
Dokter telah datang, dan langsung memeriksa Ega. Dokter juga bertanya secara mendetail awal mula Ega bisa jatuh.
"Maaf tuan Erik, barusan waktu nyonya Ega terjatuh. Langsung diangkat ya?? "tanya Sang dokter. "
"Iya dokter, begitu saya dengar istri saya berteriak minta tolong. Saya langsung lari, dan langsung mengangkat tubuh istri saya. Itupun saya di bantu sopir sama perawat anak saya. Emang kenapa dok? "tanya Erik penasaran. "
"Nyonya Ega mengalami patah tulang belakang akut. Seharusnya waktu nyonya Ega terjatuh, tidak langsung memindahkan posisi tubuhnya. Biarkan dulu nyonya Ega merespon tubuhnya, bisa jadi nyonya Ega telah mengalami patah tulang.
"Jika langsung memindahkan posisinya, patah tulang menjadi lebih buruk. Dan kemungkinan sembuhnya juga tipis. "
"Saran saya, bawa nyonya Ega untuk melakukan fisioterapi dan perawatan sendi. Jangan sesekali dipijat punggungnya atau mengundang tukang pijat. "
Itulah beberapa saran dari dokter tersebut, kemudian dokter berpamitan. Hanya memberikan obat pereda rasa nyeri saja.
Sementara Ega perlahan menangis..
"Ya ampunn, apa aku akan selama disini?? Selamanya berbaring tak bisa beraktifitas kembali?? "gerutunya disela isak tangisnya. "
"Sudahlah mah, ga usah menangis. Lagian sudah tahu tubuhmu gendut. Pake acara naik naik kursi plastik segala?? Itu salahmu sendiri mah "cibir Erik pada Ega. "
"Papah ini bagaimana si pah?? Istri lagi kena musibah malah ngomong seperti itu??! "cebik Ega. "
"Lah, ngomong sama kamu memang susah mah. Dari awal nikah, sampai kita sama sama tua. Kamu sifat ga pernah berubah. Ga ada baiknya sedikitpun "sindir Erik. "
"Renungi dan koreksi diri mah, mungkin kejadian ini sebuah teguran buatmu mah. Agar kamu jangan seenaknya menyakiti hati orang "tegur Erik. "
"Loh, kok papah malah ceramah??! Dikira tadi mamah ga dengar?? Ini semua juga salah papah??! Sama Merina sama sopir!!" cebik Ega.
"Kok mamah nyalahin papah?? Jatuh jatuh sendiri, nyalahin orang "cebik Erik. "
"Dokter tadi bilang, waktu mamah jatuh harusnya jangan langsung diangkat di pindah posisi. Kan gini jadi mamah alami patah tulang akut!! "bentak Ega. "
"Sudah sakit saja masih bisa ngomel ngomel. Sadar ga???!! Waktu jatuh, bawel banget. Minta buru buru di angkat??!!! Kan mamah yang nyuruh angkat, ya papah angkat tubuh mamah!! Bagaimana si??! "cebik Erik meninggalkan Ega."
"Pah, papah??!! Kok malah pergi si??!! Bawa mamah ke dokter spesialis tulang, biar ga terlalu lama kaya gini !!"teriak Ega. "
Namun Erik tak menghiraukan panggilan dari istrinya. Erik melangkah menuju ruang tengah. Dimana Tama masih asik dengan membaca bukunya.
Erik sama hal nya seperti Arjuna. Telah terhipnotis oleh Tama. Sejak ada Tama, Erik seperti mendapatkan sebuah obat mujarab untuk sakit kepalanya.
Karena tidak pernah merasakan sakit kepala, selalu terhibur oleh tingkah lucu Tama.
__ADS_1
Merina telah selesai memasak makan siang. Dirinya segera ke kamar untuk melakukan ritual mandinya.
Sudah menjadi kebiasaan Merina, setelah selesai memasak pasti dirinya mandi. Agar aroma bumbu dapur tidak menempel di tubuhnya.
Itu semua juga karena pernah mendapat komplenan dari anak semata wayangnya.Karena bau bumbu yang menyengat di tubuh dan bajunya.
Merina melangkah mencari keberadaan jagoan kecilnya. Merina tersenyum ketika melihat jagoan kecilnya sedang asik membaca buku cerita bersama Erik.
