati yang hancur.


" Dia harus kembali ke negaranya, dia harus menemui istrinya, dia harus menemui anaknya yang belum lahir!!!!" pekik Dokter Barak.


Semua orang menangis mendengar kata-kata Dokter Barak, semua yang ada di sana terdiam sambil menundukkan kepala mereka.

__ADS_1


Dokter Barak menangis sampai tubuhnya lemas, Sekretaris Lin ,Bima dan orang orang yang menunggu di luar syok berat dengan berita ini.


Kacau, hancur dan sedih, semuanya tak terima, teriakan dan tangisan menyedihkan terdengar di bangsal rumah sakit itu.


Kabar tersebut disampaikan kepada kediaman Sagara. Berita ini benar benar membuat semua orang hancur.


Tangisan di hari itu tak akan pernah mereka Lupakan. Sekretaris Lin berlari sambil membawa ponsel Sagara.


" Tuan muda anda tidak boleh pergi!!! anak dan istri anda menunggu di rumah!!" Sekretaris Lin berlari menerobos ruang operasi sambil memutar rekaman video call dan suara rekaman detak janin yang dikandung Dea.


Dia memutar semua itu tepat di samping telinga Sagara yang masih belum dilepas dari alat bantu hidup.


Sekretaris Lin menangis, memanggil tuan mudanya, memutar semua rekaman itu dengan harapan Sagara kembali.


Umur manusia, tak ada yang bisa menentukan. Manusia berharap akan umur panjang tapi terkadang takdir akan berkata lain.


...****************...


Enam tahun kemudian....


Bunga yang indah dan harum bermekaran di seluruh taman besar mansion Tulip.


Harum semerbak bunga yang mekar begitu indah tercium dan memenuhi area mansion itu.


Suara hentakan kaki yang begitu berisik terdengar di seluruh mansion. Tawa dan teriakan bahagia terdengar begitu menyenangkan.


" Bahahahhahaha.... ayo paman Lin lair!!! lari!!!" suara teriakan seorang anak kecil yang tengah duduk anteng di punggung Sekretaris Lin terdengar melengking.


" Arkhh ini sudah yang paling cepat nona muda, Paman Lin bisa mati!!!" balas Sekretaris Lin yang tengah merayap di atas lantai paviliun.


" huuu kuda-kudaan Rere Cemen, lihat nih jagoan Gege, keren pol!!!" seru bocah lain yang berparas sama dengan gadis kecil itu.


"Ummmh!?? Kok bisa!? paman Lin Cemen ihhhh, kok bisa paman Barak yang lebih kuat, padahal wajah paman Lin kan yang paling tua!??" celetuk Rere seraya menarik wajah Lin dan menatapnya dengan kesal.


"Prrthff bwahahhahah denger Lin, kau sudah tuwir!!!" celetuk Barak sambil tertawa terbahak-bahak karena kata kata Rere kecil yang menggemaskan.


" Kau yang tua, dasar konyol!!" kesal Lin.


" Hahahha.... Lin, akui saja, kau memang sangat tua, wajahmu ketat terus seperti pakaian dalam baru!!" balas Bima yang juga jadi kuda kudaan bocah keren yang duduk anteng di punggungnya sambil membaca buku.


Sekretaris Lin menatap mereka berdua dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Nona muda, coba lihat baik baik wajah paman Lin, mana mungkin Paman setua itu!!!" protes Sekretaris Lin dengan wajah cemberut.


"Dasar orang dewasa yang aneh, kalau memang tua ya tua, jangan sok muda lagi paman Lin, umur millenial tapi lutut panti jomo, gimana sih!?" celetuk Gege dengan wajah datarnya yang khas.


Glek!


Lin menenggak salivanya saat mendengar kata kata sarkas bocah itu," Anda benar benar fotokopi tuan muda Sagara! seandainya tuan di sini, si pasti senang melihat anda tuan!!" ucap Sekretaris Lin dengan nada sendu.


" Ck... Pak Tua Lin jangan menangis, kenapa kau cengeng sekali sih!? " kesal bocah bernama Robert yang duduk di punggung Bima itu.


Dia menatap Lin dengan wajah kesal didukung oleh wajah tengil si kembar menggemaskan.


"Seandainya paman Sagara ada di sini, pasti Paman Lin sudah di getok pakai botol kaca!" tambahnya.


Lin memegang kepalanya sambil menatap ketiga bocah itu," tidak akan begitu!!" balas Lin dengan wajah cemberut.


" Yaahhh.. Malah mewek, paman Lin Cemen ah!!!"Seru ketiga bocah itu seraya merotasikan kedua bola mata mereka.


" Anak-anak turun!!" suara hardikan nyonya besar terdengar menggelegar. Dea datang dengan wajah masam sambil membawa penggaris panjang ke area paviliun.


" Ma..mampus... kuntilanak jembatan Ancol mengamuk, markas dalam bahaya!!" celetuk Gege sambil menatap Robert dan Rere.


Sontak ketiganya turun dari punggung kuda kudaan mereka.


" Kak Ge, Re belum ngerjain tugas, gawat!!!" seru Rere dengan wajah panik.


" Ge, kakak juga belum ngerjain tugas yang dikasih mom!!" tambah Robert.


Gege menatap mereka bergantian," aku juga belum.... huwaaa tamatlah riwayat kita!!!" seru Gege sambil mencengkram kepalanya sendiri.


Dea tampak begitu kesal dan marah. Matanya menatap tajam ketiga bocah itu, dia berjalan dengan langkah lebar seperti raksasa yang sedang mengamuk.


" Anak anak...." Dea menatap mereka lalu menarik nafas dalam-dalam..


"Mampus!!!" Lin, Barak dan Bim langsung memasang penyumbat telinga.


"KEMBALI KE RUANG BELAJAR SEKARANG JUUUUUUUGGAAAAAAA!!!!" Dealora memekik begitu kencang dan melengking sampai seluruh mansion bergidik bahkan burung-burung melarikan diri dari sarangnya.


"Ampun Mami!!?!"


"Maaf Aunty!!!!"

__ADS_1


ketiga bocah itu lari terbirit-birit dengan wajah panik menuju ruang belajar, sebelum Dea turun tangan memberi mereka hukuman.


"Dasar kalian ini tidak konsisten, tadi bilang belajar, tau taunya kuda gak jelas!!!" omel Dea panjang kali lebar sambil berkancah pinggang.


__ADS_2