Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Hati yang gundah 2


__ADS_3

Dimas seakan bisa menebaknya.


Walau mereka berjauhan tapi karena rasa cinta Dimas yang besar pada Alena, ia seakan bisa merasakan apa yang dirasakan Alena.


"[Dimas, aku membutuhkanmu!]" kata Alena terisak membuat Dimas panik.


"[Kenapa len? kenapa kamu mengambil keputusan yang hanya membuatmu sakit? diluar sana pasti ada seseorang yang akan membuatmu bahagia]," tanya Dimas.


Alena terdiam.


"[Siapa seseorang itu Dim?]" tanya Alena.


"[Pasti ada lah len, kan habis hujan akan ada pelangi yang indah setelahnya]," jawab Dimas berbohong.


Dimas berusaha menghibur Alena agar tidak sedih.


Sampai akhirnya Alena tertidur.


Dimas sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa sewaktu dia pulang nanti ia akan menemui Pras.


Ia tidak bisa mendengar atau melihat wanita yang dia cintai menangis.


Ia rela mundur jika Alena bahagia dengan Pras, makanya ia memilih keluar negeri hanya untuk melupakan Alena.


Disisi lain Pras mulai dengan manjanya Novi, bahkan ia sama sekali tidak pernah bertanya tentang Alena didepan Novi.


Novi bahagia melihat perubahan sikap suaminya.

__ADS_1


Sebaliknya Alena yang mulai berontak dengan hal itu.


Ia memanggil Pras untuk datang kekamarnya dan Pras menurutinya.


Pras langsung menemui Alena yang sudah menunggunya sejak tadi.


Pras memeluknya dari belakang tapi Alena menolak dan melepaskan pelukan itu.


"Ada apa sayang? apa aku tidak boleh memelukmu lagi?" tanya Pras bingung.


"Apa kau sudah meminta izin Novi untuk menyentuhku? apa kau masih memiliki waktu untuk bersamaku?" tanya Alena dengan emosi.


"Mengapa aku harus meminta izin padanya? kan kamu istriku juga, dan apapun yang kita lakukan itu halal sayang," jawab Pras tenang.


"Kamu masih bertanya mengapa? apa kamu tidak pernah berpikir selama ini aku diam untuk apa? untuk menghormatimu mas, tapi apa yang kamu lakukan? selama sebulan ini kamu tidak ada waktu untukku, mana janjimu dulu yang akan tetap adil?" tanya Alena dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kamu tahu kan dia sedang hamil anakku, tolong kamu mengerti!" pinta Pras memelas.


...****************...


Hidup dalam keadaan seperti itu memang sulit, bahkan cenderung tidak mampu.


Tapi ia berani mengambil keputusan ini dengan syarat sikap Pras yang adil, tapi ternyata tidak bisa.


Pras bisa dengan mudah mengatakan adil tapi saat menjalankannya sulit.


"Sementara ini aku akan tinggal di hotel, aku butuh waktu sendiri dulu," kata Alena memasukkan beberapa pakaian kekoper.

__ADS_1


Pras berusaha mencegahnya tapi Pras gagal.


Alena tetap pada pendiriannya.


Ia turun dan pergi dengan linangan airmata yang sudah tak terbendung lagi.


Novi yang melihat kepergian Alena dengan membawa koper itu bingung dibuatnya.


Alena masuk kedalam taksi dan menuju ke hotel.


Tidak ada yang bisa menghentikan Alena saat itu.


Setelah Alena pergi, Novi bertanya pada Pras.


"Ada apa mas? kenapa Alena pergi dan kamu tidak mencegahnya?" tanya Novi dengan polosnya.


Pras hanya mengernyitkan dahi tanda tidak tahu.


Ia memilih tidak memberi tahu Novi karena itu hanya akan menjadi beban pikirannya.


Dalam kondisi Novi yang hamil sekarang ini, dia tidak boleh banyak pikiran.


Pras menanggung pikiran itu sendiri tanpa mau berbagi.


Pada malam itu setelah Alena memutuskan pergi, ia pergi keluar dan banyak minum sampai ia mabuk.


Ia merasa bersalah pada Alena karena meletakkannya pada posisi seperti ini.

__ADS_1


Jauh dilubuk hatinya hanya Alena yang ia cintai, tapi sekarang ada Novi yang juga menghias hatinya.


Dua orang yang ia cintai, Dua orang yang sudah ia nikahi dengan janji sehidup semati.


__ADS_2