Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
part 9


__ADS_3

Satu hari sudah berada dirumah sakit, hari ini Ratih diperbolehkan pulang kerumah..


*Didalam mobil*


"Sayang ko kamu diem aja, udah dong jangan sedih terus".. Ucap mas Rama sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Aku mau kita secepatnya bercerai mas".. Ujar ku tanpa menatap mas Rama sedikit pun.


"Kamu ngomong apa sih Ra, baru juga keluar dari rumah sakit".. Jawab mas Rama begitu kesal.


"Aku tahu, tapi sekarang tak ada lagi alasan aku maupun kamu untuk tetap bertahan.." Lirihku sambil terus memandangi jalanan.


"Maksud kamu, Apa Raisa juga bukan alasan lagi"..


Aku tak menjawab pertanyaan dari mas Rama dan hanya diam dengan pikiran ku, begitupun dengan mas Rama diapun ikut diam dan lebih pokus menyetir mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lebih karena adanya kemacetan, akhirnya kamipun sampai rumah...


Ting tong.. (suara bel)


"Assalamualaikum". Ucap ku dan mas Rama bersamaan.


"Waalaikumsalam".. Terdengar suara bi Minah dari dalam rumah..


krek.(Suara pintu)


"Alhamdulillah ibu udah pulang". Bi Minah begitu bahagia saat membuka pintu.


Aku tersenyum lebar lalu memeluk bi Minah, aku pun terisak tanpa sadar cairan bening membasahi pipi ku. sedangkan mas Rama sudah masuk terlebih dahulu.


"Ibu kenapa bu, " Tanya bi Minah yang kebingungan.


Perlahan aku melepaskan pelukan ku pada bi Minah. Aku tersenyum getir sambil mengusap air mataku yang mengalir.


"Anakku bi. ". Ujarku menggantung


Bi Minah masih pokus mendengar jawaban selanjutnya dari Ratih,..


"Aku keguguran bi".. Lirihku.


"Ya Allah Astaghfirullah, Ibu yang sabar ya bu,".. Ucap bi Minah terkejut dan begitu sedih..


"Iya bi, Raisa kemana ya bi,..


"Raisa sekolah bu, kan ini hari Senin". .


"diantar sama siapa bi,..


"Sama mbak putri..


Aku hanya mengangguk pelan setelah itu aku dan bi Minah masuk kedalam rumah..


Aku tidak melihat mas Rama didalam rumah bahkan dikamar dan dikamar mandi pun tak ada, apa mungkin diruang kerja. Sudahlah untuk apa aku pusing-pusing mikirin dia.


Sebelum aku mandi , tanpa pikir panjang aku langsung mengemasi barang-barang ku. yang sekiranya aku butuhkan, setelah selesai merapikan barang-barangku kedalam koper. Aku bergegas untuk mandi setelah itu pergi kekamar Raisa untuk mengemasi barang-barangnya.


***


Sudah hampir jam 11 siang mas Rama belum kelihatan juga batang hidungnya, saat aku lihat keruang kerjanya nampak mas Rama ketiduran mungkin dia lelah, Aku putuskan untuk merebahkan tubuh ku di sofa ruang keluarga sambil menunggu Raisa pulang..


Ku tatap seluruh ruangan ini dengan tatapan yang begitu sendu, dulu rumah ini tempat ternyaman dimana ada keluarga kecil yang bahagia, tapi sekarang sudah berubah tidak seperti dulu lagi..


"Bunda".. Teriak Raisa yang mengagetkan ku yang sedang melamun.


Aku merentangkan kedua tanganku padanya, Raisa berlari kecil dan langsung memelukku. Ku lihat putri yang tersenyum padaku ntah itu senyuman apa.


"Raisa kangen bunda".. Ucap Raisa yang masih memeluk ku.


"Bunda juga kangen banget sama Raisa, tapi kata dokter bunda harus nginep dulu disana". Jawabku sambil melepas pelukan Raisa dengan pelan.


Tak terasa Mata ini berkaca-kaca tanpa permisi butiran bening itu jatuh begitu saja..


"Bunda kenapa nangis".. tanya Raisa, lalu mengusap air mata dipipiku.


