
Ivan dan Dea sama-sama menikmati makanan mereka masing-masing dengan isi pikiran mereka yang bergelut.
Dea tampak sangat terganggu dengan kehadiran Ivan. Jelas sekali ini adalah reaksi yang normal di mata Ivan. Akting wanita itu berhasil mengelabui Ivan.
“ Hufftt... menyebalkan, semua laki-laki sama saja!” kesal Dea sambil mengutak-atik ponselnya tanpa peduli dengan kehadiran Ivan di hadapannya.
Ivan tersenyum tipis sambil terus menikmati makanan di hadapannya.
“ Sepertinya nona cantik ini sedang ada masalah,” ucap Ivan memulai percakapan.
Dea tampak acuh, dia terus mengaduk-aduk makanannya sambil menatap ponselnya dengan wajah cemberut bak gadis yang tengah patah hati.
Jluk!! Jluk!! Jluk!
Berkali kali Dea mengaduk aduk mie kuahnya itu sampai berceceran di atas meja. Dia acuh tak acuh dengan keberadaan Ivan di hadapannya.
Merasa tak dihiraukan, Ivan menarik tangan perempuan itu,”kau dengar aku tidak?” ucap Ivan sambil menatap Dea dengan wajah sedikit kesal.
Dea menyerngitkan keningnya sambil menatap jengkel pada pria itu,” kau mau apa sih? Menjengkelkan, kenal juga tidak!” Dea bangkit berdiri sambil mengangkat tasnya.
Rencana wanita itu sama sekali tidak bisa di tebak. Sepertinya Dea akan melakukan tarik ulur dengan pria itu, membuat Ivan semakin penasaran sampai tidak curiga sama sekali dengan rencana dea.
“ Nona, bisakah duduk bersamaku, aku tidak akan mengganggumu!” ucap Ivan sambil menahan tangan dea.
Tangan Dea yang digenggam, Gernal yang menahan amarah di seberang sana. Gernal tampak resah karena Ivan terus mengganggu wanita itu.
Berkali-kali dia hampir melompat dari ruang makannya dan menghampiri kedua orang itu. Beruntung ada Lora di sana yang menennagkan amarah gernal.
“ Sialan, keparat itu mau apa!” kesal Gernal.
“ Tenanglah Albert !” Lora berbicara dengan tegas, memanggil nama asli Gernal.
Gernal terdiam, seketika amarahnya diredam. Dia ingat tujuannya adalah menjaga Dea tanpa harus mengungkap identitasnya yang sebenarnya.
“ Sialan!” umpat pria itu sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Sementara itu Dea tampak risih dengan tatapan Ivan,” jangan ganggu aku, kalian para pria memang berengsek, teganya berbohong bahkan mempermainkan perasaan orang lain!” ketus Dea.
“ apa kau sedang patah hati? Aku bisa menemanimu, aku tahu kau punya hubungan dengan Adam Maureer bukan? Aku juga membenci pria berengsek itu!’ ucap Ivan .
Dea menatap Ivan,” kenapa kau menyebutnya berengsek!?? kau tidak tahu apa apa! Sembarangan!” kesal Dea sambil menepis tangan Ivan dan kembali duduk.
__ADS_1
Reaksi Dea ini membuat Ivan mengartikan kalau Dea tertarik mendengar lebih tentang Adam.
“ aku yakin kau ingin mengetahui lebih banyak bukan?”ucap Ivan.
Dea menatap pria itu sejenak, tatapan penasaran yang sangat nyata,” ingin ku cincang mulut keparat ini!” batin Dea.
“ Cihh... kau tahu apa? “ ketus Dea.
Di saat yang sama ponselnya berdering, nama suaminya tertera di sana,” ada apa Sagara menghubungiku?” batin Dea.
“ Aku buru-buru, sudahlah!” ucap Dea sambil bangkit berdiri.
Ivan tampak tidak sabar, dia langsung menarik tangan Dea,” aku tahu banyak rahasia tentang Adam! Aku bisa memberitahumu!” ucapnya。
“ Benarkah? “ Dea menatap jam tangannya, lalu dia mengeluarkan sebuah kartu nama.
“ kau hubungi aku saja, aku akan mendengarnya, aku buru buru!” ucapnya.
Setelah memberikan kartu nama itu, Dea berjalan dengan cepat keluar dari bilik makan itu meninggalkan Ivan yang tersenyum puas dengan reaksi Dea.
“ hehehe... aku tahu... dia pasti tertarik padaku!” ucap Ivan sambil menatap kartu nama Dea yang ada di tangannya itu.
