Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 82


__ADS_3

Yonatan yang merasa curiga dengan sikap Amira dengan sengaja keluar dari ruangan kamar tetapi tetap berdiri di depan kamar menunggu apa yang sebenarnya terjadi.


Dia sangat terjangkau kala mendengar Isak tangis dari dalam kamar mereka. Dia mendengar semua ucapan Amira, dan jelas dia tahu kalau pikiran Amira sedang terganggu.


Yonatan berdiam diri di depan pintu mendengarkan tangisan pilu istrinya yang membuat hatinya tersayat. Hatinya terasa sakit saat Amira bersedih, hatinya terasa remuk saat melihat perempuan itu menangis.


Sejak mengambil inisiatif menikahi Amira, Yonatan telah berusaha keras memupuk perasaannya pada Amira. Karena dia punya prinsip, sekali menikah maka pernikahan itu abadi.


Bukan tanpa perkiraan dia menikahi Amira. Ketika hatinya mencari sosok yang setia dan penuh kelembutan sedang di sisi lain adalah perempuan yang ceria dan penuh semangat, dia dipertemukan takdir dengan Amira, perempuan yang memenuhi seluruh kriteria partner masa depan yang diimpikan Yonatan.


Sejak melihat Amira dalam kondisi normal alias bukan karena mabuk, Yonatan tahu kalau Amira adalah jodohnya. Hatinya berkata kalau perempuan malang yang dia tiduri malam itu adalah partner masa depan yang akan menemaninya sepanjang hidupnya.


Itu sebabnya, semua tindakan yang Yonatan lakukan adalah untuk kenyamanan Amira.


Dia rela tidak menonton acara favoritnya selama Amira bisa menonton televisi dengan nyaman. Dia rela tidak tidur di atas kasur kesayangannya selama Amira, istrinya merasa tenang.


Dia rela makan makanan sisa semalam selama Amira makan makanan sehat dan baru. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Amira merasa tenang dan perlahan-lahan jatuh hati kepadanya.


Tapi tampaknya, Yonatan baru menyadari setelah mendengar ucapan Amira di dalam kamar, bahwa cara yang dia lakukan telah menyebabkan kesalahpahaman di antara mereka.


"Ini salah paham, aku benar benar bodoh, dia tidak akan jatuh hati padaku jika aku membuat jarak, ku pikir dia nyaman tak tahunya dia malah tertekan," batin Yonatan.


Tangisan Amira yang semakin kencang dan teriakan histeris Amira yang mulai terserang panik membuat Yonatan ikut panik.


Dia berlari memasuki kamarnya dan langsung memeluk erat istrinya sambil meminta maaf.


Amira benar-benar menderita karena kekacauan pikirannya. Rasa sakit saat Gita memukulinya masih terasa, penghinaan dari orang orang terhadap dirinya membuat dia menderita.


" Kenapa tidak ada yang menginginkanku, hiks hiks hiks... kau ingin bersama Dea, tapi aku takut... aku takut aku tidak setara dengan dia!!!" Ungkap Amira sambil menangis sesenggukan.


" Tuan juga jahat!! Tuan menghindari ku, tuan hanya peduli pada janin ini, aku senang tapi aku juga merasa sedih, kenapa tidak ada yang menginginkanku, apa karen aku seorang budak!?" Amira menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan masalah di hatinya.


" Tuan tidur di sofa, padahal ada kasur lebar di sini, tuan memakan makanan lain dan tak mau satu meja denganku, tuan hanya peduli tentang janin, tapi tidak tahu kalau aku juga perlu diperhatikan hiks hiks hiks... apa aku tidak berharga? apa aku tidak boleh berharap huwa....." Amira terus bergumam sambil menangis.


Air matanya sampai membasahi pakaian Yonatan.


Pria itu tetap diam, membiarkan Amira melampiaskan rasa kesal dan sakitnya, membiarkan Amira memberitahukan segala kesedihannya.

__ADS_1


"Aku serakah, aku mau jadi orang yang serakah, aku juga mau bahagia... hiks hiks hiks.... " wanita itu melepaskan pelukannya dari Yonatan, menjauhkan dirinya dari pria itu sambil mengusap air matanya saat dirinya mulai merasa tenang.


Hingga dia sadar apa yang telah dia ucapkan barusan.


"Ma.. maafkan sa.. saya..." ucap Amira sambil menunduk dengan wajah ketakutan. Dia takut Yonatan akan murka karena ucapannya.