"Maafin bunda ya sayang, bunda gak bisa jagain adik kamu".. Ucapku pada Raisa..

__ADS_1


Raisa tampak tidak mengerti dengan ucapanku..


"Memang nya adik Raisa kenapa bunda".. Tanya Raisa yang begitu polos.


Kutatap wajah Raisa serta mencium keningnya.


"Adik Raisa sekarang udah ada di surga sayang".. Jawabku..


Ku lihat raut wajah Raisa berubah menjadi sedih serta menitikkan air matanya, aku langsung memeluk kembali Raisa dalam dekapan ku...


"Kamu yang sabar ya Ra, aku juga ikut sedih saat mengetahui nya dari mas Rama kemarin". Ujar putri secara tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam mematung.


Jadi mas Rama udah ngasih tahu putri soalna ini, Aku sungguh tak percaya apakah dia benar-benar sedih atau malah sebaliknya pikir ku saat ini..


"Kalau gitu aku masuk kamar dulu ya Ra, mau ganti baju".. Ujar putri, sedikit pun aku tak menanggapi ocehan putri.


Sebelum melangkahkan kakinya putri kembali berbicara.


"Kamu juga langsung ganti baju yasayang".. Ucap putri pada Raisa yang masih duduk disebelah ku.


"Iya Tante siap".. jawab Raisa sambil mengangkat ibu jarinya.


setelah itu putri melangkah pergi meninggalkan ku dan Raisa berdua.


"Sayang kamu pasti lapar... Ya kan". Tebakku pada Raisa.


"Tadi sebelum pulang raisa udah makan sama Tante putri diluar. sebenarnya raisa hari ini pulang jam 10 bunda, pas mau pulang tante putri ngajakin makan dulu deh". Jelas Raisa Dengan semangat.


Sepertinya putri sudah mulai mengambil hati anakku, tidak akan ku biarkan hal itu terjadi. Dia telah mengambil suamiku tapi tidak untuk anakku..


"Bunda kenapa ngelamun".. Ucap Raisa akupun sedikit terkejut.


Aku hanya menggeleng pelan..


"mending sekarang kamu mandi terus ganti baju, setelah itu ikut bunda yasayang"..


"Kita mau kemana bunda, apa ayah dan Tante putri juga ikut".. Tanya Raisa.


"Ngga sayang, cuma kita aja berdua sekarang kamu siap-siaplah sana. jangan banyak tanya lagi bunda juga mau siap-siap.


****


Diruang kerja.


Rama merentangkan tubunya yang terasa pegal-pegal karena tertidur diruang kerjanya..


Huaaaaaaaaa..


Rama menguap begitu lebar sambil mengucek matanya..


"Aku ketiduran". Gumamnya lalu beranjak keluar.


Di lain sisi Ratih sudah bersiap dengan satu koper serta tas yang dia jinjing..


"Akhirnya aku akan keluar juga dari rumah ini, ntah apapun yang keluar dari mulut mas Rama aku tak akan perduli lagi.." Gumamku melangkah keluar kamar.


Aku langkahkan kakiku sambil membawa koper, dengan langkah pelan namun pasti satu persatu aku menginjak anak tangga. Tiba-tiba saja teringat olehku kejadian kemarin saat aku terpeleset ntah mengapa saat itu tangganya begitu licin, hingga akhirnya aku harus kehilangan calon buah hatiku.


Aku pun langsung masuk kedalam kamar Raisa, ku lihat anak itu sudah rapih namun dia nampak merengut sambil menopang dagunya..


"Anak bunda kenapa". Tanyaku seraya menghampiri nya.


Raisa hanya menggeleng pelan dengan wajahnya yang cemberut serta bibir yang di manyunkan..


"Kamu marah sama bunda ya".. Ujarku. membelai rambut nya.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, ko Ayah sama tante putri gak boleh ikut".. Ucap Raisa menatapku.


Putri lagi, putri lagi. Sepertinya putri begitu mudah mengambil hati Raisa, tapi tak akan kubiarkan..


"Kamu sayang ngga sama bunda..


"sayang banget"..


"Kalau gitu kita pergi nya berdua aja ya sayang'..

__ADS_1


Raisa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis pada Ratih.


