Sahabatku Ternyata Maduku

Sahabatku Ternyata Maduku
Part 8


__ADS_3

Dua bulan sudah kehamilan keduaku ini, tapi sudah bulan juga putri berada dirumah ini. ntah sampai kapan dia berada disini,


Bahkan hari ini aku melihat suamiku serta anakku lagi bercengkrama dengan putri, jika dilihat seperti keluarga yang harmonis.


Sebenarnya aku malas jika harus turun kelantai bawah, tapi aku hari ini ada jadwal ke dokter kandungan. dengan langkah malas aku menginjak satu persatu anak tangga, namun tiba-tiba saja di anak tangga ke lima begitu licin sehingga akupun tergelincir kebawah.


"Akhhhhh".. Teriakku.(Setelah itu tak sadarkan diri)


"Bunda".. Teriak Raisa saat melihat Ratih terjatuh dari tangga.


"Ratih". Begitupun dengan Rama dan langsung berlari menghampiri Ratih..


Bi Minah yang berada didapur langsung buru-buru keluar karena mendengar teriakkan dari arah tangga.


"Ayah, bunda kenapa. lihat dikaki bunda ada darah".. Tunjuk Raisa sambil menangis.


"Ratih sayang bangun ra".. Ucap Rama begitu sangat panik..


"Ya Allah, ibu kenapa. ayo cepat bawa ibu kerumah sakit, sepertinya ibu mengalami pendarahan".. Ujar bi Minah yang baru datang dan melihat kondisi Ratih.


Tanpa mereka sadari, ternyata putri tersenyum tipis melihat kondisi Ratih.


"Sesuai rencana". Batin putri.


Dengan cepat Rama membawa Ratih kerumah sakit..


"Aku ikut ya, aku takut terjadi apa-apa sama Ratih". Ucap Putri pura-pura khawatir


"Ga usah Kamu di rumah aja temenin Raisa".. Ucap Rama.


Setelah kepergian Rama dan Ratih kerumah sakit Raisa terus saja menangis.


"Bunda".. disela tangisnya.


"Non jangan nangis terus doain bundanya supaya tidak terjadi apa-apa, maen sama bibi yuk dibelakang.


Raisa menggeleng.


"Aku mau sama tante putri aja bi". Ucap Raisa.


"Yasudah kalau gitu, bibi mau ke dapur ya"..


Raisa hanya mengangguk sambil terisak-isak.


"Udah dong jangan nangis terus, nantin cantik nya ilang loh". Ucap Putri mengusap air mata Raisa.


"Raisa khawatir sama bunda". Lirih Raisa.


"Semoga gak terjadi apa-apa sama bunda kamu sayang". Ujar putri lalu memeluk Raisa.


"Semoga yang kuharap kan terjadi, dan aku jadi istri satu-satunya Rama Adinugraha". Batin putri sambil tersenyum licik.


*Sebelum tragedi.*


"Kapan sih Mas Rama cerai sama Ratih apa harus nunggu anak itu lahir dulu, itu sangat lama dan membosankan".. Gumam putri saat berada dikamar.


Sudah dua bulan putri masih berada dirumah Rama dan Ratih, meskipun sebenarnya Rama sudah menyediakan apartemen beberap Minggu yang lalu. namun putri masih ingin tinggal dirumah ini.


"Emangnya dia gak sakit hati gitu kalau harus tinggal satu atap dengan madunya, terus apa dia juga ngga cemburu kalau aku lagi Deket sama mas Rama, Dasar wanita sangat polos dan bahkan bodoh". Monolog Putri sambil memainkan ponselnya dikamar


"Gimana ya caranya supaya janin itu keguguran".. Putri sedang memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran nya sebuah ide yang menurutnya cermerlang.


. sebelum putri melakukan aksi nya dia melihat situasi dalam rumah aman apa tidak, sedangkan Rama dan Raisa sedang berolahraga pagi dihalaman depan.


"Aman, mas Rama dan Raisa sedang olahraga dihalaman depan".. Gumam putri..


Setelah itu putri menuju dapur untuk mengambil sesuatu, Melihat suasana dapur yang sepi tidak ada bi Minah disana, membuat Putri dengan sangat mudah mengambil yang dia inginkan.

__ADS_1


"Ini dia, akhirnya aku akan segera menghempaskan mu dari rumah ini". Ucap putri sambil memegang minyak goreng ditangannya.


Dengan langkah terburu-buru, putri melakukan aksinya. Setelah semuanya selesai putri mengembalikan lagi minyak goreng itu ketempat semula.


Setelah itu putri memutuskan untuk duduk diruang keluarga yang jaraknya tidak jauh dengan tangga.


"Tante ko gak ikut olahraga sih".. Seru Raisa yang baru selesai olahraga.


"Bunda juga diajak ngga mau". Sambung Raisa kembali lalu ikut duduk bersama putri.


"Tante bukannya gak mau, tapi lagi malas aja".. Ujar Putri disertai tawa.


"Itu mah sama aja tante".. ucap Raisa


"Sayang ko kamu gak langsung ganti baju, katanya mau ikut nganter bunda" Ucap Rama yang baru masuk.


"Ratih mau kemana mas".. Tanya Putri.


"Mau periksa kandungan nya put, jadi aku harus siap-siap dulu"...


Saat Rama akan menuju tangga, putri menahannya karena dia takut kalau Rama yang terjatuh.


"Mas. duduk dulu aja disini masih capek, iya kan sayang".. Lirik putri pada Raisa.


Raisa hanya mengangguk pelan..


