Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Awal Merina Kerja


__ADS_3

Sebelumya mohon mmmff, lagi kurang enak badan. Jadi up nya putus putus . Author seneng banget, setiap episode banyak yg koment.. 😘😘😘


Mkch readers sayang,, mmff eahh kemaren up cuma 3 episode. Semoga entar bisa up bnyak.. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷


Tak terasa pagi menjelang, Merina tak beda dengan Putri. Sangat rajin dan tekun. Walaupun ditugaskan cuma untuk merawat Arjun dan memasak.


Namun dirinya tak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah yang lain. Selama tidak ada Putri ,rumah tidak terawat.


Jam 4 pagi Merina telah bangun, untuk membersihkan ruang demi ruang. Namun seperti biasa, anaknya sudah layaknya seperti ekor saja.


"Nak, kenapa ikut bangun sayang. Tama bobok lagi saja dulu. Mama mau bersih bersih ruangan" ucap Merina pada jagoan kecilnya. "


"Ga mau ma, Tama mau bantuin mama. Tama ga mau mama sakit karena kecapean "jawab Tama dengan polosnya. "


"Sebelum aktifitas, setiap awal bangun tidur apa yang kita lakukan dulu nak?? Masih ingat ga? "tanya Merina pura pura lupa. "


"Iya ma, ingat kita doa dulu. Ucap syukur dan meminta pada Tuhan supaya menyertai langkah kita dari pagi hingga malam nanti. Supaya kita selalu berada di jalan Tuhan "jawab Tama tersenyum. "


Tama memang baru usia 5 tahun, tapi otaknya cerdas.Dan sangat pintar. Apa yang selalu di ajarkan oleh mamanya, pasti selalu di ingatnya.


Bahkan tak pernah nakal sama sekali. Tama selalu berpikiran kalau dirinya itu sudah besar. Harus bisa jaga mamanya.


Di pagi ini, Tama yang memimpin doa. Walaupun sangat singkat, namun Merina sangat bersyukur. Apa yang Merina ajarkan dan tanamkan pada diri Tama, tidak sia sia.


Setelah selesai berdoa, Merina mengajak Tama. Membersihkan ruangan dari sudut ke sudut.


Namun naas, Tama kurang hati hati. Hingga saat sedang membersihkan almari kaca, kemoceng tak sengaja menyenggol sebuah vas bunga kecil yang ada di atas lemari kaca tersebut.


pyangg... vas terjatuh dan pecah.


Suara vas jatus terdengar hingga kamar Ega. Ega segera bangkit, menuju asal sumber suara tersebut.


Karena letak almari kaca disamping depan kamar Ega. Hingga Ega tinggal membuka pintu kamar saja, telah melihat apa yang terjadi.


Ega melotot melihat vas bunga kesayangannya pecah.

__ADS_1


"Aaduhhhhh, itu vas kesayangkuuu.. Belum saja sehari sudah ngerusakin barang.. Kamu bisa kerja ga si!! "bentak Ega melotot pada Merina yang sedang memunguti pecahan vas tersebut.


"Maaf nyonya besar, saya ga sengaja "hanya permintaan maaf yang keluar dari mulut Merina sambil tertunduk dan terus memunguti pecahan vas. "


Tiba tiba Tama yang sedang ikut memunguti pecahan vas berdiri.


"Maaf nek, ini bukan salah mama. Jadi tolong jangan marahin mama. Ini salah Tama, Tama yang ga sengaja .Vas kesenggol kemoceng saat Tama bersihin almari ini "ucap Tama sambil menangkupkan kedua tangan di dada memohon maaf. "


"Nenek! nenek! gundulmu!! Ogah aku jadi nenek anak nakal sepertimu!! "bentak Ega berkacak pinggang dan melotot pada Tama. "


Suara cempreng Ega membangunkan seisi ruangan. Baik itu Erik maupun Arjuna.


"Haduhhh mah mah, kenapa si pagi pagi sudah kaya petasan "gerutu Erik sembari bangun dari pembaringan dengan perlahan lahan. "


Erik menyusul istrinya yang lagi metenteng berkacak pinggang di depan pintu kamar.


Erikpun geleng geleng kepala, Erik tahu apa yang terjadi. Ketika melihat pecahan vas bunga kecil.


"Mah, mah... Itu kan cuma vas kecil. Kenapa diributkan??!!tegur Erik pada Ega istrinya. "


Erik menuntun Ega masuk kamar kembali, setelah itu Erik mendekati Merina.