Ivan tersenyum,” tidak perlu Kobe, dia pasti tertarik padaku, aku akan mendekatinya dan menemukan waktu yang tepat untuk membawanya, selain itu tempat ini sepertinya diawasi, kau periksalah!” titah Ivan dengan raut wajah serius.
Kobe mengerti dengan maksud tuannya. Bagaimana pun, Ivan adalah orang cerdas yang jadi serakah. Dia tahu ada yang tidak beres dengan restoran itu, dia tahu dirinya sedang dipermainkan oleh seseorang.
Ivan kembali duduk, dia terus menatap kartu nama itu. Dia tersenyum menyeringai seperti monster menyeramkan yang sudah memastikan target mangsanya.
“ Mau mempermainkan aku? Tidak semudah itu Dea...” gumamnya sambil menghancurkan kartu nama Dea di tangannya.
Tatapan matanya tajam, rahangnya mengeras, sandiwara Dea telah tercium olehnya.
Sementara itu, Dea tampak berjalan dengan langkah cepat menuju parkiran sambil menghubungi suaminya.
“ Sayang kau baik baik saja?” tanya Sagara dari seberang sana.
“ aku baik baik saja, aku ketahuan!” ucap Dea sambil menyalakan mesin mobilnya.
Saat berbicara dengan Ivan tadi, Dea Sadar kalau Ivan telah mengetahui sandiwaranya. Jika Ivan benar benar termakan sandiwaranya, maka Ivan tak akan melepaskan Dea begitu saja.
“ Kembalilah ke rumah, aku dalam perjalanan ke mansion saat ini!” ucap Sagara.
__ADS_1
“ baiklah, kita bicara di sana!” ucap dea.
Wanita itu jelas tahu kalau Ivan bukan lawan yang mudah. Akan sangat aneh jika Ivan dengan mudah terkecoh dengan akting Dea melihat rencananya yang berjalan lancar selama satu setengah tahun belakangan ini.
“ Dia bukan orang yang mudah!” batin Dea.
Tetapi bibir wanita itu tersenyum manis. Dia tidak hanya menyiapkan satu rencana. Dia menerima pesan lainnya dari anak buahnya. Rencana matang sudah di siapkan untuk menghancurkan Ivan sampai ke akarnya.
Dyroth telah memasang alat pelacak di mobil yang digunakan oleh Ivan sedang Dea telah menempel alat pelacak pada kulit Ivan saat pria itu menyentuh tangan Dea tadi.
“ Aku tidak sebodoh itu Ivan Maxim!” ucap Dea sambil mengeluarkan semua isi barang dalam tasnya.
Dea melaju dengan kecepatan tinggi.
Ketika di persimpangan, sebuah sedan hitam menghadangnya dari samping, tampak Bima di dalam mobil itu bersama sama dengan Ruka.
“ kalian bawa pergi benda ini!” ucap Dea sambil melemparkan tasnya pada Bima dan Ruka.
“ Baiklah!” ucap mereka.
Di Tas dea ada alat pelacak kecil yang dimasukkan oleh Ivan saat Dea akan pergi dari restoran tadi. Persiapan Dea sangat matang, dia tahu pergerakan Ivan dan sudah membaca rencana pria itu sejak awal.
“ Saatnya mempermainkan mu Ivan Maxim!” batin Dea.
Bima dan Ruka membawa tas itu bersama mereka untuk mengecoh anak buah Ivan yang pasti akan mengikuti Dea. Dea tidak ingin mereka menyentuh mansion Tulip, itu sebabnya Dea bergerak dengan hati-hati.
Persis seperti yang diperkirakan oleh Dea, pria itu tengah mengawasi gerakan Dea melalui alat pelacak yang dia sisipkan di tas Dea. Dia berharap menemukan kediaman Dea yang sangat sulit dia lacak.
“ terus ikuti jejak GPS itu! Pastikan kalian menemukan rumahnya!” ucap Ivan sambil tersenyum jahat tanpa tahu kalau dirinya telah dikelilingi serigala buas mematikan yang siap mencabik cabik dagingnya.
Rencana yang dia pikir akan berjalan lancar justru telah terbaca sepenuhnya oleh Dea, Sagara, Dyroth dan semua rekan mereka. Bahkan bala bantuan yang lebih besar akan segera menghampiri Dea dan timnya jika Ivan melakukan gerakan berbahaya.
Gernal alias Albert, pria yang hidup kembali dari kematian itu tealh mempersiapkan segalanya utnuk menghancurkan Ivan Maxim yang berani mengganggu kehidupan adiknya.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1