
Setelah bayi dibersihkan bayi diletakkan disamping Ela berbaring.Salah satu perawat juga mempersilahkan Arjuna dan papah Erik masuk.
Ela hanya melirik sinis pada papah Erik, tanpa ada satu kata sapaan. Sementara Ela tersenyum pada Arjuna.
"Mas Arjun, anaknya ganteng kaya kamu. Kamu seneng kan mas, keinginanmu selama ini telah tercapai??" ucap Ela sumringah. "
"Aku akan seneng, jika anak ini benar benar darah dagingku "jawab Arjuna singkat. "
"Ya ampun mas Arjun, kamu tega banget ngomong seperti ini?? Apa kamu ga ada rasa iba sedikitpun padaku?? Harus melahirkan di dalam lapas seperti ini?? "cebik Ela meneteskan air mata. "
"Tak usahlah kamu keluarkan air mata buayamu La. Aku kesini untuk menalakmu. Hari ini juga, di depan papahku. AKU TALAK KAMU!! "hardik Arjuna tegas. "
"Kejam kamu mas!! Aku ga terima kamu talak mas!! Apa kamu lupa janjimu padaku dulu!! Bukan aku yang akan kamu talak jika anak ini lahir!! Tapi Putri!! "teriak Ela histeris. "
"Iya dulu memang aku berkata seperti itu sebelum tahu sifat aslimu, dan segala kelakuan burukmu. Apalagi setelah aku tahu ternyata kamu masih sah jadi istri orang!! "sindir Arjuna."
Selagi Arjuna bersitegang dengan Ela. Papah Erik tidak menyia nyiakan kesempatan ini. Papah Erik menemui sang dokter. Untuk meminta tolong supaya bayinya di tes DNA.
Sang dokterpun merasa heran akan permintaan papah Erik. Hingga akhirnya papah Erik menceritakan sejujurnya pada sang dokter, mengapa papah Erik meminta tolong untuk dokter tersebut tes DNA si bayi.
Segera dokter tes DNA si bayi tanpa sepengetahuan Ela. Sementara Arjuna tengah gelisah menanti kedatangan Adit yang tak kunjung jua.
Sudah hampir dua jam Arjuna menunggu namun Adit belum datang juga.
Yah, secara perkampungan Adit memang lumayan jauh. Jika dengan kendaraan umum bisa menempuh jarak 3 atau 4 jam perjalanan.
Ela telah dipindahkan keruang kusus pasien pasca melahirkan. Belum dikembalikan ke dalam sel nya.
1 jam kemudiann..
Adit telah sampai di lapas. Setelah Adit bertanya pada salah satu aparat kepolisian. Dimana letak ruang kesehatan kusus untuk proses persalinan.
Adit segera melangkahkan kakinya menemui Arjuna yang telah menunggu lama.
Tak berselang lama, Adit telah menyambangi Arjuna. Namun Arjuna langsung saja menyuruh Adit ke ruangan laboratorium.
Arjuna mengajak Adit untuk memberikan sample darahnya. Untuk dicek seperti halnya Arjuna.
__ADS_1
Kedua sample darah dari Arjuna dan Adit akan di cek dengan sang bayi. Kiranya sample darah siapa yang cocok dengan si bayi yang baru lahir tersebut.
Setelah selesai Adit diambil darahnya untuk sample. Aditpun menghampiri Arjuna yang sedang berada di teras bersama papah Erik.
"Mas Arjun, Ela tahu ga kalau saat ini bayinya sedang di cek DNA? ""tanya Adit penasaran. "
"Ela ga tahu Dit, barusan saja yang minta cek itu papah. Aku malah ga tahu, aku lagi debat sama Ela. Aku sudah talak Ela tapi Ela bersikeras ga mau di talak "jawab Arjuna. "
"Oh iya mas Arjun, aku minta maaf. Aku ingin tanya kenapa Ela bisa ada di lapas ini?? "tanya Adit penasaran. "
Arjuna menceritakan semuanya.Dari dirinya mendengar niat jahat Ela, sampai dirinya kecelakaan.
Hingga papah Erik juga memergoki Ela yang sedang ngobrol dengan orang suruhan Ela.
