
Kata-kata Novi masih terngiang ditelinganya.
Ia mengatakan cara mengasuh Alena itu salah dan keceplosan mengatakan wajar Alena salah karena ia belum pernah melahirkan dan menjadi seorang ibu.
Alena tidak menyangka Novi akan berkata seperti itu, Novi yang ia kenal akan menjaga perkataannya tapi hari itu terlihat berbeda.
Keesokan paginya Novi mendatangi kamar Alena sesudah berangkat kerja.
"Len, boleh aku masuk?" tanya Novi mengetuk pintu.
"Ya, silahkan! tidak aku kunci kok pintunya," jawab Alena mempersilahkan Novi masuk.
"Len, boleh aku bicara sesuatu?" tanya Novi.
Alena menganggukkan kepalanya.
"Len, maaf jika perkataanku kemarin membuatmu kesal dan sedih, aku benar-benar tidak bermaksud menyinggungmu, maafkan kesalahan dan ketidak sengajaanku len," ucap Novi.
"Nov, wajar kamu menyalahkan aku karena memang kamu ibu kandung Alvaro tapi aku sedang berusaha juga menjadi ibu yang baik untuknya, mengapa kamu tidak bisa berbagi anak? aku juga ingin menjadi seorang ibu walau dia bukan anak kandungku tapi aku juga menyayanginya," jelas Alena.
"Iya aku tahu len, makanya aku minta maaf atas kesalahanku," kata Novi.
"Sudahlah Nov, kamu sudah aku maafkan," ucap Alena memaafkan.
Mereka berpelukan dan salah paham diantara mereka sudah berakhir.
Mereka kembali bersikap seperti biasa lagi, bercerita dan bersenda gurau.
Mereka kembali tampak bersama melakukan aktivitas rumah tangga, memasak, menyiapkan makanan, dan bermain dengan Alvaro.
__ADS_1
Saling membantu membersihkan rumah membuat suasana rumah terlihat indah.
Pras selalu menginginkan kedua istrinya akur dan bahagia walau kata orang dua wanita tak bisa tinggal disatu rumah.
Mereka mematahkan pendapat orang, walau dimadu itu rasanya sakit tapi karena Alena dan Novi bersahabat dan terpaksa ada di situasi ini, mereka berusaha menerimanya walau berat untuk mereka.
...************...
Tiba-tiba Novi pingsan saat bermain dengan Al.
Ia terlihat pucat pasi dan beberapa hari kebelakang terlihat mual-mual.
"Mungkinkah Novi hamil?" gumam Alena dalam hati.
Alena memapah Novi yang pingsan keatas sofa.
Ia mengoleskan minyak angin kehidung Novi.
Akhirnya Novi tersadar dari pingsannya.
"Ada apa len?" tanya Novi.
"Kamu yang kenapa, kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Alena balik.
"Nggak tahu kenapa kepalaku terasa pusing dan mual-mual rasanya seperti mau muntah," jawab Novi.
"Apa mungkin kamu hamil!" tebak Alena.
"Aku nggak tahu len," balas Novi
__ADS_1
"Kamu ada tespek nggak? coba periksa dulu pake tespek," suruh Alena.
Keesokan paginya Novi mencoba saran Alena dan benar saja ia hamil.
Ia ingin memberitahu Alena dan Pras segera, tapi ternyata Pras sudah berangkat kerja.
Ia segera menemui Alena di teras, tampak Alena yang sedang bermain dengan Alvaro.
"Alena..!" teriak Novi memanggil Alena.
"Iya Nov, aku nggak budek kok sampai-sampai kamu harus teriak," sahut Alena.
Novi langsung memelukmemeluk Alena.
Alena bingung melihatnya lalu ia bertanya.
"Kamu kenapa? nampaknya sedang bahagia?" tanya Alena bingung.
Novi terlihat bahagia dan ia menunjukkan hasil tespeknya pada Alena.
"Positif!" cengang Alena.
"Selamat ya Nov! kamu akan segera punya anak lagi, apa kamu sudah memberitahu mas Pras?" tanya Alena.
"Belum len, tadi mas Pras keburu berangkat kerja! aku nggak sabar pengen dia cepat-cepat pulang dan segera memberitahunya kalau dia akan menjadi seorang buat kedua kalinya," kata Novi bahagia.
Alena sebenarnya merasa iri pada Novi karena ia sedang hamil sementara Alena hanya bisa berharap segera merasakan lagi.
Berusaha terlihat akur ternyata tidak semudah dibayangkan.
__ADS_1