
Terhitung mulai hari ini Alena dan Dimas akan segera melangsungkan pernikahan.
Mereka mulai sibuk dengan berbagai aktivitas untuk persiapan pernikahan mereka, yang nyatanya walaupun sibuk mereka selalu berdua.
Bagai sepasang kekasih yang tak akan berpisah, mereka selalu gandengan tangan kemanapun.
Ditengah kesibukan mereka, tiba-tiba Pras menelepon Alena dan Alena melirik Dimas sebagai kode minta izin.
Alena menjawab teleponya.
"[Assalamu'alaikum, len! maaf aku terpaksa meneleponmu, Novi ingin bertemu denganmu, ia terus memintaku memanggil namamu]" ucap Pras menyampaikan tujuannya.
"[Wa'alaikumsalam, mas! ada apa dengan Novi, mas? kenapa ia memanggil namaku terus?]" tanya Alena bingung.
"[Aku tidak bisa menjelaskannya ditelepon, bagaimana jika kamu melihatnya sendiri! tapi semenjak kecelakaan tempo hari ia hanya mengigau namamu]" jawab Pras menjelaskan.
"[Apa? kecelakaan, mas? terus bagaimana keadaan dia sekarang?]" tanya Alena panik.
"[Novi tidak sadarkan diri sampai sekarang, ia hanya terus mengigau namamu!]" jawab Pras.
"[Oke sebentar lagi aku dan Dimas akan segera ke rumah sakit]" kata Alena.
Alena mematikan teleponnya.
Setelah ia menjelaskan dengan Dimas semuanya, mereka segera menuju rumah sakit.
Dan disana sudah ada Pras yang menunggu mereka diruangan.
__ADS_1
Tubuh Novi saat itu hanya terkulai tak berdaya di atas kasur rumah sakit.
Saat Alena mendekatinya tubuh Novi mulai merespon, jari tangannya bergerak.
Pras memanggil dokter untuk mengecek kondisi istrinya.
Setelah dokter selesai memeriksa, Pras mendekati dokter.
"Bagaimana dok dengan kondisi istri saya?" tanya Pras khawatir.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kemungkinan sebentar lagi ibu Novi segera sadar dari komanya, pak! bisa jadi besok sudah lebih baik," jawab dokter menjelaskan.
Dan benar saja Novi sadar dari komanya, ia langsung meminta pelukan Alena.
Ia menangis dipelukan Alena.
"Maaf, maafkan aku Len! aku tidak tahu setan apa yang merasukiku sampai aku tega berbuat jahat padamu, ini teguran untukku! aku tidak mau pergi sebelum meminta maaf, maafkan aku len!" jawab Novi menangis tersedu-sedu.
"Itu masalalu, Nov! jadi biarlah itu berlalu, aku juga sudah memaafkanmu," ujar Alena bijak.
Ia melepaskan pelukan itu.
"Ohiya..Nov kamu tidak perlu mengingat masalalu karena yang terpenting aku sudah menemukan seseorang yang akan mendampingiku inshaallah seumur hidup," tambah Alena menggenggam tangan Dimas.
Dimas merasa bahagia saat Alena menggenggam tangannya.
Pras merasa lega akhirnya Alena bisa bahagia walau tidak bersamanya.
__ADS_1
...****************...
Pras menghampiri Dimas.
"Dim, bisakah kita bicara diluar sebentar?" tanya Pras.
Dimas menganggukkan kepalanya dan mereka keluar ruangan.
Tanpa panjang lebar dan berbasa-basi lagi Pras langsung mengungkapkan isi hatinya.
"Dim terimakasih kamu selalu ada buat Alena, terimakasih sudah membuatnya bahagia, aku yakin kamu lelaki yang jauh lebih baik dariku, aku titip Alena ya! bahagiakan dia, dia sudah banyak menderita karena ku! semoga kalian terus bahagia selamanya, jangan pernah menjadi lelaki bodoh sepertiku," ungkap Pras.
Walau dihatinya masih ada rasa yang mungkin tertinggal, namun ia belajar menerima semua keadaan ini.
Baginya kini yang terpenting tidak ada lagi yang tersakiti karena perbuatannya.
Semua sekarang semakin membaik, mereka bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.
Seminggu sudah Novi dirawat di rumah sakit, sekarang keadaannya jauh kebih baik dari sebelumnya.
Alena ikut menyambut kepulangan Novi dari rumah sakit.
Alena, Dimas dan mama Eni menyiapkan semua untuk menyambut kedatangan Novi.
Alena ingin hari itu menjadi hari spesial untuk Novi.
Ia juga menyiapkan undangan pernikahan mereka untuk diberi pada Novi dan Pras.
__ADS_1
Ia berdiskusi sebelumnya dengan Dimas agar Novi dan Pras menjadi saksi pernikahan mereka, dan Dimas menyetujuinya.