"Coba kedua mertuaku tidak membenciku. Pasti saat ini anakku lebih bahagia mempunyai kakek dan nenek "gerutu Merina. "
"Coba jika orang tuaku juga tidak mengalami kecelakaan mobil, aku juga tidak harus bekerja membawa Tama "gerutu Merina berkaca kaca. "
"Tapi setidaknya disini Tama bisa merasakan kasih sayang seorang kakek yang tak pernah Tama rasakan sejak lahir "gerutunya kembali. "
Sepintas Tama melihat mamanya sedang menatapnya didepan pintu ruang tengah.Langsung Tama berlari menghampiri Merina.
"Mama..kenapa mama cuma berdiri disini?? Mama sudah selesai memasaknya, sudah ga bau bumbu lagi kan?? "ucap Tama menengadahkan wajahnya menatap Merina. "
Merina mensejajarkan tubuhnya dengan Tama.
"Coba Tama cium mama dulu, wangi apa ga?? "ucap Merina terkekeh. "
"Hhmmm wangi mama ku sayang "ucap Tama tersenyum riang. "
Merina kembali berdiri, menuntuntun Tama. Menghampiri Erik yang sedang senyam senyum melihat tingkah Tama
"Maaf tuan besar, makan siangnya sudah siap.Untuk sementara biar nyonya besar saya yang suapin makannya "ucap Merina. "
"Baiklah Merina, terima kasih atas bantuannya "Erik segera bangkit dari sofa menuju ruang makan. "
Namun Erik tak lupa menuntun Tama untuk ikut serta makan siang bersamanya.
"Mumpung ga da Ega, biar Tama ikut makan di meja makan "batin Erik. "
"Yuk jagoan, ikut kakek makan siang. Biar mama Tama, suapin nenek "ucap Erik tersenyum sambil meraih tangan kecil Tama. "
Namun Tama menetapa lekat Merina, seolah meminta persetujuan. Hingga Merina tersenyum dan mengangguk pelan.
Merina melangkah ke kamar Arjuna, mengetuk pintunya.
"tok tok tok "
__ADS_1
"Masuklah "
Merina masuk dan menghampiri Arjuna yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Maaf tuan muda, makan siangnya sudah siap "lapor Merina sembari tertunduk. "
"Baik Merina, bisa bantu saya duduk di kursi roda saya? "ucap Arjuna memohon. "
"Iihh manja banget, padahal juga sudah pinter berpindah pindah sendiri. Dari kursi roda ke sofa maupun ke kasur. Dan sebaliknya dari sofa ke kursi roda sendiri juga sudah pinter "batin Merina. "
"Aku sengaja Merina, karena aku ingin menghirup aroma wangi di tubuhmu "batin Arjuna dengan senyum menyeringai. "
Merina mendekati Arjuna ,dan memapahnya menuju kursi rodanya. Namun sesekali pandangan mata mereka beradu .
Setiap kali Arjuna tersenyum, namun setiap kali Merina tertunduk.
Setelah berada di kursi rodanya, Merina mendorongnya menuju ke ruang makan. Dimana sudah ada Erik dan Tama.
"Hay boy... kenapa ga ajak om Jujun si?? Malah tahu tahu sudah bareng kakek "pura pura Arjuna merajuk. "
"Sudah sudah, om Jun jun kan bukan anak kecil lagi. Jadi ga boleh ngambek dong "jawab Tama sambil tangan yang satu menepuk nepuk bahu Arjuna, dan tangan satunya mengangkat telunjuknya di goyang goyangkan kanan kiri. "
Membuat Arjuna dan Erik terkekeh.
Sementara Merina mengambil makanan untuk Ega. Dengan rasa enggang Merina melangkah ke kamar Ega.
Tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Merina memberanikan diri masuk.
"Waktunya makan siang nyonya besar, biar saya suapin ya ??"ucap Merina sambil menyendok makan dan memasukkan makanan ke mulut Ega. "
Merina sempat tersenyum ketika makanan telah masuk mulut Ega. Namun tak berselang lama, Ega menyemburkan makanan yang ada di mulutnya tepat ke arah wajah Merina.
"Ya Tuhan, ini orang kenapa kasar sekali. Sabar Merina sabar.. "batin Merina. "
Merina berkaca kaca mengambil tisu yang ada di nakas untuk mengelap wajahnya.
Merina segera keluar dari kamar Ega membawa piringnya ke dapur. Namun dirinya berpapasan dengan Erik didepan pintu kamar Ega.
Erik melihat wajah Merina yang belepotan. Namun Merina segera mempercepat langkahnya menuju dapur untuk mencuci mukanya.
😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡😡
__ADS_1