
Alena berharap bisa cepat bertemu dengan Dimas agar dia bisa menceritakan semua beban fikirannya.
Hari sudah menunjukkan jam 3 siang, Dimas bersiap menemui Alena di hotel.
Dalam perjalanan menuju hotel, ia berpapasan dengan Pras di parkiran.
"Dimas? kamu sudah pulang?" tanya Pras sedikit terkejut.
Dimas ikut terkejut melihat Pras ada disana.
"Hei..Pras!" sapa Dimas panik.
"Kamu ada disini juga, kalau boleh tau mau ngapain?" tanya Pras curiga.
"Oh...disini ada temanku yang menginap disini dan ngajak ketemuan!" jawab Dimas santai.
"Apa yang kamu maksud Alena?" tanya Pras menebak.
Dimas panik mendengar nama Alena disebutnya.
"Hah...Alena? kenapa dia harus disini? bukankah dia dirumahmu!" jawab Dimas berbohong.
"Tidak Dim! beberapa hari ini dia tidak dirumahku, dia bilang ingin menyendiri dan menenangkan diri," jelas Pras.
"Kalian ada masalah apa sampai dia harus pergi?" tanya Dimas pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Terjadi salah paham!" jawab Pras singkat.
Dimas yang mengetahui apa yang terjadi hanya diam mendengar ucapan Pras.
"Dimas, bisakah kamu menolongku untuk mencari Alena?" tanya Pras meminta pertolongan Dimas.
"Akan aku usahakan tapi aku tidak bisa berjanji," jawab Dimas santai.
Setelah selesai berbicara dengan Pras, Dimas berlalu pergi tapi ternyata Novi mendengar semua pembicaraan itu.
"Maafkan aku len, aku berharap kamu tidak akan pulang lagi dan segera meninggalkan suami kita, jujur aku capek jadi nomor dua, aku hanya ingin mas Pras menjadi milikku selamanya, maafkan jika menurutmu ini egois tapi aku tidak ingin kehilangan suami untuk kedua kalinya," gumam Novi dalam hati.
Pras yang melihat Novi termenungpun mengagetkannya.
"Sayang, kok melamun? ayo kita pulang!" ajak Pras.
Lagi-lagi disepanjang perjalanan, Novi banyak diam.
"Apakah tak cukup ada aku disampingmu? mengapa kamu masih mencarinya, mas?" gumam Novi bertanya dalam hati.
Hidup dalam keadaan suami yang berpoligami memang sulit tapi Alena berani mengambil keputusan itu, sedangkan Novi sebagai istri kedua merasa keberatan dengan hal itu.
Selama ini ia berpura-pura menerimanya tapi dibalik itu ia ingin merebut posisi Alena.
Ia berpura-pura baik didepan Alena tapi ia mempunyai niat jahat.
__ADS_1
...****************...
Dimas sudah berada didalam hotel dan ia mengirim pesan agar Alena turun menemuinya.
Beberapa saat kemudian Alena muncul dan langsung memeluk Dimas.
Dimas kaget dan bermaksud ingin melepaskan pelukan itu.
Alena tidak perduli dan tetap memeluk Dimas.
"Tidak bisakah kau hanya diam dan menerimanya? aku rindu dengan kehidupan yang dulu, sewaktu aku hilang ingatan aku dengan bebas memelukmu, tidak bisakah itu terjadi lagi?" tanya Alena dengan polos.
"Aku juga mengharapkan itu tapi aku tidak bisa len, aku berusaha mengendalikan perasaanku demi kebahagiaanmu jika aku mengizinkan pelukan itu perasaanku tak akan bisa terkendali lagi," gumam Dimas.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Alena lagi.
"Lalu, aku harus apa? memeluk istri orang, apa itu yang kamu mau?" kata Dimas balik bertanya.
"Bukankah kamu adikku? jadi hal yang wajar aku memelukmu," jawab Alena.
"Kalau saja sesimpel itu len, sayangnya kita tidak ada hubungan darah jadi nanti anggapan orang berbeda," jelas Dimas.
"Aku tidak ingin kamu ada masalah karena aku," tambahnya.
Dimas memegang tangan Alena dan mengajaknya duduk.
__ADS_1
"Kamu ada masalah apa len?" tanya Dimas.