Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Masa Tahanan Ela


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 7,semua telah bangun untuk sarapan. Merina dengan telaten menyuapi Arjuna.


Serta memberinya obat dari dokter yang telah tersedia di nakas di dalam kamarnya. Setelah sarapan, Merina mengajak Arjuna berjemur dihalaman rumah.


Perlahan lahan Merina mengajari Arjuna untuk berjalan.


"Pelan pelan saja tuan muda , sedikit sedikit pasti tuan bisa berjalan "Hibur Merina. "


Merina mengetahui jka saat ini Arjuna telah putus asa. Terlihat dari latihan jalan yang berkali kali terjatuh. Jika diajak bangkit lagi, serasa enggan dengan menggelengkan kepalanya.


"Om, ayok semangat.. om pasti bisa jalan lagi.. ayokk om. Nanti kalau om bisa jalan, kita main bareng ya om?? "sela Tama dengan polosnya. "


"Maafkan anak saya tuan muda" ucap Merina tertunduk lesu. "


Namun Arjuna hanya tersenyum. Bahkan melambaikan tangan ke Tama, untuk mendekat.


Tama mendekat pada Arjuna, dan Arjuna langsung reflek memeluk Tama.


"Om, jangan sedih.. sebentar lagi om pasti bisa jalan. Karena mamaku hebat om, perawat yang keren " hibur Tama sambil menepuk punggung Arjuna. "


"Ya Tuhan, ini anak pinter amat. Di usianya yang masih belia, daya pikirnya layaknya orang dewasa. Bisa kasih suport aku, ternyata seperti ini... Memeluk seorang anak "batin Arjuna. "


Setelah mendengar kata kata dari Tama, Arjuna manggut manggut dan mengacungkan ibu jari.


Setelah itu dirinya tak menolak lagi untuk berlatih berjalan bersama Merina.


Sesekali Merina juga memijat mijat kaki Arjuna, agar otot di kaki tidak kaku.


Beberapa menit setelah selesai berjemur dan latihan berjalan, Merina membawa masuk Arjuna.


Arjuna memberikan kode dengan tangannya, jika dirinya ingin bersantai di teras dulu.


Sejenak Merlina masuk ke dalam bersama Tama. Dirinya mencari keberadaan papah Erik. Untuk ijin keluar sebentar mengurus kepindahan sekolah Tama.


Merina mendapati Erik yang sedang bersantai di ruang tengah bersama Ega.


Dengan rasa enggan karena ada Ega, Merina menghampiri Erik.

__ADS_1


"Maaf tuan besar, saya ingin meminta ijin sebentar. Ingin mengurus kepindahan sekolah Tama "ucap Merina menunduk di hadapan Erik."


"Ya Merina, kamu yang hati hati ya"jawab Erik tersenyum pada Merlina. "


Sementara Ega cuma melirik sinis pada Merina dan Tama. Tama yang melihat lirikan Ega, beringsut pindah posisi di belakang Merina. Ngumpet takut karena lirikan tajam Ega.


Setelah mendapat ijin dari majikannya, Merina bersiap siap mengajak Tama. Terlebih dahulu Merina ke sekolah Tama yang dulu untuk berpamitan, kemudian baru ke sekolahan yang di seberang jalan rumah Arjuna untuk mendaftarkan Tama.


Seperginya Merina, Erik mendapat telfon untuk segera ke kantor polisi. Karena Ela akan di sidang, untuk mendapatkan putusan berapa tahun Ela akan mendekam di penjara.


"Mah, papah mau ke kantor polisi. Karena papah ingin menghadiri sidang Ela "Ijin Erik pada Ega. "


"Mamah ikut pah, mamah pengen tahu juga pah. Berapa masa hukuman si Ela itu"jawab Ega sekenanya. "


Setelah sepasang paruh baya ini siap, mereka segera berangkat. Mereka mengajak serta Arjuna. Karena Arjuna juga sebagai saksi kunci.


Arjuna memang belum bisa bicara, dan separo tubuhnya lumpuh sementara. Namun tangannya masih berfungsi.


Hingga Arjuna menulis semua yang dia tahu tentang kebusukan Ela. Sehingga bisa untuk memberi hukuman pada Ela sebesar besarnya.


Tak berselang lama, sampailah mereka di kantor polisi. Mereka segera melangkah ke ruangan kusus untuk persidangan.


