
Merina fokus dengan memasaknya, sambil menunggu papah Erik selesai mandi sorenya.
Namun yang ditunggu tunggu tak jua keluar dari kamarnya.
"Kok tuan besar Erik, ga keluar keluar ya?? Apa ketiduran mungkin ya? "gerutu Merina."
Sementara Arjuna gelisah menyetir mobilnya. Pikirannya tertuju pada Merina terus. Dirinya penasaran, apakah papahnya mengijinkan Merina mengundurkan diri.
"Semoga papah tak menerima pengunduran diri dari Merina. Kenapa ya, Merina ga peka denganku?? Selama ini aku selalu berusaha mendekatinya. Namun kok Merina selalu bersikap dingin padaku?? "gerutu Arjuna sembari mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. "
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Arjuna terus saja menggerutu. Dan sesekali berharap supaya papahnya tak menerima pengunduran diri dari Merina.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sudah menjelang pukul 7 malam.
Papah Erik keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Dimana telah tersaji berbagai menu masakan yang sangat menggiurkan.
Seperti biasa papah Erik mencari cari Tama untuk di ajak makan malam. Namun kali ini, Tama sudah tidur.
Hingga papah Erik makan malam sendiri. Tak enak juga jika mengajak Merina untuk sekedar makan malam bersama.
Setelah beberapa menit menghabiskan makan malamnya. Papah Erik bangkit, beranjak ke ruang tengah untuk sejenak menonton televisi.
Sementara Merina telah membereskan meja makan. Merina melangkah ke ruang tengah untuk menemui papah Erik.
"Maaf tuan besar, saya ingin bicara sebentar dengan tuan "ucap Merina terlihat gugup. "
Papah Erik mengecilkan volume televisinya.
"Ya Mer, ngomong saja "jawab papah Erik singkat. "
"Begini tuan besar, saya ingin mengundurkan diri kerja disini.. "
Belum selesai Merina berbicara, papah Erik telah menyela.
"Loh kenapa Mer?? Apa gajimu kurang, kamu minta gaji berapa?? Nanti saya naikkan gajimu "sela papah Erik. "
"Maaf tuan besar, bukan masalah gaji. Awal saya kerja disini kan untuk merawat tuan muda Arjun. Lah, sekarang kan tuan muda Arjun sudah sehat, sudah bisa jalan. Jadi saya rasa, sudah tidak butuh saya lagi "jawab Merina gugup. "
"Siapa bilang Arjun sudah tidak butuh kamu lagi. Bukan hanya Arjun, saya juga butuh kamu. Sejak ada kamu, kami jadi bisa makan masakan rumah. Kami juga suka dengan Tama. Sebaiknya kamu pikirkan lagi Mer. Jika kamu berhenti dari sini, kamu mau kerja dimana?? Terus sekolah Tama bagaimana? "ucap papah Erik panjang lebar. "
"Saya sudah memikirkannya kok tuan besar, untuk permasalahan sekolah Tama itu gampang. Untuk saat ini saya ingin membuka usaha jahit kecil kecilan. Dengan modal yang saya punya "ucap Merina dengan bohongnya. "
__ADS_1
"Emang kamu sudah yakin?? Sudah mantep dengan keputusanmu ini. Lah kamu mau buka usaha jahit dimana? "tanya papah Erik menyelidik. "
"Saya akan pulang kampung tuan besar, di kampung ada sebuah peninggalan rumah milik almarhum orang tua saya "jawab Merina sekenanya. "
Papah Erik menghela nafas berat.
"Baiklah Merina, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Saya tidak bisa menahanmu dan melarangmu untuk pergi dari rumah ini "ucap papah Erik lesu. "
"Kapan kamu akan balik kampung?? Kalau bisa jangan sekarang, karena malam malam bahaya.Lebih baik besok pagi saja "saran papah Erik. "
"Saya berniat besok pagi, pulang kampungnya kok tuan. Bukan malam ini bukan"ucap Merina."
"Ya sudah pesan saya jaga dirimu baik baik. Kalau bisa sewaktu waktu mainlah ke sini "ucap papah Erik. "
"Oh iya kamu tunggu sebentar disini ya Mer? "ucap papah Erik bangkit dari sofa melangkah ke kamar. "
Tak berselang lama, papah Erik telah kembali lagi ke ruang tengah. Dengan amplop coklat di tangan.
