Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 53


__ADS_3

Sagara dan Dea berjalan beriringan melewati setiap lantai.


Gadis itu telah dikenalkan secara resmi sebagai nyonya bos perusahaan itu.


Dea yang murah senyum berhasil menghilangkan pikiran buruk orang orang tentang dirinya. Semua yang awalnya berpikir Dea itu sombong, malah berubah menjadi fans garis keras Dea sama seperti para pelayan di mansion.


" Selamat siang nyonya,anda cantik sekali!!" sapa para karyawan.


" Hay, selamat siang semangat ya!" seru Dea Membalas para karyawan itu sambil tersenyum manis.


Sejujurnya Dea malah merasa canggung karena para karyawan menyapanya seperti itu.


Dea menatap Sagara meminta pertolongan dari pria itu, rasanya tidak nyaman . Dia diperlakukan seolah dia adalah pemimpin di perusahaan itu padahal ini hari pertamanya mengunjungi perusahaan sagara.


Sagara hanya tersenyum gemas menatap tingkah Dea yang malu malu kucing, Dia seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia. Semua orang menyukai bayi imut lucu itu dan semua orang sangat ramah padanya, memang persis seperti seorang bayi perempuan yang menggemaskan.


Dea menarik lengan baju sagara membuat pria itu berhenti berjalan dan menatap Dea.


" Sagara..." ucap Dea dengan suara kecil seperti anak anak. Dia mengerucutkan bibirnya dan menatap ke sana kemari.


" ada apa nyonya bos? " goda Sagara sambil tersenyum jahil.


Pukhh!


Dea memukul lengan pria itu dengan wajah cemberut," jangan digoda, aku malu, mereka semua menyapaku dengan sebutan nyonya bos, yang benar saja, aku tidak nyaman, bilang mereka berhenti menyapaku seperti itu, rasanya aneh, bagaimana kalau ada yang marah? Bagaimana kalau ada yang cemburu, tolonglah!!" pinta Dea sambil menggoyang goyangkan lengan Sagara dan menatapnya dengan tatapan memelas.


Dea berusaha membujuk Sagara agar menghentikan rasa malu yang luar biasa hebat ini. Para karyawan memang mendapatkan kesan pertama yang positif saat melihat gadis itu.


" Nyonya, sepertinya tuan muda pun tak bisa menghentikan itu," ucap Lin sambil menunjukkan forum diskusi perusahaan di mana biasanya para karyawan bertukar pendapat tentang apa yang terjadi di perusahaan.


Dan topik panas bahasan hari ini adalah nyonya muda yang menggemaskan. Semua orang tampaknya memuji Dea yang cantik dan juga begitu ramah.


Siapa yang tidak akan terpikat dengan pesona wanita cantik yang untuk pertama kali di perkenalkan oleh presdir grup itu kepada mereka. Selain itu secara terang terangan Sagara memperkenalkan Dea sebagai istrinya yang membuat para karyawan merasa penasaran dnegan sosok Dea.


" Astaga kenapa sampai seperti ini, lain kali aku tidak mau ikut ke perusahaanmu tuan Sagara, ini sangat canggung!!" ucap Dea sambil mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal.


Tangan Sagara lagi lagi menepuk pucuk kepala Dea, " Terima saja selama mereka tidak berniat buruk!" ucap Sagara.


Dea hanya bisa mendengus. Rasanya agak mengejutkan saat dirinya malah menjadi pusat perhatian di perusahaan itu, padahal dia tidak ingin hal seperti itu terjadi.

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa lepas dari Sagara kalau ceritanya jadi begini? Yang benar saja? Mereka akan mengenalku sebagai istri Sagara, huwaa... Ini sangat merepotkan!" batin Dea.


Sikap Dea ini jutsru menarik perhatian Sekretaris Lin dan Sagara. Jika pada umumnya wanita akan sangat bahagia di perkenalkan sebagai istri dari seorang pimpinan besar yang sangat di hormati, namun di sini Dea menunjukkan betapa dia adalah seorang yang tak mengagungkan status apa pun.


Dea hanya ingin hidupnya sederhana dan damai tanpa harus di penuhi dengan sanjungan dan omong kosong yang tak berguna.


" Nyonya muda memang sangat baik, pantas saja para pelayan di kediaman mansion tulip dalam sekejap dijinakkan oleh nyonya, sisi asli nyonya memang seramah itu," batin Lin yang bangga dengan nyonya bosnya.


Mereka bertiga berjalan dengan santai, Kali ini tak ada pengawal dengan alasan agar Dea nyaman berkeliling.


Semuanya tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dea dan Sagara berjalan mengeliling perusahaan itu sambil memeriksa kinerja karyawan Sagara.


" Tuan saya akan ke bagian distribusi, ada beberapa hal yang harus diselesaikan hari ini, jadwal selanjutnya saya akan menghubungi tuan!" ucap Lin.


" pergilah!" balas pria itu


Kini Sagara dan Dea berjalan berdua, menuruni setiap lantai dengan eskalator, dan tampaknya Dea tidak keberatan dengan hal itu.


