
Pagi menjelang,Merina bangun pagi sekali. Untuk memasak sarapan terakhir buat majikannya.
Untung pagi ini Tama belum bangun. Tidur Tama semalaman ini nyenyak sekali.
Merina juga telah membersihkan rumah Arjuna. Merina ingin, sebelum dirinya pergi. Kondisi rumah majikannya tidak berantakan.
Setelah semua urusan rumah selesai, Merina segera melakukan ritual mandi paginya. Beberapa menit setelah selesai mandi pagi.
Tama terbangun, mengerjapkan matanya.
"Mama, kok Tama ga di bangunin?? Kan Tama jadi ga bantuin mama dong?? "rajuk Tama manyun. "
"Ga apa apa sayang, oh iya Tama sarapan dulu ya "Ucap Merina memberikan sepiring sarapan."
Setelah memberikan sarapan pada Tama, Merina mengecek apakah papah Erik telah bangun.
Ternyata papah Erik telah bangun dan sedang menyantap sarapannya.
Merina kembali lagi ke kamarnya, untuk menemani sarapan anaknya.
"Mer, Merina.. "panggilan dari papah Erik. "
"Iya tuan besar "jawab Merina tergopoh gopoh menghampiri majikannya. "
"Mer, saya akan ke rumah sakit. Kamu kalau mau pergi, tunggu Arjun pulang dulu ya? "pesan papah Erik. "
"Baik tuan besar "jawab Merina sembari tertunduk. "
Sementara papah Erik berlalu dari ruang makan, segera bersiap siap untuk ke rumah sakit.
Papah Erik ke rumah sakit bersama dengan sopir pribadinya.
Seperginya papah Erik, pulanglah Arjuna dengan wajah murung. Arjuna lekas ke kamar untuk ke kamar mandi melakukan ritual mandi paginya.
__ADS_1
Setelah itu langsung ke ruang makan, dimana menu sarapan masih tersaji. Karena Merina sengaja tak membereskannya dulu, menunggu Arjuna sarapan dulu.
Begitu Arjuna selesai sarapan, Merina segera membereskan meja makan. Tak lupa dirinya terlebih dulu juga sarapan.
Sebelumnya Merina telah memberikan pengertian pada Tama. Jika pagi ini akan pindah ke tempat kerja lain.
"Nak, pagi ini kita akan pergi dari rumah om Jujun. Mama sudah berpamitan pada kakek Erik juga om Jujun "ucap Merina perlahan lahan pada Tama. "
"Kenapa pindah ma, kan Tama sudah betah sekolahnya ?"tanya Tama dengan polosnya. "
"Sayang, tugas utama mama disini kan merawat om Jujun. Sekarang kan om Jujun sudah sehat sudah bisa jalan. Jadi sudah ga perlu mama lagi. Tama sayang dengerin mama baik baik ya. Entar Tama sekolah lagi di tempat baru, tapi ada temen 2 orang. Adiknya tante Putri. Maafin mama ya sayang, Tama jadi pindah pindah sekolah. Tapi kali ini ga akan pindah pindah lagi kok "ucap Merina panjang lebar sembari menatap lekat anaknya. "
Sejenak Tama terdiam, sedang merenungi ucapan mamanya. Kemudian setelah paham, barulah Tama berucap.
"Iya ga apa apa mama, kemanapun mama pergi yang penting Tama ikut. Karena Tama harus jagain mama, karena papa sudah di surga. Tama yang akan lindungi mama, biar ga ada yang nakalin mama "jawab Tama sumringah. "
Merina berkaca kaca mendengar penuturan dari anak sekecil Tama. Anak yang baru usia 5 tahun tapi seperti telah dewasa.
"Makasih ya sayang, sekarang kita pamitan sama om Jujun. Karena di depan rumah om Jujun, sudah menunggu jemputan untuk kita "ucap Merina sambil menggandeng Tama,tangan satu membawa koper. "
Arjuna telah siap diteras, untuk menggagalkan rencana kepergian Merina dan Tama. Arjuna telah merencanakan semuanya dari tadi malam.
Merina mencari Arjuna dari ruang ke ruang,dari sudut ke sudut. Hingga akhirnya Merina menemukan Arjuna di teras depan rumah.
"Maaf tuan muda,saya pamit ya. Semalam saya sudah ijin sama tuan besar Erik. Dan tuan besar Erik telah mengijinkan "pamit Merina tertunduk.
