
Dea duduk di dekat jendela kamar bangsal Sagara yang mengarah ke taman bagian Utara. Menatap bulan yang bersinar terang di langit hitam malam itu.
"Sedang menikmati bulan sayang?" Sagara duduk di samping istrinya sambil memberikan secangkir teh melati yang sangat wangi.
"Malam ini begitu indah, akan sia sia jika tidak dinikmati Kak Gara," balas Dea sembari menyeruput teh melati itu.
Sagara dan Dea duduk berduaan di bangsal pria itu. menikmati malam yang sunyi dengan belaian lembut angin sepoi-sepoi dari sang alam.
"Dea..."Sagara mengambil tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Ada apa? kulihat sepertinya ada yang mengganggu pikiran suamiku ini," tanya Dea sambil tersenyum dengan lembut.
Sagara menatap istrinya untuk waktu yang lama, dia hanya menatap wajah cantik itu tanpa mengucapakan apa apa.
Tetapi di dalam hatinya berkecamuk kekhawatiran yang mendalam tentang masa depan rumah tangganya dengan Dea.
Penyakitnya semakin serius. Saat dia berbicara dengan dokter Arthur beberapa hari yang lalu, dokter Arthur menyarankan Sagara menjalani operasi besar untuk memperbaiki kerusakan pada katup jantungnya.
Selain itu penyakit lain kini tengah menggerogoti tubuh Sagara. Efek asap tebal yang dia hirup saat kecelakaan belasan tahun lalu ditambah makanan tidak sehat yang masuk ke tubuhnya menyebabkan dirinya menderita penyakit mematikan.
"Sagara, saya dengan berat mengatakan ini pada anda," Dokter Arthur memegang kertas hasil scan menyeluruh Sagara beberapa hari lalu. Hasil scan yang dia simpan dan sembunyikan dari Sagara karena khawatir Sagara akan tertekan karenanya.
"Ada apa dok? apa ini berhubungan dengan keluhan saya beberapa waktu lalu?" tanya Sagara sambil menatap dokter Arthur serius.
Yang menemani Sagara di sana hanya dokter Barak, sekretaris Lin dan Bima.
"Katakan dengan jelas dokter Arthur, apa hasilnya!" desak Sekretaris Lin dengan wajah was was.
"Kalian tenanglah, biar dokter Arthur menjelaskan!" ucap Barak yang sudah tahu keadaan buruk pada tubuh Sagara.
Dokter Arthur menatap Sagara sambil menghela nafas, jelas dari raut wajahnya mengatakan bahwa Sagara dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Penyempitan jantung memang masalah utama yang Sagara derita bertahun-tahun, tetapi dengan berat hati saat ini saya memberitahukan anda bahwa Anda mengalami kanker paru-paru stadium dua!" ucap Dokter Arthur dengan nada dingin.
Degh!!
Sagara, Sekretaris Lin dan Bima syok begitu mendengar penjelasan dokter Barak terkait kondisi Sagara saat ini.
"Hasil pemeriksaan Minggu lalu sangat buruk, saya terkejut betul saat melihat gumpalan mencurigakan yang mulai menggerogoti paru paru anda tuan," jelasnya.
" Kita harus segera mengambil tindakan, jika tidak, nyawa anda adalah tanggungannya!" tukas pria itu dengan wajah serius.
Sagara terdiam membeku, sama halnya dengan sahabat-sahabatnya.
"Ku.. kudengar penyakit ini tidak dapat di sembuhkan!!" Lin tampak panik.
__ADS_1
"Kesempatan sembuhnya kecil, tetapi dengan pengobatan rutin saya yakin tuan muda akan selamat asalkan mengikuti perkataan saya!" ucap dokter Arthur.
"Segera lakukan tindakan dok, saya belum mau mati, saya bar menikmati kehidupan saya, lakukan sesuai dengan prosedur!" tukas Sagara dengan tatapannya yang tajam.
Dia terlihat kuat, meski syok dengan kondisinya, dia tahu mengendalikan pikirannya sendiri.
"Saya sudah mempersiapkan pengobatan untuk anda tuan. Tetapi sekali lagi saya ingatkan, pengobatan ini berjangka lama. Mungkin anda akan menghabiskan waktu sampai lima tahun dalam masa pengobatan untuk tiga penyakit anda!" jelas dokter Arthur.
Sagar terdiam sejenak. Mendengar waktu yang diucapkan dokter Arthur berhasil membuat keraguan dalam hatinya.
Jika demikian, dia harus berpisah selama bertahun-tahun dari istrinya. Tentu dia tidak ingin memberitahukan semua ini pada Dea, dia takut istrinya khawatir.
"Apapun itu selama saya bisa sembuh!" ucap Sagara dengan lantang tanpa keraguan sedikitpun.
"Itu benar, selama lima tahun kau beristirahat. Biar kami yang mengurus perusahaan, Dea bisa menjagamu selama masa perawatan!" ucap Bima yang setuju dengan keputusan itu.