Semua diceritakan oleh Arjuna dari awal hingga akhir tanpa ada unsur ditambah atau dikurangi.
Adit menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan kelakuan wanita yang masih berstatus istri sahnya.
Adit juga berniat untuk mencerekan Ela, namun setelah mengetahui anak yang di lahirkan Ela sebenernya anak biologis dirinya atau bukan.
"Ya Tuhan,aku ga nyangka mas. Ela sampai berbuat sejauh ini demi obsesinya. Padahal dulu Ela bersahabat baik dengan Putri "ucap Adit menghela nafas berat sambil mengusap wajahnya berkali kali. "
Sang dokter keluar dari ruang laboratoriumnya. Dan menghampiri papah Erik, Arjuna, serta Adit.
Papah Erik dan Adit serentak berdiri ketika sang dokter mendekat.Sementara Arjuna masih di kursi rodanya.
Papah Erik memberanikan diri bertanya.
"Bagaimana dok, hasil tes DNA nya?? "tanya Erik sangat penasaran. "
"Maaf tuan, hasilnya tidak bisa langsung. Paling hasilnya keluar besok pagi. Mohon maaf dan mohon bersabar "jawab sang dokter tersenyum ramah. "
"Besok saya akan hubungi anda tuan Erik, jika hasilnya sudah keluar .Saya permisi dulu "ucap dokter tersenyum ramah berlalu begitu saja dari hadapan ketiga lelaki ini. "
Ketiganya merasa kecewa, karena sesuatu yang telah ditunggu tunggu begitu lama,belum juga terselesaikan. Malah harus menunggu kembali.
"Aduhhh, kaya gini aku repot dong mas Arjun. Aku harus bolak balik lagi,sementara kampungku jauh "ucap Adit berkeluh kesah. "
__ADS_1
Arjuna hanya menggelengkan kepala.
"Ngapain juga kamu harus balik kampung dulu. Kamu kan bisa tinggal dirumahku untuk sementara waktu. Boleh kan pah "saran Arjuna sembari meminta persetujuan dari papah Erik. "
"Iya boleh la Jun, saranmu itu benar. Ga usah balik kampung lagi, tinggal di rumah kami saja dulu Dit "ucap papah Erik tersenyum ramah pada Adit. "
"Waahh ommm, aku ga enak. Entar malah merepotkan om Erik sama mas Arjun" ucap Adit berbasa basi. "
"Ga lah Dit, santai saja. Lagian kami kan ga dirumah. Karena kami harus menunggu mamah yang lagi opname dirumah sakit " ucap Arjuna lugas. "
"Maaf mas Arjun, om. Aku ga tahu kalau tante Ega ada di rumah sakit " ucap Adit tertunduk malu. "
Akhirnya ketiganya pulang.Namun terlebih dulu Arjuna berpamitan pada Ela. Setelah itu baru ketiganya pulang.
Tujuan pertama ke rumah sakit dulu. Untuk sang sopir menjemput Merina dan Tama yang ada di rumah sakit.Menjaga Ega, selama Arjuna dan papah Erik berada di lapas.
Mereka bertiga bergegas naik mobil, dan papah Erik memerintahkan sang sopir untuk segera melajukan mobil menuju ke rumah sakit dimana Ega di rawat.
Tak berselang lama, sampai juga di rumah sakit. Ternyata si Ega sedang tidur nyenyak. Sedang Merina dan Tama sedang duduk di teras depan ruang rawat Ega.
"Maaf ya Merina, kami lama "ucap papah Erik. "
"Ga apa apa kok tuan besar"jawab Merina tersenyum ramah. "
"Hallo jagoann gantengg.. Kita ke kantin dulu yukkk.. Mau kan, kakek beliin Tama ice cream?? "rayu papah Erik mensejajarkan tubuhnya dengan Tama. "
Tama tidak langsung menjawab, namun menatap Merina terlebih dahulu. Untuk meminta persetujuan.
Merinapun mengangguk tanda mengijinkan.
Sementara papah Erik membawa Tama ke kantin terdekat. Arjuna memberi perintah pada Merina.
Untuk nanti mempersiapkan kamar tamu buat Adit.
😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊
Jangan lupa like, vote ,favorite...
__ADS_1
Biar author semangat upp.. 😊😊😊😊