"Tapi saya tidak mengijinkanmu pergi dari sini. Jadi kamu tidak bisa pergi"jawab Arjuna tanpa berani menatap Merina. "
"Tama, Tama nunggu mama di depan halaman dulu sebentar ya sayang. Mama ingin bicara sebentar sama om Jujun "perintah Merina ke Tama. "
Karena Merina tidak ingin Tama mendengar pembicaraannya dengan Arjuna. Biarpun Tama baru umur 5 tahun, jalan pemikirannya sudah seperti orang dewasa.
Tamapun mengangguk tanda mengerti, dan langsung berlari ke halaman rumah. Bermain main dengan bola kesayangannya.
__ADS_1
"Mohon maaf tuan muda, bukannya waktu sore hari tuan sendiri yang berbicara jika saya mengundurkan diri itu bukan wewenang tuan?? Tapi wewenang tuan besar, hingga saya semalam juga telah berbicara pada tuan besar. Dan tuan besar mengijinkan saya pergi dari rumah ini "ucap Merina panjang lebar. "
"Glek glek " Arjuna menelan salivanya.
Arjuna menghela nafas panjang untuk sejenak.
"Mer, aku mohon kamu tetap disini ya. Bukan sebagai perawatku lagi, tetapi aku ingin menjadikanmu pendamping hidupku "ucap Arjuna tiba tiba berlutut dihadapan Merina sambil menggenggam kedua tangan Merina. "
Merina tak tinggal diam, secepat kilat melepaskan pegangan tangan Arjuna.
"Maaf tuan muda, tolong jangan bersikap seperti ini. Ada anak saya tuan. Saya juga minta maaf, selama ini saya anggap tuan tak lebih dari majikan saya. Jadi saya tidak bisa menerima ataupun bersedia jadi apa yang tuan inginkan "ucap Merina sinis. "
"Mer, aku serius ga main main denganmu. Bukalah hatimu sedikit untukku. Apa kamu ga ngerasain jika Tama juga telah dekat denganku?? Apa salahnya aku ingin menjadi papa sambungnya?? "rayu Arjuna kembali. "
"Saya juga serius tuan muda, saya juga tidak main main. Saya tahu jika tuan muda sudah dekat dengan anak saya. Namun maaf saja tuan muda, cinta saya masih untuk almarhum papa Tama. Jadi mohon, jangan paksa saya untuk menerima tuan muda. Bukannya sesuatu yang dijalani dengan unsur keterpaksaan hasilnya tidak akan baik?? "jawab Merina panjang lebar. "
"Mer, aku mohon sekali ini saja. Beri aku kesempatan untuk menggantikan posisi almarhum suamimu. Aku janji Mer, akan setia dan tanggung jawab padamu serta Tama. Aku tidak akan menyia nyiakan kalian "bujuk rayu Arjuna kembali. "
"Mohon maaf yang sebesar besarnya tuan muda, saya tidak bisa berlama lama disini. Karena pesanan travel saya sudah menunggu dari tadi di depan rumah ini "pamit Merina berlalu begitu saja meninggalkan Arjuna. "
Dengan langkah seribu, dengan berjalan agak cepat. Merina menghampiri Tama dan menggandengnya keluar dari pintu gerbang.
Dibalik pintu gerbang telah menunggu sebuah mobil dengan seorang sopirnya sekaligus. Bayu telah memerintah salah satu anak buahnya untuk menjemput Merina dan Tama.
Merina segera membuka pintu gerbang dan langsung masuk mobil tersebut. Tanpa tunggu lama lagi, mobilpun dijalankan oleh sang anak buah Bayu.
Seperginya Merina, Arjuna kelimpungan.
"Aarghhhhh.. kenapa si!!! Dikala aku sudah menemukan sosok seperti Putri. Tapi mendapat penolakann... Padahal aku benar benar akan berubah!!! Aku tidak akan mengulangi kesalahanku tempo dulu!!!! Kenapa!! Kenapa!!! "Arjuna berteriak histeris menendang meja kursi yang ada di teras. "
Kemudian Arjuna masuk ke dalam rumah dengan tangan meninju ninju tembok hingga berdarah.
Arjuna terkulai lesu, terduduk di lantai ruang tamu. Dengan menangis meratapi hidupnya yang benar benar telah hancur karena kebodohannya sendiri.
__ADS_1
😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯😯
Hay ka, bagi vote nya dong. Mumpung hari senin, author ngemis vote 🙊🙊🙊🙊