
Tiba harinya Dimas akan mengantar Lina pulang.
Siap atau tidak, cepat atau lambat hari ini akan tiba, ia harus mengantar Lina kembali pada kehidupan lamanya.
Tampak Lina sudah bersiap dengan wajahnya yang bahagia.
Ia berteriak memanggil Dimas yang sejak tadi belum keluar dari kamarnya.
"DIM..CEPETAN AKU SUDAH NGGAK SABAR MAU BERTEMU MAMA!" teriak Lina.
Dimas sebenarnya sudah bersiap tapi ia merenung dan mempersiapkan diri untuk bisa melepas Lina.
Tak lama setelah Lina memanggil Dimas, Dimaspun keluar kamarnya.
"Iya.. ayok, aku sudah siap," kata Dimas tak bersemangat.
"Tapi Dim, kenapa kamu terlihat lemas tak bersemangat? apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Lina mengecek suhu kening Dimas.
"Aku tidak apa-apa kok," jawab Dimas singkat.
Lina terlihat khawatir karena dari semalam Dimas sudah tampak berbeda.
Dimas seakan tak rela melepaskan Lina.
Selain karena cintanya, ia juga hanya memiliki Lina saat ini.
Setelah kepergian mama dan papanya, hanya Lina tempat ia bercerita.
Lina menggapai tangan Dimas.
"Kamu jawab jujur sekarang, kamu kenapa?" tanya Lina terlihat kekhawatiran dimatanya.
"Aku nggak apa-apa," elak Dimas.
__ADS_1
"Apa kamu sedih karena aku akan meninggalkan kamu?" tebak Lina.
"Untuk Apa? kenapa? malah aku bahagia kamu mengurangi beban hidupku, aku bisa bebas menikmati hidup sendirian tanpa gangguan kamu," jawab Dimas berbohong, ia tidak mau Lina sampai tahu betapa sedihnya dirinya melepaskan dia.
Semua bawaan Lina sudah ia masukkan di mobil.
Tiba saatnya ia berangkat dan disepanjang jalan mereka berdua tampak hening saja tak bersuara.
Sesampainya Lina dirumah ia dan Pras, Lina tampak gugup mengetuk pintu.
TOK..TOK!!
Terdengar jejak langkah kaki seseorang membukakan pintu.
"SURPRISE...aku pulang," kejut Alena.
"A-Alena kamu ternyata masih hidup!" kata Novi.
Novi terkejut dengan apa yang dilihatnya begitupun dengan Alena yang terkejut ada Novi dirumahnya.
Novi menunjuk jari kearah Alena.
Betapa terkejutnya Pras melihat Alena yang berdiri didepannya.
...****************...
"A-Alena! apa benar kau Alena? kamu benar-benar Alenaku yang selama ini hilang!" ucap Pras dengan mata berbinar-binar.
Ia tidak menyangka istrinya masih hidup.
Ia memeluk Alena tapi Alena mendorongnya dan menamparnya.
"Sayang!! sejak kapan kamu memanggil Novi dengan sebutan sayang?" tanya Alena marah.
__ADS_1
"Kenapa salah? kami kan sudah menikah!" sambar Novi menjawab pertanyaan Alena.
"A-apa?" tanya Alena memastikan.
"Maaf len tapi itu kenyataannya aku dan mas Pras sudah menikah," jawab Novi dengan santainya.
"Mas, apa itu benar?" tanya Alena mengguncang badan Pras.
Pras terdiam tak menjawab sepatah katapun.
Novi menjawab pertanyaan Alena.
"Maafkan kami len tapi itu benar adanya," sambar Novi menjawab pertanyaan Alena.
"Kenapa? apa alasan kalian mengkhianatiku?" tanya Alena menangis.
"Kami tak tahu kalau kamu masih hidup len, tidak ada yang mengkhianatimu tapi ini salah keadaan," jawab Novi lugas.
Alena terus menangis membuat Pras reflek ingin memeluknya, tapi Alena mendorongnya.
Ada seseorang yang dengan sigap menarik Alena hingga jatuh kepelukannya.
"Siapa yang memelukku ini? kenapa begitu hangat pelukannya?" tanya Alena dalam hati.
Novi tepuk tangan sehingga Alena tersadar dan segera melepaskan pelukan itu.
"Bagus... sok paling tersakiti tapi berani pelukan dengan pria lain didepan suaminya," kata Novi tepuk tangan.
"Apa yang salah dengan itu? aku ada disini untuk Lina, mengantar Lina pulang pada keluarganya pada suaminya, tapi apa yang aku lihat membuatku menyesal mengantarnya, selama ada aku tidak ada satu orangpun yang boleh menyakitinya termasuk suaminya," kata Dimas dengan marahnya.
Ia terpaksa turun mobil karena tidak tega melihat Alena menangis.
"Ada hubungan apa kamu dengan istriku?" tanya Pras menahan marah.
__ADS_1
"Aku...aku seseorang yang akan selalu ada buat Lina karena Lina begitu berharga buatku, dimataku Lina seperti kakak yang harus kujaga," jawab Dimas berbohong.