
Melihat Alena yang terus memohon akhirnya Pras memutuskan untuk menanda tangani surat itu.
"Terimakasih, mas! terimakasih sudah melepaskanku, semua keknangan ini akan terus kuingat! Nov, berbahagialah dengan suami yang kamu rebut dari sahabatmu, terimakasih atas semua pelajaran yang kalian beri, kini waktunya aku mencari kebahagiaanku sendiri," ucap Alena meneteskan airmata.
Tak sanggup melihat Alena terus menangis, Dimas menarik tangan Alena dan memeluknya.
Dimas menenangkan Alena karena ia telah banyak menangis.
"Len, aku ada disini untukmu takkan pernah kubiarkan mereka menyakitimu lagi, sudah cukup semua tangismu sekarang biarkan aku membuatmu bahagia!" ucap Dimas mengelus rambut panjangnya.
"Apa maksudmu, Dim? jadi benar selama ini kalau kamu memiliki perasaan untukku?" tanya Alena melepaskan pelukan Dimas.
Dimas diam sejenak dan mengiyakan pertanyaan Alena.
"Sudah lama sejak kamu hilang ingatan aku memendam ini semua dan alasanku keluar negeri untuk melupakanmu tapi semua itu tetap tidak bisa membuatku melupakanmu, semua airmata dan kesedihanmu membuatkutak bisa menahannya lagi, aku mencintaimu len!" ujar Dimas lagi.
Semua itu membuat Alena bingung tapi ia tidak ingin jawabannya menyakiti Dimas yang sudah baik selama ini kepadanya.
"Berat untukku menjawab, aku bingung, aku terkejut mendengar semua perkataanmu hari ini, biarkan aku menyelesaikan masalah rumah tanggaku dulu setelah itu kita bisa membicarakan hal ini!" pinta Alena.
"Ada udang dibalik batu nih, pura-pura jadi hero taunya ada niat juga," ledek Novi sewot.
"Setidaknya aku tidak merebut, aku sekarang hanya menyatakan dan tidak butuh pendapatmu," celetuk Dimas.
__ADS_1
...****************...
Novi menarik tangan Pras.
"Ayo pulang, mas! aku tidak ingin lama-lama disini," celoteh Novi.
Pras menurut dan mereka berdua keluar hotel menuju parkiran.
Keributan yang terjadi hari ini membuat mereka jadi tontonan pengunjung hotel.
Banyak yang bersimpatik pada Alena.
"Mbak, kamu beruntung mendapatkan cinta pemuda ini, tampak dia sangat tulus kepadamu," celoteh salah seorang pengunjung wanita yang menghampiri Alena.
Mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu Dimas tersenyum.
Ia berusaha menghargai pendapat pengunjung itu.
Sesampainya Novi dan Pras dirumahnya, mereka tidak saling berbicara satu sama lain.
Tidurpun mereka memilih untuk berpisah, Novi dan Al tidur dikamar Alena sedang Pras tidur dikamarnya sendiri.
Pras susah tidur malam itu, ia terus memikirkan Alena.
__ADS_1
Ada rasa sesal dihatinya memilih berpisah dengan wanita yang ia cintai.
Disisi lain ia juga harus mempertahankan Novi yang sedang mengandung anaknya.
Dilema yang ia rasa pada malam itu membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Rasa bersalah, rasa kecewa dan rasa marahnya bercampur jadi satu.
Ia terpaksa harus mempertahankan wanita yang ia nikahi tanpa cinta daripada wanita yang ia cintai.
Keesokan harinya mama Alena bersiap akan pergi meninggalkan rumah itu.
Mama Eni ingin tinggal bersama anaknya.
Tapi ketika mama Eni ingin pergi Novi turun kebawah.
Ia bertanya kepada mama Eni.
"Mam, mau kemana kok bawa koper segala?" tanya Novi yang melihat mama Eni.
"Mama mau pergi menemui Alena dan tinggal bersamanya," jawab mama Eni.
"Kenapa, ma? apa kami melakukan kesalahan pada mama?" tanya Novi lagi.
__ADS_1
"Tidak, kalian tidak ada salah apapun, mama cuma ingin menemani dan tinggal bersama putri mama," jawab mama Eni.
Novi merasa berat melepaskan mama Eni karena melalui mama Eni ia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.