Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Ingatan Alena pulih


__ADS_3

"Walau aku akan mengingatnya tapi aku tak bisa pergi meninggalkanmu Dim," ucap Lina.


"Kenapa Lin?" tanya Dimas.


"Kamu telah memberiku hidup baru, kamu telah menyelamatkan aku dan tidak bisa aku begitu saja meninggalkanmu," jawab Lina.


"Hanya itu alasannya, lin?" tanya Dimas memastikan.


"Lalu kamu mau jawaban apa?" tanya Lina balik bertanya.


Dimas menarik nafas panjang dan menghembusnya


tanpa menjawab apapun, ia menarik tangan Lina.


"Yaudah lin kita pulang yuk!" ajak Dimas menarik tangan Lina.


"Pulang? pulang kemana? apa aku ada hak tinggal dirumahmu? aku ini istri orang, bagaimana kalau orang lain sampai tahu, apa yang ada dipikiran mereka nanti?" tanya Lina.


"Kamu ribet lin, untuk apa kamu memikirkan apa kata mereka? kita tidak merugikan mereka, kita tidak menghabiskan uang mereka, jadi untuk apa kita memikirkan pikiran orang tentang kita!" kata Dimas menjelaskan.


Lina terdiam dengar hal itu.


Apa yang dikatakan Dimas itu benar tapi Lina takut tidak bisa membalas budi pada Dimas.


Lina menatap Dimas tajam.


"Dim, kenapa kamu baik dengan aku? selama setahun ini aku merepotkan kalian, aku nggak tahu dengan cara apa berterimakasih pada kamu!" ucap Lina.

__ADS_1


"Dengan cara mencintaiku," seloroh Dimas sambil tersenyum.


Hal itu membuat Lina terdiam dan panik.


"A-apa?" tanya Lina gugup.


"Aku bercanda," jawab Dimas tertawa.


Dimas serius tidak bercanda dalam ucapannya ia mencintai Lina tapi Dimas berkilah dari hal itu agar Lina tetap nyaman berada didekatnya.


Dimas tidak ingin Lina merasa kalau dia terlalu memaksa Lina untuk mencintainya.


Hari-hari yang mereka lewati membuat ingatan lina berangsur pulih karena banyak hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan Pras pada Alena dulu.


Dimas mulai merasakan keanehan pada sikap Lina, ia merasa terjadi perubahan besar pada sikap Lina.


Kebiasaan-kebiasaan Lina berubah dengan cepat.


Lina yang sekarang lebih rajin kepasar dan memasak untuknya bahkan Lina juga sering membuatkan Dimas bekal.


...****************...


"Apa kamu baik-baik saja,Lin?" tanya Dimas bingung.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Lina singkat.


"Belakangan ini kamu semakin rajin masak bahkan sering menyiapkan bekal untukku, ada apa lin?" tanya Dimas lagi.

__ADS_1


"Aku hanya melakukan kebiasaan-kebiasaanku dulu, aku masak dan menyiapkan bekal untuk Pras, suamiku," jawab Lina santai.


"Apa ingatanmu sudah pulih?" tanya Dimas.


"Entahlah, tapi sepertinya iya dan aku senang karena akhirnya bisa mengingat dia yang aku cintai," jawab Lina.


Hati Dimas sakit mendengar itu tapi ia juga senang mendengar ingatan Lina yang sudah pulih.


"Berarti kamu akan kembali pada suamimu?" tanya Dimas terbata.


Hatinya sakit menanyakan hal itu tapi ia juga tidak tahu harus bagaimana.


"Iyalah Dim, kamu seperti nggak tahu betapa rindunya aku pada mama dan Pras," jawab Lina.


"Oiya.. satu lagi namaku Alena bukan Lina tapi kamu tetap boleh kok memanggilku dengan nama Lina," tambahnya.


"Terimakasih selama ini kamu memberiku tempat tinggal dan mengurusku walau kita nggak saling kenal," ucap Lina.


"Kalau boleh aku meminta, besok tolong antarkan aku pulang!" pintaLina.


Dimas terdiam dan tak menjawab sepatah katapun, ia langsung meninggalkan Lina tanpa sarapan.


Lina bingung dengan sikap yang kembali dingin padanya.


sikap Dimas yang begitu membuat Lina merasa bersalah.


"Apa Dimas merasa sedih karena aku akan meninggalkannya? tapi aku tetap harus pulang menemui mama," gumam Alena dalam hati.

__ADS_1


Apakah benar Dimas marah pada Alena?.


Apakah Dimas ikhlas mengembalikan Alena pada orang tuanya?.


__ADS_2