Rama akhirnya mengikuti perintah putri untuk duduk bersamanya..


Sedangkan didalam dapur bi Minah sedang kebingungan yang baru pulang dari pasar..


"Ko ini minyak goreng tinggal segini ya, Perasaan tadi masih segini".. Gumam bi Minah..


"Mungkin aku lupa kali ah, udahlah ngapain pusing-pusing mikirin, mending beresin belanjaan". monolog bi Minah.


Sambil bersenandung kecil bi Minah Merapihkan belanjaannya yang begitu banyak, setelah semuanya kelar bi Minah memutuskan untuk membuat pudding buah dan brownies coklat kesukaan Ratih dan Raisa.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh putri keluar juga dari kamarnya..


Putri pura-pura tidak melihat Ratih saat sedang memperhatikan mereka, Putri dengan sengaja bercanda bersama Raisa dan Rama..


"Ayo turun tunggu apalagi". Batin putri.


Ratih pun mulai menginjak anak tangga satu persatu hingga akhirnya terpeleset.


Putri tersenyum penuh kemenangan melihat Ratih tergelincir kebawah..


***


Rumah sakit


Setelah cukup lama menunggu, Rama dipanggil oleh dokter untuk masuk kedalam kamar periksa, Rama melihat Ratih sudah siuman dan masih terbaring lemas di ranjang pasien.


"Bagaimana dok keadaan istri saya serta kandungan nya". Tanya Rama ketika sudah berada di dalam pada dokter cantik dihadapannya.


"bapak tenang dulu ya, Dengan berat hati saya mengatakan ini".. Ucap dokter menggantung.


"Istri bapak mengalami keguguran." Ujar dokter.


Ratih yang mendengar pengakuan dari dokter langsung menangis tak kuasa menahan kesedihannya.


"Hiks. Hiks..


"Maafin bunda sayang, bunda gak bisa jaga kamu". Ucap Ratih disela tangisnya.


Mendengar penjelasan dari dokter membuat Rama begitu syok dan menitikkan air matanya, lalu menghampiri Ratih yang sedang menangis.


" Sayang". Panggil Rama


Namun Ratih tak merespon sedikitpun.

__ADS_1


"Kamu yang sabar , aku juga sedih merasa kehilangan calon buah hati kita".. Ucap Rama mengusap rambut Ratih..


"Maaf pak, bu. untuk sementara biar bu Ratih menginap dulu disini satu malam". Ujar dokter.


" Baik dok". Ucap Rama.


" Kalau gitu saya permisi pak, Bu".. Ucap dokter itu lalu pergi..


Setelah dokter itu pergi, Rama minta izin pada Ratih untuk keluar sebentar. Untuk menghubungi orang rumah.


"Hallo put, kamu lagi dirumahkan".. Tanya Rama dibalik telpon.


"Iya aku lagi dirumah mas, ".. Jawab putri.. Yang berada dikamar nya.


Rama lalu memberitahu kondisi Ratih saat ini pada Putri semuanya.


Mendengar kata yang keluar dari Rama, membuat hati Putri bersorak gembira..


"Apa kamu bisa jagain Raisa, put".. Ujar Rama.


"Jadi Ratih keguguran kasihan sekali dia, Iya tenang aja mas aku bakal jagain Raisa kamu gak usah khawatir"..Ucap putri..


Setelah selesai menelpon Rama memutuskan untuk ke toko baju diseberang rumah sakit..


"Aku beli baju dulu deh buat ganti, tadi gak sempet ganti baju". Gumam Rama lalu melangkah keluar rumah sakit.


****


Sedangkan disisi lain, putri sedang merayakan kemenangan nya seorang diri di dalam kamar.


"Sebentar lagi aku akan jadi nyonya Rama Adinugraha satu-satunya". Gumam Putri tersenyum tipis.


Tok


tok.


"Iya sebentar". Ucap putri saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Krek.


"Eh Raisa sayang".. Seru Putri saat membuka pintu.


Raisa lalu memeluk Tubuh Putri sambil menangis.


"Hiks, Hiks..


"Bunda kenapa belum juga pulang tante".. Tanya Raisa yang masih memeluk Putri.


Putri melepaskan pelukan Raisa dengan begitu pelan, lalu berjongkok..


"Raisa sayang, kata Ayah bunda harus nginep dulu dirumah sakit cuma sehari ko".. Ujar Putri sambil memegang bahu Raisa.


"Kalau gitu kita jalan-jalan yuk, sambil beli eskrim mau gak".. Bujuk putri..


dengan sesegukan Raisa mengangguk kan kepalanya.


"Eh Mbak putri, sama non Raisa mau pada kemana".. Tanya bi Minah saat melihat Putri akan keluar rumah.


"Mau ajak Raisa jalan keluar, biar gak sedih terus mikirin bundanya".. Ucap Putri sambil menggandeng tangan Raisa.


"Kalau gitu saya permisi dulu ya bi, titip rumah ya bi. " Ucap putri lalu pergi..


Setelah putri dan Raisa pergi, bi Minah ngomel-ngomel sendiri.


"Dasar pelakor, pasti dia mau ngambil hati non Raisa tuh. biar suka sama dia".. Gerutu bi Minah sambil berjalan keluar untuk membersihkan teras depan.


" Apa tadi dia bilang nitip rumah, dia pikir ini rumahnya apa.... Oh ya kabar ibu gimana ya sekarang ko belum ada kabar juga ya" . Gumam Bi Minah


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan bu Ratih serta kandungannya".. Sambung Minah..

__ADS_1


__ADS_2