Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Curhat


__ADS_3

Alena mulai bercerita kesedihannya pada Dimas.


"Dim, aku tidak tahan ada disituasi ini lagi, aku tidak tahan berbagi suami tapi bukan hal yang mudah mengucap kata pisah, aku hanya dia mengerti perasaanku, aku tidak memintanya untuk meninggalkan perempuan itu tapi setidaknya ia harus mengerti keadaannya sekarang dia memiliki dua istri yang harus dia jaga perasaannya," cerita Alena meneteskan airmatanya.


Dimas membiarkan Alena menaruh kepalanya dibahu Dimas.


Dimas membelai rambutnya menenangkan Alena.


"Sudahlah len, kamu tidak perlu menangisi suatu kebodohanmu! ini kamu yang memutuskan jadi untuk apa kamu sesali," ujar Dimas.


"Sekarang semua sudah terjadi len, menangispun tak akan merubah keadaan, yang jelas jika kamu butuh pundakku untuk bersandar, aku siap!" tambahnya.


Alena memeluk Dimas erat dan menangis dipelukan Dimas.


"Dim, terimakasih kamu selalu ada untukku, walau kita tak ada hubungan keluarga namun kamu tetap memperdulikanku," ucap Alena menyeka airmatanya.


"Selalu len, walau kita tidak punya ikatan darah tapi sebagai sahabat aku peduli," kata Dimas.


Ia tak lagi mengaku sebagai adik Alena.


"Sahabat?" tanya Alena terkejut.

__ADS_1


"Iya len, aku sahabatmu kan!" kata Dimas dengan percaya dirinya.


"Bukankah kamu adikku?" tanya Alena bingung.


"Kita tidak ada hubungan darah jadi bagaimana mungkin aku jadi adikmu?" kata Dimas balik bertanya.


Walau Alena bingung dengan perkataan Dimas tapi dia tetap mengiyakan perkataan Dimas.


Sejak pertemuan itu Alena semakin sering menghubungi Dimas dan bercerita apapun padanya.


...****************...


Baginya tidak mungkin jika Dimas tidak mengetahui keberadaan istrinya.


Pada suatu waktu, Pras mencoba untuk membututi Dimas saat itu.


Dan benar saja Pras terkejut dengan apa yang ia lihat, Dimas yang bertemu dengan istrinya.


"Dimas..!!" panggil Pras marah.


Dimas dan Alena terkejut melihat Pras yang ada disitu.

__ADS_1


Pras mendatangi mereka yang terkejut.


Pras memegang kerah baju Dimas dan bertanya.


"Apa maksudmu membohongiku?" tanya Pras marah.


Dimas terdiam dan pasrah dengan apa yang terjadi saat itu.


"Kemarin aku bertanya ke kamu, apa kamu tahu keberadaan istriku dan kamu jawab nggak tahu! kenapa sih kamu harus berbohong? apa salahku kekamu Dim?" bentak Pras.


"Iya, aku salah! tapi perlu kamu tahu kesalahanmu adalah berpoligami, kalau kamu emang yakin Alena masih hidup saat itu harusnya kamu cari, bukan malah sibuk cari wanita lain untuk kamu nikahi, dan kamu tahu apa salah kamu? karena kamu memutuskan berpoligami tapi tidak bisa adil dengan istri pertamu, kamu tahu perasaannya? tersiksa, punya suami tapi hidupnya bagaikan janda, bathinnya tiap kali sakit dan tiap kali harus mengalah," ujar Dimas dengan emosi.


Pras terdiam tak berkutik mendengar ucapan Dimas.


"Nur Alena Humaira apakah benar yang diucapkan Dimas? kamu tahu kalau aku sangat sayang kepadamu kan?" tanya Pras memelas.


"Sayang? apa tak ada lagi kata cinta untukku? bukankah dulu kamu sering mengucapkan cinta padaku, kini apa kata itu tinggal kenangan? aku yang selalu ada untukmu bahkan berjuang bersamamu dari nol, sekarang apa aku tidak pantas mendapatkan cinta lagi? kamu tahu sakitnya jadi aku? bahkan orang lain yang tahu rasa sakit ini," ucap Alena dengan emosi dan menangis.


Novi yang ternyata membututi suaminya sejak tadi melihat hal itu malah tersenyum bahagia.


Apakah Novi senang melihat kejadian itu? atau justru akan mengalah? atau dia akan meninggalkan Pras setelah melahirkan?.

__ADS_1


__ADS_2