Papah Erik memberikan amplop coklat itu pada Merina.
"Ini uang pesangon untukmu Mer. Pergunakan baik baik untuk kebutuhanmu dan juga Tama. "
Merina tak langsung menerimanya.
"Sudahlah terima saja, saya ikhlas kok memberikannya padamu "ucap papah Erik dengan paksa menaruh amplop coklat tersebut ke tangan Merina. "
Hingga Merina tak bisa lagi menolaknya, dan terpaksa menerimanya.
"Trimakasih tuan besar, kalau begitu saya permisi dulu "ucap Merina kemudian meninggalkan ruang tengah. "
Merina kembali ke kamarnya, dengan segera mengemasi semua barang barangnya. Agar besok pagi tak gugup untuk pergi.
Setelah semua tertata rapi, Merina mengirim notifikasi chat pesan pada Bayu. Jika dirinya sudah berpamitan pada papah Erik dan Arjuna.
Dan besok pagi Merina sudah keluar dari rumah Arjuna.
Bayu membalas notifikasi chat pesan dari Merina. Jika besok pagi Bayu akan mengirimkan salah satu asistennya untuk menjemput Merina dan Tama.
Bahkan Bayu telah menyiapkan sebuah rumah kontrakan dekat restoran untuk Merina dan Tama tempati.
Bayu menyewakan sebuah rumah buat Merina itupun atas ide dari Putri.
__ADS_1
Setelah membaca semua notifikasi pesan balasan chat dari Bayu. Merina senyam senyum sendiri.
"Puji syukur, aku bertemu dengan orang sebaik tuan Bayu dan non Putri. Heran banget, wanita sebaik non Putri kok disia siakan. Dasar Arjun bodoh "gerutu Merina. "
Rasa lega mendera, saatnya Merina berbaring untuk istirahat. Agar besok pagi bangun tidak kesiangan.
Lain halnya dengan Arjuna, yang tak tenang di rumah sakit. Terus saja kepikiran dengan Merina.
Hingga Arjuna menelfon papahnya, untuk memastikan apakah papahnya menyetujui keinginan Merina untuk mengundurkan diri.
Papah Erik yang hampir saja memejamkan mata, mengurungkan niatnya. Karena mendengar ponselnya berdering.
"Ngapain ni anak malam malam nelfon si "gerutu papah Erik. "
Kemudian papah Erik mengangkat panggilan telfon dari Arjuna.
Papah Erik : "Ada apa si Jun, kamu malam malam telfon?? Papah sudah mau tidur jadi urung?? "
Arjuna : "Ya ile jutek amat si pah. Arjun cuma mau tanya, itu Merina ngomong ga ke papah kalau ingin mengundurkan diri ?"
Papah Erik : "Iya Jun, emang kenapa?? "
Arjuna : "Sempat Merina ngomong ke Arjun, tapi Arjun bilang itu bukan wewenang Arjun. Arjun nyuruh Merina ngomong ke papah. Terus papah ijinin ga? "
Papah Erik : "Ya mau bagaimana lagi Jun. Merinanya memaksa. Katanya mau balik kampung. Mau buka usaha menjahit di kampung. "
Arjuna : "Aduhhh, harusnya jangan dong pah..Bagaimana si papah ini??!! "
Papah Erik : "Loh kok kamu nyalahin papah?? Apa jangan jangan kamu itu suka ya sama Merina? "
Arjuna : "Jujur iya pah, tapi Arjun susah deketin Merina. Arjun lagi berusaha malah Merinanya mau pergi. "
Papah Erik : "Sudahlah Jun, mungkin Merina itu ga ada hati sama kamu. Jadi di deketin kamu ga ada respon sama sekali. "
Papah Erik : "Ga usah ambil pusing, cari saja wanita lain. Sudah ya, papah ngantuk mau istirahat. "
Panggilan telfon dimatikan sepihak oleh papah Erik.
😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱😱
Jangan lupa like, vote, favorite 😊😊😊😊😊😊
__ADS_1
Makasih yang sudah kasih dukungan baik like, vote, fav, koment..
Mohon maaf bils tak bales koment satu persatu.. 😊😊😊