" Tidak!" Sagara menolak..
" Dea tidak akan dilibatkan dalam proses ini, bagaimana jika dalam pengobatan ini aku mati? dia akan hidup dalam kesedihan bahkan menyalahkan dirinya seumur hidupnya!" ucap Sagara.
" Dea tidak boleh tahu masalah kanker ini, Jangan sampai seorang pun membocorkan masalah ini pada Dea! jika tidak, nyawa kalian taruhannya!" kecam Sagara.
"Tapi tuan muda, nyonya akan..." Lin berhenti bicara.
Mereka terhenyak, Sagara benar benar tidak bisa dibujuk. Sekali membuat keputusan maka dia akan sulit menariknya kembali.
Kembali ke bangsal Sagara, pria itu masih menatap Dea dengan wajah melamun. mengingat semua penjelasan dan rencana pengobatannya bersama Dokter Arthur.
"Sayang? Kak Gara!? heh.. kok melamun!?" Dea menepuk pipi suaminya yang terlihat diam saja.
" Hah.... Dea!!" Sagara tiba tiba menarik dan memeluk Dea dengan erat.
Dia memeluk wanitanya, tak ingin kehilangan momen bersama istrinya, memeluknya erat-erat sambil memejamkan matanya.
Ketidakpastian membuat hati Sgaara bimbang. Takut dirinya akan mati dan meninggalkan Dea sendirian, takut Dea bersedih atas kematiannya, takut istrinya hiduod alam kesedihan setiap hari.
"Dea... aku benar benar mencintaimu, aku benar benar menyayangimu," ucap Sagara sambil menahan rasa sesak di dadanya.
Dea terdiam sejenak, "Aku tahu apa yang kau pikirkan kak Gara, aku tahu semuanya, termasuk penyakitmu itu, aku akan menunggumu, aku akan menantikan mu, meski membutuhkan waktu yang lama, " batin Dea.
Perempuan itu menangkupkan kedua tangannya di pipi Sagara," Wah suamiku Sekar jadi romantis ya!" celetuk Dea sambil tersenyum manis.
"Aku tahu kau paling mencintaiku, aku tahu kau tak bisa hidup tanpaku, karena aku pun demikian!" ucap Dea sambil tersenyum bahagia.
Sagara menatap istrinya, " Terimakasih sudah berada di sisiku Dea, terimakasih," ucap Sagara sambil menatap wajah istrinya.
__ADS_1
Dea mengusap dada suaminya," Apa di sini masih sering sakit? sudah seperti apa keadaannya?" tanya Dea.
"Tidak baik baik saja Dea, keadaannya cukup buruk, bahkan mengkhawatirkan," Jawab Sagara dengan jujur.
Dea menatap dada suaminya, tempat di mana jantung suaminya berada.
Dea ingin berteriak dan menangis,rasa takut dalam hatinya membuat wanita itu ingin menuntut kepada dunia atas penyakit suaminya.
Tetapi dia tahu betul, jika dia bersedih di hadapan Sagara maka suaminya akan semakin lemah.
Perempuan itu menatap mata suaminya, menatap Pria yang dia cintai dengan penuh kasih sayang.
"Aku bersamamu, aku ada di sisimu, apa pun yang sedang kau pikirkan dan rencanakan baik yang kau simpan rapat-rapat aku akan selalu mendukungmu sampai kau mengatakannya padamu," ucap Dea dengan lembut.
" Dea... apa kau.... "Sagara terkejut dengan ucapan Dea.
Dea tersenyum," Kalau belum mau mengungkapkan nya tak apa, aku akan menunggumu, seberapa lama pun itu, aku akan menunggumu," ucap Dea dengan mata berkaca-kaca.
Hati Sagara dipenuhi dengan kehangatan, dia menatap wanita itu dengan penuh cinta, menarik tengkuk Dea hendak mengecup istrinya hingga tiba-tiba...
" Adik ipar!!! Adik ipar keluarlah!!!"
bam!! bam!! bam!!!
Suara teriakan Yonatan menghentikan mereka.
" Ada apa dengannya!? kenapa dia membuat keributan malam malam begini!?" kesal Sagara.
"Dea, Sagara keluarlah ini darurat!! aku masuk saja ya!!" teriak Yonatan lagi membuat kekacauan di depan bangsal Sagara.
" Sudah jangan pedulikan dia,lanjutkan yang tadi saja!' ucap Sagara menarik tengkuk Dea.
" Sagara!!! Dea!!!! keluarlah!!!" teriak Yonatan lagi.
"Hahahah... sayang sudahlah, kita keluar dulu, mungkin ada yang perlu, kakak ipar memanggil, ayo!" ajak Dea sambil tertawa dan bangkit dari kursinya.
" Haihh, dasar kakak durhaka,mengganggu malam indahku saja!" ketus Sagara.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1