
Malam yang indah itu dengan taburan bintang di langit tampaknya tidak menjadi malam yang bisa membuat hati seorang tuan muda Sagara tenang.
Pria itu menghamburkan tubuhnya ke atas kasurnya yang lebar. Nuansa hitam menjadi ciri khasnya dengan ruangan luas dan lempang tanpa ada bilik kecil yang sempit.
Dia berbaring sambil menghela nafas. Menatap ke atas langit-langit yang tembus langsung ke langit luar.
Menatap bintang dan bulan yang bersinar indah malam ini. Dia memijit kepalanya yang terasa sakit. Bebannya semakin berat dan rasa kesepiannya semakin besar.
Hanya berbaring dengan tatapan kosong, menatap ke luar untuk menenangkan pikirannya. Yang dia tahu hanya bekerja dan bekerja seperti robot sampai tubuhnya ambruk sendiri karena sudah mencapai batas toleransi.
"Melelahkan!" Gumamnya pelan.
Dia menghela nafas, hari ini dia telah melakukan pekerjaan besar, dan apa yang ingin dia lihat telah dia dapatkan.
Sagara ingin melihat wajah sedih di wajah ayahnya, hal yang selalu menjadi obsesinya. Sangat ingin menyiksa mereka dengan segala tindakan yang dia lakukan.
Dan hari ini, tindakannya yang tegas tak hanya berhasil membuat tuan Maureer berduka tetapi berhasil membuat kedua saudaranya murka. Namun apa yang ingin dia lihat tidak pernah memuaskan hatinya yang kosong dan beku.
Setelah melakukan hal keji pun dia sadar kalau dirinya tak merasa puas. Rasanya selalu ada yang kurang, semakin dia berusaha menyiksa orang lain, semakin dia berusaha memenuhi obsesinya akan kesengsaraan orang lain, semakin kosong dan dalam luka hatinya.
Harta, tahta bahkan Kejayaan, tak satupun memuaskan dahaganya.
Sagara segera bangkit berdiri, dia tidak bisa tidur di apartemen itu. Kepalanya pusing, dia harus kembali ke kediamannya untuk menenangkan diri.
Pria itu berjalan keluar, menyambar kunci mobilnya dan pergi dari sana setelah memberi pesan pada Lin yang sudah beristirahat di kamar lain dalam apartemen itu.
Langkah Sagara tampak tegas, dia orang yang sangat berkharisma. Namun setiap hari selalu tampil seperti sedang dalam acara pemakaman. Semua barang yang dia miliki hanya memiliki satu warna yaitu hitam. Kalaupun ada warna lain dia akan memilih warna paling gelap.
Pria itu mengemudikan mobilnya sendiri. Malam sudah begitu larut, dia mengemudi dengan pikiran kosong menuju kediamannya, tempat yang lebih nyaman di bandingkan dengan apartemen nya.
Pria itu menatap lurus ke depan, membawa mobilnya dengan tenang tanpa sadar kalau dia sudah diikuti oleh dua buah mobil dari belakang.
Sagara terus melaju, jalanan yang sudah sunyi karena ini saatnya para manusia untuk terlelap. Hingga tiba-tiba dia sadar kalau kedua mobil tadi sudah mengepungnya di masing-masing sisi.
"Mau apa mereka!? Merepotkan!" Kesal Sagara sambil melirik kedua mobil itu.
Mereka saling mengejar di tengah jalan raya yang sepi. Tak disangka orang yang membututi nya juga hebat dalam mengemudi.
" Berhenti kau bajingan!!" Teriak pria dari mobil di kanan.
" Berhenti atau ku tembak!!" Pekik pria di mobil Kiri sambil menodongkan pistol ke arahnya.
__ADS_1
Sagara mengemudikan mobilnya dengan cepat. Namun dia sadar Tak akan bisa menghindari orang-orang bodoh itu.
"Siapa yang mengirim tikus busuk ini!? Apa mereka minta dimusnahkan!?" Kesal Sagara sambil mengarahkan kedua mobilnitu ke sebuah lapangan besar di sisi jalan.
Mereka berhenti di sana. Ternyata yang mengikuti dia empat orang pria bertubuh besar, tampaknya mereka adalah para preman yang dibayar untuk memusnahkan atau mungkin memperingatkan Sagara atas setiap tindakan yang dia ambil.