Air matanya masih terus mengalir, dia jelas jelas sedang menahan tangisannya sampai tubuhnya bergetar.


hati Yonatan terasa sakit, dia kurang peka. Komunikasi diantara mereka benar benar sangat sedikit. Seharusnya Yonatan paham dan mengambil inisiatif untuk berbicara dengan Amira, tapi rasa segan di hatinya membuat keadaan sedikit menjadi kacau.


"Amira..."Yonatan mengambil tangan wanita itu, mengangkat wajah Amira dan menatapnya dengan lembut.


Wajah Amira tampak memerah dan kedua matanya membengkak.


" Beri aku waktu untuk memahamimu, beri aku kesempatan untuk melakukannya dengan baik, aku akui caraku salah, ku pikir kau akan nyaman jika menonton sendirian, ku pikir kau akan merasa tenang jika aku tidur terpisah, ku pikir akan lebih baik bagimu makan makanan baru daripada makan makanan yang tersisa di hari kemarin, tapi semua yang ku lakukan membuatmu salah paham," ungkap Yonatan sambil mengusap kedua pipi Amira dengan lembut.


Dia membersihkan wajah Amira sambil mengungkapkan semuanya di depan wanita itu.


"Aku berusaha untuk dekat denganmu, Tapi aku belum memahami sifat mu karena kau juga sangat pendiam, aku merasa segan dan takut membuatmu tersinggung, aku tidak tahu harus melakukan apa, itu sebabnya terjadi salah paham ini," ujar Yonatan.


Amira tersadar, ternyata Yonatan tak seburuk yang dia pikirkan.


Dia penasaran, dia ingin tahu apa tujuan dan apa isi hati Yonatan sebenarnya.


"Bodoh!" ucap Yonatan dengan kesal.


"Darimana kau dapat pikiran buruk seperti itu!" ucap Yonatan.


Amira terdiam membisu, dia menutup mulutnya karena takut Yonatan akan marah padanya.


"Ma.. maafkan saya tuan, tapi saya ingin tahu, bagaimana nasib saya nanti," ucap Amira pelan.


"Tentu saja kau harus merawat anak ini, apa kau pikir aku bisa merawat bayi sambil melakukan rapat dan membawanya naik ke helikopter untuk perjalanan bisnis? kau istriku Amira, memangnya kau mau pergi ke mana?" celetuk Yonatan.


Amira terdiam, Yonatan tidak berniat membuangnya, bahkan tak ada setitik pun niat itu mencemari pikiran Yonatan, terlihat dari kesungguhan Yonatan pada dirinya.


Amira menangis sesenggukan, dia benar benar telah salah paham. Kurangnya komunikasi memang merusak hubungan mereka. Dan hari ini mereka sama sama belajar hal baru, bahwa komunikasi yang baik sangat penting dalam membangun sebuah hubungan.

__ADS_1


"Terimakasih tidak membuang saya tuan!!!" Amira menghamburkan pelukannya pada Yonatan tanpa segan.


Sambil menangis tersedu-sedu dia memeluk pria itu dengan sangat erat.


Yonatan dibuat tertegun, dia tersenyum tipis melihat Amira yang memeluknya. Dia membalas pelukan Amira dengan lembut.


"Aku masih belajar memahamimu Amira. Maaf jika tindakan ku membuatmu salah paham," ucap Yonatan.


"Aku benar benar belajar untuk mendekati mu, tapi sepertinya tindakanku benar benar bodoh," ucap Yonatan.


Amira terus memeluk Yonatan, dia sangat senang dia sangat bahagia sampai sampai dia terlelap dalam pelukan Yonatan.


"Amira!?" panggil Yonatan.


"Amira?" pria itu menarik wajah Amira, tau tahunya Amira sudah terlelap dalam pelukan Yonatan.


" Hahah... cepat sekali tidurnya," gumam Yonatan sambil mengusap air mata Amira.


Dia membaringkan istrinya di atas kasur, menyelimuti tubuh Amira dengan selimut tebal.


"Ternyata itu mengganggu pikiran mu sampai kau menangis sesenggukan seperti tadi," gumam Yonatan seraya menyingkirkan anak rambut Amira.


Dia menatap wajah cantik dan lembut itu, membuatnya berdebar dan tersenyum lembut.


Cup!


tanpa sadar Yonatan mengecup kening Amira.


" Astaga! kenapa aku jadi seperti ini!? "Yonatan tersadar dengan perbuatannya barusan. Pipinya memerah, dia terkejut atas dirinya sendiri.


"huffthh... sebaiknya aku menemui adik ipar!" gumam Yonatan seraya menepuk dadanya yang berdegup kencang.


Dia keluar dari kamar itu setelah memastikan Amira terlelap dengan tenang.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2