
Biasanya aku begitu semangat jika menyambut suamiku pulang kerja, tapi setelah mengetahui apa yang telah terjadi rasanya malas. Jangankan menyambut melihat dia ada disini saja aku tidak suka, apalagi sekarang ada istri baru nya ntah sampai kapan dia akan tinggal dirumah ini.
"Sayang buatin mas kopi yang seperti biasa ya". Ujar mas Rama padaku, saat aku sedang berada dilantai bawah.
"Aku sibuk mas, suruh putri aja yang buat". Ucapku lalu pergi
Rama hanya berdiri ditempatnya melihat Ratih pergi begitu saja. Rama mengusap rambut nya dengan kasar seakan-akan pusing dengan semua ini.
"Dengan cara apa lagi aku harus membujuk Ratih agar mau menerima Putri jadi istri kedua ku." Gumam Rama sambil merebahkan diri ke sofa.
"Mas kamu kenapa ko pulang kerja mukanya kusut gituh". Ucap putri saat menghampiri Rama.
"Mas pusing Put, harus bagaimana lagi supaya Ratih menerima kenyataan ini..
"Sudahlah mas, jangan terlalu memaksa Ratih terus menerus. Cepat atau lambat pasti dia sadar dan Nerima aku jadi madunya". Ucap Putri sambil memegang tangan Rama.
Rama lalu memeluk Putri dengan erat, tanpa mereka sadar ternyata Ratih melihat mereka tengah bermesraan. Itu membuat hati Ratih semakin hancur berkeping-keping tak terasa air mata pun jatuh begitu saja..
"Makasih sayang, atas pengertiannya". Ucap Rama melepas pelukannya.
"Iya mas, mau makan apa mau aku buatin kopi atau teh.".
"Kopi aja sayang..
"Oke suamiku." Ucap Putri lalu pergi ke dapur.
__ADS_1
Saat Ratih sedang membuat kopi, bi Minah datang dan bertanya pada Putri.
"Eh ada mbak putri, lagi buat kopi mbak".. Tanya Bi Minah.
"Iya bi, kopi buat mas Rama".. Ucap Putri sambil mengocek kopi.
"Kenapa harus mbak putri yang buatin kopi bapak ya".. Bi Minah membatin.
"Mari bi.".. Seru Putri membawa nampan berisi secangkir kopi.
Bi Minah hanya mengangguk pelan pada Putri...
"Kenapa ya kalau dilihat-lihat mbak putri sama pak Rama sepertinya dekat".. Gumam Bi Minah sambil membawa piring kotor..
*****
"Hallo nak, gimana kabar kamu disana? Ntah mengapa perasaan ibu selalu ingat kamu terus".. Ucap ibu dibalik telpon.
Aku diam sejenak setelah mendengarkan ibu berbicara, ingin rasanya aku ceritakan semuanya pada ibu. tapi rasanya gak mungkin karena aku tidak mau melihat mereka bersedih..
"Aku baik-baik aja kok, ibu gak usah khawatir".. Jelasku berbohong..
"Syukurlah kalau gitu, kalau ada apa-apa bilang sama kami ya nak, jangan kau pendam sendiri apalagi sekarang ini kamu sedang hamil".. Ujar ibu kembali..
"Iya ibuku sayang"....
__ADS_1
Setelah cukup lama mengobrol dengan ibu, panggilan pun berakhir...
krett.. suara pintu terbuka dan saat ku lihat ternyata mas Rama yang masuk seperti biasa ku abaikan saja dia..
"Sayang.."... Panggil mas Rama.
"Mas boleh gak nanti malam tidur disini sama kamu".. Ucap mas Rama kembali.
Aku yang tengah memainkan ponselku, langsung menatap sinis mas Rama..
"Silahkan kalau mau tidur disini.. Tapi.." Ucapku menggantung.
"Tapi apa sayang".. Tanya mas Rama penasaran..
"Silahkan saja kamu tidur dikamar ini, tapi tidak dengan ku jangan harap aku mau tidur denganmu mas..".. Ucap ku.
Aku kembali memainkan ponselku dan pura-pura so sibuk sendiri tanpa memperdulikan lagi mas Rama, yang bahkan saat ini telah duduk di sebelah ku..
"Tapi kita kan suami istri Ra, masa tidurnya harus terpisah".. Ujar mas Rama..
"Apa mas kamu bilang suami istri, ya memang benar kita masih suami istri. tapi setelah aku tahu semuanya kita sudah tidak seperti yang dulu lagi".. Jelasku dengan ketus..
Saat mas Rama ingin memeluk tubuhku, Replek aku langsung mendorongnya. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi saja meninggalkan mas Rama dikamar seorang diri, lantas aku putuskan untuk tidur bersama Raisa saja..
"Ra mau kemana, ko mas ditinggal".. Panggil mas Rama.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan mas Rama aku langsung menuju kamar anakku yang berada dilantai bawah..