" Apa kau lelah, kau boleh naik lift dan tunggu aku di lantai satu," ucap Sagara.


Dea menggelengkan kepalanya, mereka berada tepat di depan sebuah lift yang sedang beroperasi.


Sagara dibuat tersenyum berkali kali dengan tingkah Dea yang menggemaskan, Rasanya seperti menghirup angin segar di tengah keringnya musim kemarau, melegakan!


Keduanya berjalan keluar dari perusahaan itu, semua orang tentu saja memperhatikan mereka, tetapi peringatan dari sekretaris Lin tampaknya membuat para karyawan langsung menjaga jarak mereka agar tidak mengganggu tuan muda mereka.


Sekretaris Lin menegur para karyawan untuk tetap menjaga tata krama sebagaimana mereka harus bersikap saat tuan Sagara ada di sana, tentu saja alasan utamanya adalah kenyamanan tuan muda mereka.


“ Selanjutnya kita mau ke mana? Aku lapar!!” celetuk Dea sambil mendongak menatap Sagara yang memang sangat tinggi.


“ makan, lalu ke mall, beberapa hari lagi ada acara, kau akan ikut,” ucap sagara.


“acara apa? Apakah seperti waktu itu?” tanya Dea.


“ Kurang lebih tapi kali ini tak akan ada yang menyakitimu!” ucap sagara.


Dea mengangguk,” baiklah, karena kau sudah baik padaku, aku juga akan bersikap baik padamu!” seru Dea dengan suara ceria.


“ Kau pintar!" ucap Sagara seraya membukakan pintu untuk Dea.

__ADS_1


“ terimakasih tuan!” balas Dea sambil tersenyum.


Pasangan ini tentu menjadi pusat perhatian semua orang, perhatian kecil Sagara membuat semua orang yang melihat mereka terbakar api iri karena rasanya sangat menggemaskan. Seorang presdir grup terhebat ternyata hanya bisa ditaklukkan oleh seorang gadis cantik yang luar biasa menggemakan.


Sagara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota menuju mall yang dimaksud oleh Sagara.


Sementara itu, suasana menegangkan tengah meliputi seluruh kediaman keluarga Eldrich.


Karir Gita Eldrich dalam sekejap hancur berantakan. Film film besar kebanggaannya telah di banned dari siaran televisi perusahaan hiburan yang dipimpin oleh perwakilan sagara.


Sagara adalah pemimpin tidak langsung perusahaan hiburan dengan saham sebesar 30 % yang menjadikannya sebagai seorang presdir di sana. Tetapi karena banyak cabang bisnis, Sagara memutuskan memilih pemimpin sebelumnya untuk melanjutkan jabatan di sana.


“ Gita, apa kau tidak memikirkan segala konsekuensi ketika kau melakukan sebuah tindakan hah? Ini masalah besar terhadap karirmu, Papa sama sekali tidak bisa membantumu jika begini!” teriak tuan Eldrich.


Dia sangat marah ketika mendengar berita bahwa semua film yang di perankan Gita telah di blok dari siaran utama pertelevisian di negeri itu. Hal ini secara langsung mempengaruhi reputasi keluarga bangsawan Eldrich.


Citra mereka di hadapan publik langsung turun drastis, bahkan tak ada yang tahu alasan jelas di balik penempatan film Gita dalam daftar black list.


“ Hiks hiks hiks, papa bantu Gita pa.. ini semua kesalahan perempuan sialan itu, dia pasti mengadu pada suaminya dan mengatakan hal yang tidak tidak, hiks hiks hiks... ini salah Dea.. papa harus membalasnya, ini salah Dea!!” teriak Gita sambil menangis sesenggukan.


Karirnya hancur, para artis yang terlibat dengannya turut terkena masalah karena masalah black list itu. Semuanya hancur seketika karena ulahnya sendiri.


“ Pa, ini tidak bisa dibiarkan, Dea, dia harus kembali ke rumah ini dan mendapatkan pelajaran, dia benar benar tidak tahu diri!!” protes Alexander saudara tertua Dea.


Mereka semua membicarakan kejadian yang menimpa Gita, bagi mereka yang salah adalah Dea, yang membawa sial adalah Dea sekalipun mereka sendiri yang menyebabkan masalah besar itu.


“ Cih... apa kalian tidak bisa berkaca pada diri kalian sendiri? Gita kau seperti manusia rendah yang mengemis akan perhatian, kau tidak malu dengan tindakanmu sendiri!” Seorang wanita yang menggendong anak kecil berjalan keluar dari ruangan pertemuan itu sambil menatap sinis ke arah mereka semua.


“ Margaret! Apa yang kau katakan !!” teriak Alexander memanggil istrinya.


“ Sudahlah hentikan, kau tahu tempramen kakak ipar, nanti dia marah lagi!” tukas Clara menghentikan perdebatan itu.


“ Dea, lihat saja akan ku permalukan kau!” geram Gita sembari mengigit ujung bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2