Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Keputusan Alena


__ADS_3

Setelah dua hari Alena memikirkannya, sekarang tiba saatnya Alena memutuskan hal terbesar dihidupnya.


Ia harus siap dimadu atau memilih status baru yang akan disandangnya.


Alena meminta Dimas mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui Pras.


Tanpa berbasa-basi lagi setelah selesai sarapan Dimas langsung mengantar Alena.


Sesampainya di rumah sakit, Dimas memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit.


"Len, kamu aja yang turun aku akan menunggumu disini saja," kata Dimas.


"Kenapa nggak ikut turun?" tanya Alena.


"Nggak apa-apa," jawab Dimas singkat.


"Yaudah, aku turun dulu ya!" ucap Alena.


Dia meninggalkan Dimas didalam mobil, tanpa tahu perasaan Dimas yang sebenarnya.


Dimas pura-pura tegar didepan Alena padahal hatinya berat melepas Alena.

__ADS_1


Dimas sudah mengetahui jawaban Alena, karena ia tidak sengaja mendengar saat Alena sholat.


Alena menuju kamar inap Pras dan disitu sudah ada Novi dan mama Eni yang mengendong Al.


"Langsung saja ke intinya, bagaimana len keputusanmu?" tanya Pras.


"A-aku siap kau madu mas, tapi dengan satu syarat kamu harus adil dan jadikan madu ini manis dengan arti kata kau harus bisa terus membuat kami akur tapi jika ada satu hal yang melelahkan batinku dan aku sudah tidak sanggup lagi maka aku akan memilih mundur," jawab Alena dengan memberi syarat.


"Bagaimana Novi apa kamu setuju?" tanya Pras pada Novi.


Novi terdiam sejenak, ia menimbangnya dulu.


...****************...


"Baik, diantara kita ada mama sebagai saksinya dan didepan mama Pras berjanji akan bersikap adil kepada istri-istri Pras dan jika Pras melanggarnya Pras siap dengan segala konsekuensinya," ucap Pras berjanji.


Setelah mereka menyelesaikan semua masalah mereka, Alena mendatangi Dimas di mobil.


Ia meminta Dimas antarkan ia balik ke rumah Dimas untuk jemput semua pakaiannya dan kembali ke rumah Pras sebagai nyonya Pras wijaya.


Setelah Alena selesai mengemasi pakaian dan barangnya, ia menemui Dimas.

__ADS_1


"Dimas, terimakasih selama ini sudah menampungku di rumah ini, memberiku makan,pakaian dan apapun yang aku butuhkan, maaf kalau selama ini aku merepotkanmu, pokoknya terimakasih atas semuanya," ucap Alena berterimakasih pada Dimas.


"Jika saja kamu tahu aku tak perlu ucapan terimakasih darimu tapi cuma ingin kamu bahagia walau tak bersamaku," gumam Dimas dalam hati.


Dimas hanya mengangguk lemas dan segera menuju mobil.


"Ada apa dengan Dimas? sejak tadi pagi ia murung tak bersemangat, apa dia lagi ada masalah ya!" pikir Alena.


Ia tahu jika Dimas tak suka kalau ia bertanya.


Tiba-tiba Alena memeluk Dimas.


"Dimas terimakasih sudah menjadi adik yang luar biasa buatku selama ini, aku beruntung memiliki adik seperti kamu, aku merupakan anak tunggal dari keluargaku yang terkadang aku ingin merasakan punya seorang adik sampai aku bertemu denganmu akhirnya aku bisa merasakan jadi seorang kakak," ucap Alena memeluk Dimas dan menceritakan tentang keinginannya yang terwujud.


Dimas tetap saja diam tak membalas pelukannya.


Mobil segera ia jalankan menuju rumah Pras.


Dimas tak bisa menatap Alena lama-lama karena hatinya akan semakin berat melepas Alena.


Setelah membantu mengangkat barang Alena dan memasukkannya kedalam rumah, Dimas langsung pergi tanpa membantu Alena merapikannya.

__ADS_1


Dan dia hanya mengirim pesa whatsapp.


📩: "Len, maaf aku harus pergi begitu saja dan tak bisa pamit kepadamu karena aku juga akan berkemas dan berangkat ke bandara, take care disana," pesan Dimas.


__ADS_2