
Setelah lika-liku yang begitu panjang akhirnya Alena bisa merasakan kebahagiaan itu lagi.
Ia merasa menjadi wanita beruntung dipersunting oleh Dimas.
Selama masa iddah kemarin ia belum mampu menerima Dimas, tapi setelah iddahnya selesai ia mau dan siap menjadi istri Dimas.
Dimas yang juga merasa bahagia karena cintanya bisa diterima Alena dan penantian panjang itu tidak sia-sia.
Dalam hidupnya Alena adalah wanita setelah ibunya yang ia cintai.
"Sayang, kemarin apa yang kamu bicarakan dengan mas Pras? apa aku boleh tahu?" tanya Alena penasaran.
"Ia cuma mengucapkan selamat untuk kita," jawab Dimas singkat.
"Apa cuma itu?" tanya Alena masih penasaran.
Dimas menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
Setelah hari itu dan sampai seminggu mendatang mereka sudah tidak bisa saling bertemu satu sama lain.
Mereka menjalani proses pingitan sebelum hari H.
Semakin dekat hari pernikahannya Dimas terkenang dengan kedua orang tuanya.
Dimas bermaksud ingin mendatangi makam kedua orang tuanya.
Ia bermaksud meminta restu atas pernikahannya.
Hari itu saat Dimas berada dimakam ada seorang lelaki paruh baya mendekatinya.
"Apa kamu Dimas anak kak Suci?" tanya lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
Dimas menganggukkan kepalanya.
Lelaki paruh baya itu memeluk Dimas.
"Sudah lama paman mencarimu, Nak! selama ini paman tinggal di Bengkulu, semenjak paman dapat kabar papa dan mamamu sudah meninggal, paman memutuskan untuk mencarimu," jelas paman Ahmad.
Dimas terpaku diam tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Paman, aku kesini ingin meminta restu mama papa dan aku tidak menyangka bisa bertemu paman disini, apa paman bersedia menghadiri pernikahanku?" tanya Dimas meminta pamannya datang ke pernikahannya.
"Iya Dim paman bersedia!" jawab pamannya.
Dimas sama sekali tidak menaruh rasa curiga apapun pada paman Ahmad.
"Ohiya... paman sekarang tinggal dimana? apa paman mengajak bibi dan anak-anak paman?" tanya Dimas.
"Kami menumpang dirumah teman kami," jawab paman Ahmad.
Dimas langsung menyetujuinya.
"Iya paman tinggallah bersama kami, paman bisa tinggal di paviliun rumah bersama bibi dan anak-anak paman," jawab Dimas.
"P-paviliun?" tanya paman memastikan pendengarannya.
"Iya paman paviliun, kenapa paman apa paman keberatan dengan itu?" tanya Dimas balik bertanya.
"Tidak, paman hanya kaget!" jawab paman berbohong.
...****************...
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap-siap menuju gedung pernikahan.
__ADS_1
Alena tampak cantik dengan mengenakan kebaya putih dengan nuansa gold melingkar dipinggangnya.
Alena tampak gugup ketika memasuki gedung.
Melihat banyaknya para tamu undangan membuat Alena semakin gugup dan cemas.
Walau ini pernikahan kedua baginya tetap saja momen hari ini membuat ia gugup.
Mama Eni menggenggam tangan putrinya, ia tahu jika Alena gugup.
Alena dibawa menuju bangku tempat ijab kabul, tampak Dimas yang sudah menunggunya terpesona melihat Alena, matanya tak berkedip melihatnya sehingga Pras berbisik padanya.
"Dia akan menjadi milikmu nanti setelah ijab kabul selesai, kamu bisa puas menatapnya sekarang biarkan penghulu menjalankan tugasnya," ujar Pras menggoda Dimas yang terus menatap Alena.
Penghulu menatap mereka dan tersenyum melihat tingkah mereka.
"Bagaimana, apakah ijabnya bisa kita mulai?" tanya pak penghulu.
Dimas melirik malu.
"Silahkan, pak!" jawab Dimas singkat.
Dimas mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan kini mereka sah menjadi suami istri.
Acara resepsi juga berjalan lancar.
Mereka berencana honeymoon ke Bali.
Kini mereka berempat hidup rukun dan damai tanpa masalah apapun.
Akankah terjadi konflik baru setelah kedatangan paman Ahmad beserta anak dan istrinya?.
__ADS_1