Ku gandeng tangan Raisa, sebenarnya aku sangat kasihan pada anakku ini dia harus jadi korban dalam rumah tangga ku dan mas Rama. Ini semua gara-gara pelakor itu..


" Kalian pada mau kemana". Tegur mas Rama saat melihat ku sedang membawa koper...


Aku hanya diam sambil terus berjalan membawa Raisa beserta koper yang aku bawa..


"Tunggu Ra". Teriak mas Rama. Membuat Raisa sedikit ketakutan lantas memegang tanganku begitu erat.


"Ada apa lagi mas, kamu jangan teriak-teriak begitu kasihan nih Raisa jadi ketakutan.."Ujar ku menatap tajam mas Rama.


"Maafin ayah sayang".. ucap mas Rama pada Raisa.


"Ayo sayang kita pergi sekarang".. Ajakku pada Raisa.


saat aku akan melangkahkan kakiku mas Rama langsung mencekal lengan ku..


"Lepasin tanganku mas". Pintaku sambi berusaha melepasnya..


Mas Rama begitu kuat memegang tanganku..


"Aku gak akan biarkan kalian pergi dari rumah ini".. Ucap mas Rama..


Aku tersenyum sinis mendengarnya..


"Mau mulut mu itu sampai berbusa pun melarang ku pergi dari sini, aku akan tetap pergi serta membawa Raisa ".. Ucapku begitu dingin...


Mas Rama begitu geram dapat kulihat dengan jelas wajahnya yang merah padam menahan amarah, lalu melepas tanganku begitu kasar


Kulihat tubuh anak ku bergetar ketakutan serta menangis kupeluk saja tubuh nya dengan erat , karena untuk pertama kalinya Raisa melihat ku dan mas Rama bertengkar.. Maafkan bunda sayang.


Mendengar suara ribut-ribut serta kegaduhan diruang keluarga, membuat Putri langsung keluar kamar yang kebetulan kamar tamu yang putri tempati tidak terlalu jauh jaraknya....


"Ada apa ini, apa yang terjadi".. Seru Putri saat baru datang..


"Diam kamu gak perlu ikut campur".. Ucapku dengan lantang.


"Sepertinya permainan sesungguhnya akan dimulai". Batin putri...


"Raisa sayang kamu kenapa nangis, sinih sama tante.". Tanya Putri.


Aku merapatkan pelukanku pada Raisa, namun Raisa malah melepaskan pelukannya lalu menghampiri putri..


"Raisa takut Tante, bunda sama Ayah berantem".. Lirih Raisa memeluk Putri.


Aku melongo tak percaya melihat sikap Raisa pada Putri, yang bahkan putri hanya menanyakan 'Raisa kamu kenapa'...


"Raisa sayang si nak, jangan deket-deket sama tante putri".. Panggilku pda Raisa yang masih terus nempel pada Putri.


Raisa menggeleng cepat..


"Raisa kamu dengar bunda gak". Ujarku membentak Raisa


"Ratih, apa maksud kamu bentak Raisa". Seru mas Rama kesal..


Akupun langsung tersadar lalu menghampiri Raisa untuk meminta maaf..


"Maafin bunda ya sayang, bunda gak bermaksud buat bentak kamu.. ". Sesalku pada Raisa


Raisa tak menjawab apapun dia terus menempel kan tubuhnya pada Putri..


"ayo sayang kita harus pergi sekarang". Ajakku pada Raisa..


"Raisa ngga mau, Raisa mau disini aja".. Ucap Raisa dengan cepat.


"Tapi sayang"... Ucap ku.


"Udahlah Ra, kamu gak perlu memaksa Raisa kasihan dia. kamu juga harus bisa Nerima semua ini..".. Ucap putri


"Aku juga rela ko jadi istri kedua mas Rama".. Sambung putri dengan begitu entengnya.


"Jadi tante sama Ayah menikah".. Tanya Raisa yang begitu polos..


"Iya sayang. mulai sekarang kamu jangan panggil tante lagi, tapi panggilnya MAMA".. Ujar putri sedikit menekan kata Mama..

__ADS_1


Aku begitu kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut perempuan ini, ingin rasanya aku menjahit bibirnya itu..


__ADS_2