
Setelah membaca pesan itu Alena masih bersikap biasa saja karena memang tak merasakan apa-apa.
Bagi Alena Dimas itu sudah dia anggap seperti adiknya.
Entah Alena polos atau memang tak mau tahu akan perasaan Dimas, sehingga ia tidak bisa merasakan perhatian lebih yang Dimas berikan kepadanya selama ini.
Dimas pergi bermaksud ingin berusaha melupakan Alena.
Ia tak mampu terus berada di jakarta dengan segala kenangan Alena bersamanya.
Dimas melakukan perjalanan jauh keluar negeri untuk waktu yg cukup lama.
Dimas masih menunggu Alena, ia berharap Alena akan datang dan memberi perpisahan tapi ternyata itu sekedar harapan saja karena Alena tidak akan datang.
Sampai waktunya tiba, pesawat akan lepas landas tapi Dimas tetap berharap akan hal yang mustahil itu.
Alena sedang menikmati masa-masa bahagianya kembali kerumah Pras.
Sudah seminggu sejak kepergian Dimas dan kepulangan Pras dari rumah sakit, Alena sama sekali tidak kehilangan Dimas.
Sampai suatu saat ia berusaha menelepon Dimas, tapi Dimas tidak mengangkatnya.
Dimas kecewa karena Alena terkesan melupakannya.
Disaat ia membutuhkan Alena, Alena hanya sibuk dengan rumah tangganya.
"Dimas, kok nggak jawab teleponku ya! apa dia nggak peduli lagi padaku? aku kan hanya mau tahu kabarnya," gerutu Alena.
__ADS_1
"Ada apa sayang, dari tadi aku lihat kamu gelisah aja?" tanya Pras bingung.
Alena terkejut karena Pras tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
" Ah..mas ngagetin aja! ini aku lagi nelpon Dimas karena sudah seminggu ini nggak ngasih kabar bahkan pas hari keberangkatan dia nggak pamit dan pamit cuma dari pesan whatsapp," jawab Alena menjelaskan kegundahan hatinya.
Pras mendekati Alena yang sedang duduk di depan meja rias dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa? apa kamu rindu padanya?" tanya Pras.
"Tidak mas! tapi aku kan kakaknya, apa pantas dia tidak mengabarkanku?" tanya Alena.
"Boleh nggak aku ngomong kalau kamu itu hanya dianggap kakak bukan kakak kandung, jadi mungkin dia sedang ada masalah pribadi dan dia segan mengatakannya padamu," jawab Pras menjelaskan.
Alena terdiam dan memikirkan apa yang dibicarakan oleh Pras.
...****************...
Mereka berdua menjadi ibu untuk Al dengan sangat baik.
Tetapi terkadang mereka selisih pendapat soal cara pengasuhannya.
Sampai suatu saat Novi keceplosan bicara yang membuat Alena tersinggung.
Alena murung mendengar ucapan itu, dan langsung mengunci diri dikamarnya.
Alena tidak turun untuk makan siang dan makan malam.
__ADS_1
Ia bersedih mendengar ucapan yang menusuk jantungnya.
Sampai tiba saatnya Pras pulang dan ia tidak melihat Alena disana.
"Sayang, mana Alena, kenapa ia tidak turun untuk makan malam?" tanya Pras pada Novi.
"Dia masih diatas dikamarnya, dia tidak mau turun," jawab Novi jujur.
"Ada apa? kenapa dia tidak mau turun?" tanya Pras.
Novi diam, ia bingung harus jawab apa.
Pras langsung naik keatas dan langsung menuju kamar mereka.
"Sayang, tolong buka pintunya ini aku!" pinta Pras yang mengetuk pintu kamar.
Alena menjawab dan ia membukakan pintu untuk suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? kenapa tidak turun untuk makan malam bersama?" tanya Pras.
Alena hanya menggelengkan kepalanya.
"Ada apa sayang? kamu baik-baik saja kan?" tanya Pras lagi.
Akhirnya Alena menjawabnya.
"Iya mas, aku nggak apa-apa cuma nggak nafsu makan saja," jawab Alena.
__ADS_1
"Kamu nggak lagi ngambek kan?" tanya Pras menebak.
"Enggak mas! aku hanya ingin sendiri, bisakah kamu meninggalkanku sendiri disini!" pinta Alena pada Pras.