Sagara telah menyinggung banyak pihak, sampai nyawanya terancam berkali-kali.
"Cih...tikus busuk!" umpat Sgara sambil menggenggam sebuah belati kecil di tangannya.
Para pria itu mendekat ke mobil Sagara dengan tatapan beringas.
Brak!! Brak! Brak!!
Mobil pria itu di gedor gedor dari luar, tampak mereka mengelilingi dan berusaha untuk membuka mobil Sagara.
Wajah Sagara berubah menjadi sangat menyeramkan. Dia melirik mereka sambil meregangkan otot lehernya.
Brakk!!
Dia membuka pintu mobilnya dengan kasar dan langsung mendendang salah satu korbannya dengan kakinya hingga pria itu terpental dan terjerembab ke atas tanah berbatu yang kasar.
"Arkhh bajingan, mati kau!!!" Pekik mereka.
Pria itu melawan dengan tenang. Keenam preman itu menyerangnya bersamaan, tentu saja Sagara kewalahan karena kalah jumlah.
Namun jangan sebut dia monster kalau tak bisa menghadapi tikus busuk seperti mereka.
Sagara menarik kepala mereka satu persatu dan menumbangkan mereka dengan tangannya sendiri. Pria itu memukul habis keenam pria itu dengan tenaganya yang sudah hampir habis.
Bugh... Bagh... Bughh... Baghh
Pukulan demi pukulan dilayangkan, Sagara juga terluka berat,dia sudah lelah tapi dihadapkan dengan hal sepele seperti ini.
"Siapa yang menyuruh kalian bangsat!!" Teriak pria itu sambil menghantamkan kepal preman yang satu dengan yang lainnya.
"Hah... Hah.... Hah... Kau.. KA.. kau harus mati!! Kau harus mati keparat!!" Umpat preman itu sambil mengangkat kayu runcing dan mengayunkannya ke arah Sagara.
" Rasakan ini! Arrkhhhh!!!"
Brak!!!
__ADS_1
Sagara dipukul dengan kayu runcing itu, tapi dia menahannya dengan tangannya sampai kulit tangannya koyak.
"Akhh... Sialan!!'
Segera pria itu melompat dan menusuk titik vital di leher preman itu sampai darah mencuat keluar.
" Mati kau biadab!" Umpat Sagara.
Mereka dipukul mundur, tapi tubuhnya juga banyak terluka.
"Kabur, cepat kabur!!" Para preman itu berlari kencang menuju mobil mereka. Berhasil membuat Sagara terluka adalah misi mereka.
Pria itu terduduk di atas tanah dengan nafas terengah-engah. Dari lengannya mengucur darah segar, lukanya sangat dalam, dia sampai berkeringat karena luka dalam itu.
Mau tak mau, dia pergi dari sana tanpa bisa menghubungi Lin karena ponselnya hancur terinjak injak.
Sagara membawa mobilnya dalam keadaan terluka. Situasinya sangat serius, wajahnya sudah pucat pasi karena darahnya terus merembes keluar.
Dia melaju begitu kencang hingga tiba di kediamannya, Mansion Tulip.
Sagara masuk ke area kediamannya. Tak ada yang berani mendekati pria itu, para penjaga berdiri dengan wajah ketakutan saat melihat tuan mereka tiba.
Sagara berjalan sempoyongan, sambil menahan rasa sakit di tangannya dia berjalan sampai tak memperhatikan langkahnya.
Angin yang dingin menusuk lukanya, membuat rasa sakitnya semakin terasa. Dia menyeret kakinya, berjalan menuju bangsalnya tanpa harapan apa apa.
Di Mansion itu, tidak akan ada seorang pun yang mau dekat padanya, ini juga adalah titahnya, agar setiap orang yang hidup di mansion itu bertindak seperti hantu, seolah tak melihat Sagara di sana.
Bruk!!
Pria itu menabrak seseorang, matanya tak bisa melihat dengan jelas, dia sangat lemah saat ini.
Darahnya terus mengucur, suara orang itu tak terdengar jelas di telinganya. Rasanya sangat sakit, bahkan lebih sakit dari biasanya.
Dia menatap orang itu dengan mata sayup, aroma manis dari orang itu membuatnya bergumam hingga dia pingsan tak sadarkan diri.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