
"Aku harus tahu diri, tidak mungkin aku bisa memiliki Alena, wanita yang sudah bersuami, mengapa aku harus mencintai dia, banyak wanita lajang diluar sana yang bisa aku cintai, kenapa harus dia?" tanya Dimas dalam hati.
Betapa tersiksanya Dimas, ia sosok pria yang susah jatuh cinta, dan sekalinya ia bisa merasakan itu, ia harus menahan dan menjauh dari cintanya.
"Lin, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Dimas.
Apakah Dimas akan menyatakan cintanya pada Alena atau mungkin Dimas akan jujur tentang masalalu Alena.
"Ya ngomong aja Dim!" balas Alena.
"Tapi sebelum aku mengatakannya kamu janji harus tetap menjadi sahabatku," pinta Dimas pada Alena.
Alena menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan Dimas.
"Lin, aku tidak bisa bermain kata-kata jadi langsung ke intinya saja, aku suka kamu!" ucap Dimas.
Lina adalah nama yang mereka beri pada Alena.
Saat mendengar pernyataan itu Lina terkejut tak menyangka.
"Lin, kamu tidak perlu menjawab pernyataanku karena ini salah," lanjut Dimas.
Hal itu membuat Lina bingung.
"Salah? maksudnya?" tanya Lina.
Dimas menarik nafas panjang dan menghelanya.
"Karena kamu adalah istri orang," jawab Dimas.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Lina kaget, ia tak menyangka akan apa yang dikatakan Dimas.
"Kenapa? kamu kaget mendengarnya, ini alasannya mengapa akhir-akhir ini aku bersikap dingin dan menjauhimu," jelas Dimas.
"Karena aku tidak ingin menghancurkan hidupku dengan mencintai istri orang," lanjutnya.
Lina terpaku membisu tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Lalu ia pergi meninggalkan Dimas disana.
Dimas membiarkannya sendiri dulu.
Tampak Dimas terlihat kecewa dengan perkataannya sendiri.
Ia tak sanggup membiarkan Lina berjalan sendiri dengan emosinya, lalu Dimas mengejarnya.
Hari sudah semakin tetapi Lina belum juga pulang.
Dimas mengkhawatirkan Lina karena tak biasanya Lina seperti ini.
Apakah mungkin Lina kecewa padanya, atau mungkin Lina sudah menemukan keluarganya sehingga ia tidak ingin pulang lagi kerumahnya.
Dimas pergi mencari Lina.
Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya Dimas menemukan Lina dalam keadaan menangis sendirian.
Dimas menghampirinya.
"Kenapa kamu disini tidak pulang? dari tadi aku berkeliling mencarimu, aku khawatir takut kamu kenapa-napa," ucap Dimas panik.
__ADS_1
"Bukankah ini maumu," jawab Lina singkat.
"Ha...apa? mauku? memangnya kamu siapa bisa tahu mauku?" tanya Dimas dengan tatap tajamnya.
Lina terdiam dan terus menangis.
"Hapus airmatamu, dasar cengeng!" perintah Dimas.
Bukannya berhenti menangis tapi tangisannya tambah terbendung.
Dimas menarik tubuhnya dan memeluknya.
"Kamu tahu betapa khawatirnya aku? setelah mama tiada, kamu satu-satunya yang aku miliki, kamu tahu kalau kamu itu wanita hebat, sejak aku menemukanmu dipinggir sungai saat itu kondisi kamu tidak baik-baik saja, badan penuh luka dan dalam keadaan hamil besar kamu masih bisa bertahan, tapi maaf aku terpaksa menyetujui operasimu karena bayi itu sudah meninggal didalam," kata Dimas, ia menceritakan semuanya pada Lina.
Dimas mengusap airmata Lina dan tiba-tiba Lina mengeluh kesakitan dikepalanya.
"Kenapa lin? kamu nggak apa-apa?" tanya Dimas panik, ia mengkhawatirkan kondisi Lina.
"Kepalaku sakit, kejadian ini sepertinya pernah terjadi sebelumnya," jawab Lina.
Perasaan Dimas saat itu tak menentu, apakah mungkin Alena mengingat sesuatu?.
"Apa yang kamu ingat lin?" tanya Dimas.
"Entahlah, tapi aku melihat ada seorang pria yang mengusap airmataku," jawab Lina.
"Apa mungkin yang Lina ingat kejadian bersama suaminya?" tanya Dimas bergumam.
"Lin, mungkin itu bayang-bayang masalalumu yang artinya kamu akan mengingat semua," jelas Dimas dalam senyuman palsunya.
__ADS_1