
Dimas yang mengira daritadi Alena mengikutinya terkejut melihat Alena tak ada disampingnya dan masih berdiri ditempat yang sama.
Dimas menghampiri Alena dan bertanya.
"Len, kamu ngapain masih disini?" tanya Dimas mengejutkannya.
"Oh.. tidak apa-apa, ayok kita masuk!" ajak Alena mengalihkan pembicaraan.
Dimas tidak curiga apapun.
"Yaudah ayok!" sahut Dimas.
Mereka masuk dan tampak semua hidangan sudah disiapkan mama Eni diatas meja.
Tak sabar segara menyantapnya dan Dimas memuji semua masakan mama.
"Ma, semua masakan mama enak-enak banget loh, mama sudah cocok jadi chef nih!" puji Dimas kepada mama Eni.
"Yaudah makasih atas pujiannya tapi nggak semua mama yang masak tapi juga ada masakan Alena!" ujar mama Eni.
"Kalau enak, habisin dong Dim makannya!" pinta Alena menyahutinya.
Dimas mengangguk dan segera makan dengan lahap.
__ADS_1
Selama ini bagi Dimas tak ada yang mampu mengalahkan rasa masakan almarhumah mamanya, sehingga saat itu Dimas terkenang kebersamaannya dengan mamanya.
Ternyata selain masakan mamanya masakan Alena bisa menandinginya.
Alena memperhatikan Dimas yang matanya terlihat berkaca-kaca.
"Dim, kamu kenapa? kok aku perhatikan kamu terlihat menangis?" tanya Alena.
Mama Eni menghentikan makannya dan menatap Dimas.
" Ada apa Dim? kalau ada masalah kamu ceritakan saja biar lega!" suruh mama Eni.
Dimas menarik nafas panjang dan menghembusnya.
"Dimas tidak apa-apa, ma! hanya saja tiba-tiba terkenang almarhumah mama, melihat kebersamaan ini, masakan ini dan duduk makan bareng, itu semua membuat Dimas terkenang dan rasa makanan ini sama persis dengan masakan mama Dimas," jawab Dimas sembari mengusap airmatanya.
Dimas tidak menyangka jika Alena akan berkata seperti itu.
Apakah ini tanda jika Alena mulai merespon perasaannya.
...****************...
Setelah selesai sarapan, Alena merapikan meja makan dan mencuci piring kotor didapur.
__ADS_1
Dimas bermaksud ingin membantunya, ia menghampiri Alena yang sedang mencuci piring.
"Perlu bantuan tidak,Len?" tanya Dimas mengejutkan Alena.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok! lagian piringnya juga tidak banyak," jawab Alena.
Ia semakin terkejut ketika Dimas menggapai kedua tangannya dan memegangnya.
"Len, kamu tahu kan jika aku mencintaimu, dan aku rela menunggumu sampai kapanpun? tapi mengapa sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban apapun dari mulutmu? apa kamu masih ragu atas kesungguhanku? atau sebenarnya kamu memang tidak menginginkanku sebagai pendampingmu?" tanya Dimas serius.
Ia menatap tajam Alena berharap mendapat jawaban yang sesuai keinginannya.
Alena terpaku melihat sikap gentle Dimas saat itu.
"Dim, kamu tahu aku pernah gagal bukan berarti aku belum move on tapi apa aku pantas? kamu masih bujang sedangkan aku seorang janda, masih banyak gadis diluar sana yang mau denganmu kenapa harus aku?" kata Alena balik bertanya.
"Aku tidak peduli dengan statusmu, aku hanya ingin tahu jawabannya," jawab Dimas tegas.
Alena diam memikirkan sesuatu.
"Len, kenapa kamu diam saja? katakan saja apa isi hatimu aku akan menerimanya dengan lapang dada jika kamu menolakku lagi dan akan kupastikan ini yang terakhir setelah ini kita akan kembali berteman seperti biasanya dan aku tidak akan bertanya soal ini lagi padamu," ucjar Dimas pasrah.
Saat Dimas mulai pasrah dan menyerah, Alena mengangguk yang artinya ia setuju menikah dengan Dimas.
__ADS_1
"Dim, maafkan aku yang telah membuatmu menunggu begitu lama," ucap Alena memeluk Dimas.
Setelah hari itu mereka tampak selalu bersama dan sudah menyiapkan acara pernikahannya, Alena menuruti kehendak Dimas yang ingin mereka menggelar pesta dan resepsi di gedung.