"Tugasmu itu cuma memasak sama merawat Arjun saja. Kamu ga usah cape cape bersihin rumah, nak. Entar saya mau cari asisten rumah tangga saja untuk mengurus rumah. Karena saya cocok masakanmu wenak "puji Erik mengacungkan jempol pada Merina. "


Tiba tiba Tama menyela ketika Erik memuji masakan mamanya. Padahal biasanya Tama ga mau bicara sama orang asing.


"Wahh kakek suka juga sama masakan mama Tama, memang semua yang mama masak wenakee pppolll.. Walaupun itu cuma nasi goreng juga wenakkkk "sela Tama terkekeh. "


Tiba tiba Erik mensejajarkan tubuhnya dengan Tama.


"Kamu hebat, pintar. Jaga terus mama kamu ini ya boy?? "ucap Erik sambil mengusap rambut Tama dan tersenyum. "


"Hhmm boleh Tama panggil kakek?? Karena tadi Tama manggil nenek di omelin sama istrinya kakek" ucap Tama tertunduk lesu. "


Belum sempat Erik menjawab, Merina menarik Tama perlahan.


"Tama?? Tama ga sopan, ga boleh seperti ini"tegur Merina pelan. "

__ADS_1


"Sudahlah Merina, dia cuma anak anak. Kemarilah sayang.."


Tamapun mendekat pada Erik.


"Tama boleh kok, pannggil kakek. Dan anggap saja, saya ini kakekmu ya?? "ucap Erik tersenyum dan tiba tiba memeluk Tama. "


Tamapun membalas pelukan Erik.


"Trima kasih ya kek, Tama minta maaf. Tadi sudah buat gaduh. Tama yang pecahin vas nya waktu lagi bantu mama bersih bersih "ucap Tama polos, masih di pelukan Erik. "


"Iya Tama, ga apa apa. Lain kali Tama yang hati hati. Untung vas nya jatuh ke lantai. Kalau jatuhin kaki Tama kan sakit sayang.. "hibur Erik merenggangkan pelukan dan mengusap rambut Tama. "


Arjuna yang melihat pemandangan itu tersenyum. Karena kamar Arjuna dipindah Erik. Untuk sementara waktu di kamar tamu sebelah kamar orang tuanya.


Arjuna memang mengalami kelumpuhan sementara.Tapi Arjuna selalu mencoba mengangkat tubuhnya sendiri ke kursi roda.


Hingga Arjuna terbiasa berdiri sejenak hanya untuk berpindah dari pembaringan ke kursi roda.


"Pintar sekali anak kecil itu "batin Arjuna melihat tingkah Tama yang membela mamanya.


Arjuna pun kembali dalam kamarnya. Untuk berbaring kembali ,karena waktu masih terlalu pagi.


Sementara Merina melanjutkan pekerjaanya membersihkan semua ruangan. Setelah dirasa bersih. Merina beranjak ke dapur untuk memasak.


Sifat Merina begitu mirip dengan Putri. Bukannya hanya rajin dan tekunnya.Serta jago memasak. Tapi suka berdendang pula.


Disela memasak, dirinya berdendang menyanyi. Bersama jagoan kecilnya.Yang sesekali berjoged di depan Merina, sehingga membuat Merina terkekeh.


Hingga waktu memasak tak terasa telah selesai juga. Masakan siap tersaji di meja makan.


Merina mengajak Tama ke kamarnya. Untuk segera membersihkan diri.


Kebetulan hari ini hari Senin,hingga Merina berinisiatif untuk mengurus kepindahan sekolah anaknya.


"Puji Syukur, rumah sudah bersih. Makanan sudah siap ya nak. Nanti kita ijin ke kakek, untuk mengurus kepindahan sekolahanmu. Kamu ga apa apa kan sayang, sekolah pindah di seberang rumah ini?? "tanya Merina pada Tama. "


Merina agak ragu, khawatir Tama ga mau. Karena di sekolah sebelumnya sudah banyak temannya.

__ADS_1


"Mama ga usah seperti itu, sekolah dimanapun sama saja. Tama bersyukur, karena masih bisa sekolah "jawab Tama sambil memeluk Merina."


Tama tahu jika Merina mengkhawatirkan dirinya tidak akan mau pindah sekolah.


__ADS_2