
Suara adzan subuh mulai berkumandang, akupun bergegas bangun lalu mandi serta berwudhu.
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh serta berdoa kepada sang maha pencipta. Aku kembali ketempat tidur dan merenung, biasanya selepas shalat aku langsung turun kebawah membantu bi Minah menyiapkan sarapan. Tapi sekarang aku malas untuk keluar kamar dan melihat Mas Rama dan putri.
Pukul 6.30 Rama putri dan Raisa sudah berkumpul dimeja makan, kecuali Ratih yang belum terlihat.
"Bunda kemana sayang, ko tumben belum keluar dari kamar ".. Ucap Rama pada Raisa.
"Raisa gatau ayah, kan ayah yang tidur sama bunda".. Ucap Raisa.
"Eh iya ya ayah tidur sama bunda".. Jawab Rama sedikt gelagapan..
"Mungkin Ratih masih tidur kali mas. Ntar juga dia kesini kalau udah bangun".. Seru putri sambil memakan nasi goreng nyah.
"Gamungkin Ratih belum bangun, dia itu ga pernah bangun siang put." Ucap Rama.
Namun putri tidak menjawab apa apa lagi dan pokus dengan nasi gorengnya begitupun dengan Raisa..
"Bi .." panggil Rama pada Minah.
Dengan sedikit tergopoh-gopoh bi Minah lalu menghampiri Rama yang berada di ruang makan.
"Iya pak ada apa panggil bibi." Tanya bi Minah.
"Saya cuma mau tanya, tadi waktu bibi siapin sarapan. Ibu bantuin ga kan biasanya suka bantu bibi kalau pagi.
Bi Minah pun lalu menggeleng pelan kepalanya..
"Ngga pak tadi ibu ga keluar dari kamarnya, bibi juga aneh ga seperti biasanya ibu begini "..
"Yaudah ya bi makasih.." Ucap Rama.
__ADS_1
Bi Minah hanya tersenyum lalu pergi dari tempat itu.
Setelah bi Minah pergi tak lama kemudian Ratih datang dengan keadaan mata sembab dengan wajah yang begitu lusuh..
Melihat kondisi Ratih seperti itu membuat Rama merasa sedih telah melukai perasaannya, terbesit dalam benaknya sedikit menyesal. Tapi Rama tidak bisa berbuat apa-apa karena Rama juga mencintai putri.
Berbeda dengan putri saat melihat Ratih tatapannya seperti biasa aja seakan tak ada rasa penyesalan sedikit pun apa yang telah dia lakukan pada Ratih.
"Bunda kenapa." Tanya Raisa saat melihat Ratih.
"Bunda ga apa-apa ko sayang". Ucap Ratih lalu duduk tanpa menatap Rama dan juga putri.
"Oya sayang, ntar habis sarapan kamu siap siap ya hari ini kita akan pergi berdua". Ucapku pada Raisa.
Mendengar ucapan Ratih sontak membuat Rama terkejut.
"Mau kemana Bun, ayah sama Tante putri ga ikut"..
"Ngga yang pergi cuma kita berdua, dan baju baju kamu sudah bunda bereskan..
"Memang nya kita mau kemana si bunda ko perginya cuma berdua aja"..
"Udah kamu diem aja, nurut aja apa kata bunda.
Raisa hanya mengangguk saja ..
Setelah selesai makan aku. menyuruh Raisa untuk berganti baju terlebih dahulu sebelum mereka pergi..
"Mas mohon Ra jangan pergi apa kamu ga kasian sama mas sayang".. Ucap mas Rama.
Muak rasanya mendengar ocehan dari mas Rama..
__ADS_1
"Apa kamu bilang mas kasihan. Terus apa yang dilakukan mas selama ini sama putri , apa kamu mikir kasihan sama aku dan juga anak kita ngga kan". Jawabku meluap luap.
"Kamu jangan pergi Ra, kita disini sama sama menjaga Raisa dan juga suami kita, aku ga apa-apa jadi yang kedua Ra. Aku harap kamu bisa Nerima ak jadi adik madumu.". Ucap putri seketika.
Apa dia bilang menjaga Raisa bersama dan satu lagi suami kita. Jangan harap aku mau menerima dia jadi adik maduku..
"Apa yang putri katakan itu benar Ra, cobalah kamu untuk belajar menerima ini semua". Ucap mas Rama yang membuatku begitu kaget.
Tak ingin aku berlama-lama diantara mereka , aku putuskan untuk masuk kamar dan bersiap siap.
"Ra mau kemana". Seru mas Rama tapi tak ku hiraukan.
"Sudahlah mas mungkin Ratih masih shock sepertinya". Ucap putri sambil mengelus punggung mas Rama.
Setelah 15 menit kemudian aku keluar dari kamar serta membawa koper begitu juga dengan Raisa, mungkin gadis kecil ini masih bertanya-tanya apa yang sudah terjadi.
"Ra aku mohon jangan pergi jangan bawa anak kita sayang." Ucap mas Rama mencekal lengan ku.
" Lepasin aku mas, aku harus pergi" Ucapku berusaha melepas tangannya.
"Aku ga akan biarkan kamu pergi..
"Tapi aku tetap mau pergi..
"Bunda".. lirih Raisa.
"Raisa anak ayah jangan pergi ya jangan tinggalkan ayah.".. Ucap Rama pada Raisa.
Raisa hanya terdiam dan bingung mau bicara apa..
Saat Rama mencoba untuk terus mencegah Ratih dan Raisa, tiba tiba Ratih jatuh pingsan dan tak sadarkan diri..
__ADS_1
" Bunda.." teriak Raisa.