Telah duduk seorang hakim,jaksa,pengacara, bahkan ada juga beberapa aparat polisi yang berjaga di ruang tersebut.


Ela di kawal oleh dua orang polwan menuju tempat duduknya. Sepintas Ela melirik pada keluarga Arjuna.


Tatapan sinis, tatapan sejuta dendam.


"Awas kalian bertiga, aku pastikan satu persatu akan mendapat balasan yang lebih dari apa yang aku rasakan!! Aku akan buat hidup kalian lebih menderita!! "batin Ela. "


Tak lupa juga telah ada Dodo diruang tersebut. Persidangan di mulai, semua yang hadir diam. Mendengar dengan seksama apa yang hakim ucapkan.


Dari semua bukti yang ada, serta saksi saksi. Hingga ketuk palu hakim dibunyikan. Dengan melihat, menimbang, dan akhirnya hakim memutuskan hukuman Ela 10 tahun penjara.


Ela tak terima dengan keputusan hakim.


"Ga!! ga pak hakim!! Saya ga terima dengan keputusan ini!! Ini ga adil buat saya!! Sementara dikasus saya, tidak ada yang menjadi korban. Tidak ada yang meninggal!! Tolong pak hakim, kurangi masa hukuman saya!! "teriak teriak Ela histeris. "

__ADS_1


Erik merasa tak tega dengan Ela, dirinya langsung mengangkat tangan kanannya. Erik ingin berbicara sebentar.


Hingga pak hakim memberikan kesempatan untuk Erik mengutarakan pendapatnya.


"Mohon maaf pak hakim, disini kan saya yang mengajukan laporan pada saudari Ela. Disini pula, saya ingin meminta kebijaksanaan dari pak hakim. Untuk meringankan hukuman dari saudari Ela. Saya mohon pak hakim, bagaimanapun dia sedang hamil. Setidaknya dikurangi beberapa tahun saja "ucap Erik panjang lebar. "


Sementara hakim,para jaksa, dan yang lain. Saling pandang satu sama lain. Saling berbisik bisik.


Dan telah mendapat satu keputusan jika permohonan keringanan hukuman untuk Ela tidak disetujui oleh hakim ,jaksa, dan aparat persidangan yang lain.


Papah Erik harus naik banding terlebih dahulu untuk bisa meminta masa hukuman Ela di kurangi.


Ya memang begitulah Erik, sebenci bencinya pada Ela. Dirinya masih punya hati nurani, dan rasa kemanusiaan.


Kalau tidak memiliki hati seperti itu, pasti rumah tangganya dengan Ega sudah hancur. Karena sifat Ega yang sangat buruk.


Mendengar papah Erik meminta keringanan masa hukuman untuk Ela . Ega menjadi sangat emosi, geram.


Ega menarik paksa tangan suaminya, keluar dari ruang persidangan.


"Pah, papah ini apa apa an si!! 10 tahun saja itu menurut mamah belum cukup untuk menghukum si kerempeng Ela!! Malah papah minta permohonan pada hakim untuk mengurangi masa tahanan Ela!!! Mamah benar benar kecewa!!! Untuk apa papah melapor kejahatan Ela!!! Jika sudah divonis masa hukumannya, papah bersikap sok peduli padanya!!!! Huhhhhh mamah benar benar kecewa!!!Sangattttt kecewa!!! "bentak Ega sembari berlalu meninggalkan Erik yang masih terpaku di tempat. "


Ega dengan rasa geram, sewot, marah, kecewa, emosi. Melangkah menuju ke mobilnya.Untuk menunggu Erik dan Arjuna.


Sementara Erik melangkah masuk lagi ke ruang persidangan. Dan saat sidang di tutup, ketika semua berhambur ke luar dari ruang sidang.


Ela yang sedang di kawal dua polwan, untuk kembali ke sel. Mendekati Erik yang sedang mendorong kursi roda dimana ada Arjuna.


Ela berdiri amat dekat pada Erik.


"Pah, tak usah sok baik padaku ya.Karena papah juga, aku kelak harus melahirkan anakku disini.. Ingat baik baik, aku tidak akan pernah sadar. Tapi aku akan membalas perbuatan kalian padaku, selepas aku keluar dari sini. Siap siap saja papah mertuaku tersayanggg "bisik Ela pada Erik. "


😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬😬


Jangan lupa like, vote, favorit.. 😊😊😊😊


Thanks yang telah setia kasih dukungan. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2