
Setelah melakukan meeting dengan papanya. Evan benar-benar langsung mendatangi rumah Shirin kekasihnya.
Omongan sang papa tampak menakutkan. Saat mempertanyakan masalah Kevin. Dari pada dia yang pada akhirnya ketauan lebih baik dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Shirin.
Dan sekarang Evan harus pusing. Apa yang di sampaikannya kepada Shirin ternyata membuat Shirin marah dan malah merajuk tidak ingin bicaranya lagi.
Evan sedang membujuk kekasihnya Shirin yang benar-benar kesal. Bagaimana tidak bisa-bisanya Evan meminta mereka untuk jaga jarak sementara.
Sudah selama ini hubungan mereka yang sudah terjalin 1 tahun tetapi tidak ada kepastian dan kejelasan mau seperti apa kedepannya dan sekarang malah di suruh jaga jarak. Bagaimana Shirin tidak marah.
Sebagai wanita jelas dia tidak setuju dengan hal itu. Merasa Evan tidak pernah memikirkan perasaannya.
" Sayang," ucap Evan memeluk Shirin dari belakang. Shirin yang berdiri di dekat jendela kamarnya. Sedang meneteskan air mata.
Saat Evan memeluknya Shirin bahakan menghindar dan tidak ingin di peluk sama sekali oleh Evan yang membuatnya kesal.
" Hey," sahut Evan yang semakin memper erat pelukan itu dan menpelakan pipinya di ceruk leher Shirin.
" Dengarkan aku sayang, kamu jangan menangis seperti ini. Ini hanya sementara, sampai suasana aman," ucap Evan yang terus membuat Shirin mengerti.
Shirin menyeka air matanya dan berbalik badan dengan cepat menghadap Evan kekasihnya.
" Kenapa kita tidak berpisah saja," ucap Shirin tiba-tiba mengambil keputusan membuat Evan kaget.
Dia memang sangat lelah dengan hubungan dengan Evan salah satu anak dari Mitra Winata yang membuatnya sangat tertekan dan serba salah.
" Sayang, jangan bicara seperti itu," ucap Evan memegang pipi Shirin.
" Apa gunanya semua ini. Jika kita akhiri semuanya. Maka selesai. Kamu tidak perlu takut dan aku juga tidak perlu mewaspadai sesuatu," ucap Shirin dengan menekan suaranya.
" Shrin aku tau kamu marah dengan keputusanku. Tetapi bukan berarti kita harus Berpisah. 5 hari yang lalu aku sudah menikahimu membuktikan segalanya. Jika aku serius dan sekarang kamu meminta berpisah. Itu tidak mungkin. Kita sudah menikah dan aku tidak mau meninggalkan kamu. Aku tidak mau kita berpisah dengan alasan apapun," tegas Evan dengan yakin.
" Heyyy, sayang. Kamu adalah tanggung jawabku. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggal kamu. Dan pernikahan kita masih baru. Berpisah bukan jalan yang baik," jelas Evan membuat.
" Kita hanya menikah sirih Evan. Hubungan kita juga tidak tau seperti apa. Kamu memang menikahi ku. Tapi apakah ada kejelasan dalam pernikahan itu. Kamu bahkan tau kita baru menikah,"
" Tetapi dengan mudahnya kamu menyuruh kita untuk jaga jarak. Kalau kita jaga jarak untuk apa kamu menikahiku. Untuk apa melakukan semua ini. Kalau ujung-ujungnya seperti ini," sahut Shirin yang benar-benar kesal.
Dia benar-benar marah dengan suaminya yang baru menikahinya 5 hari lalu dengan sirih dan pasti tanpa Sepengatuhaan keluarga dari Evan dan dengan entengnya Evan memutuskan untuk menjaga jarak sementara waktu.
Sebenarnya itu bukan yang pertama. Mereka memang sering seperti itu. Sebentar-sebentar berpisah dan pasti Shirin sangat tidak menyukai hal itu.
" Ini hanya sebentar Shirin. Sampai situasi aman. Aku tidak mau papa tau hubungan kita dan kamu akan bahaya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terjadi pada kamu," ucap Evan membuat Shirin
" Berati sampai kapanpun. Kita akan tetap seperti ini. Tidak akan ada yang tau dengan hubungan kita. Sampai kapanpun kita akan terus sembunyi-sembunyi. Sampai kapanpun aku dan kamu tidak akan mendapat restu dari papa kamu," ucap Shirin yang mulai mengeraskan suaranya.
" Sayang dengar kan aku. Bukan begitu maksudku," sahut Evan yang memang tidak tau bagaimana menjelaskannya kepada istrinya itu.
__ADS_1
" Lalu katakan Evan kepadaku. Apa yang akan membuat papamu merestui Hubungan kita. Aku harus berasal dari anak kolong merat. Orang yang banyak uang. Bukan pramugari yang menerima gaji dari papamu," sahut Shirin.
" Shirin cukup!" tegur Evan.
" Aku yang salah, aku yang sangat berani menyukai Pria sepertimu. Aku sangat berani mencintai anak kolong merat. Aku memang tidak tau diri dan sekarang aku malah menuntut sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Memang aku tidak tau diri. Anak miskin yang bermimpi hidup bahagia dengan Pria kaya sepertimu," ucap Shirin yang menyalahkan dirinya sendiri dan malah meremehkan dirinya di depan Evan.
" Shirin, tolonglah mengerti keadaanku. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku mencintaimu dan tidak ingin berpisah dengan mu. Jadi tolong pahami semuanya," ucap Evan yang terus membujuk Shirin agar Shirin mengerti.
" Sudahlah Evan, kita berpisah saja, aku tidak mau hubungan ini tetap lanjut. Karena hubungan ini tidak akan ada awal dan akhirnya. Lagi pula ini akan membuat kamu bebas," tegas Shirin lalu pergi.
" Shirin," panggil Evan dan langsung menarik tangan Shirin
" Lepaskan aku, emp, emp," Evan langsung menutup mulut Shirin dengan bibirnya.
" Emp, emp," Shirin memberontak dan bahkan mendorong dada Evan. Tetapi Evan lebih kuat dan tidak peduli dia mencium Shirin dengan kasar bahkan sampai mengigit bibir Shirin agar membuka mulutnya.
Sekuat tenaga Shirin memberontak. Evan lebih kuat darinya, dia mencium kasar istri sirihnya itu.
Dan bahkan ciuman brutal itu sudah turun keleher Shirin dan barulah Shirin bisa bernapas. Setelah bibir Evan pergi dari mulutnya.
" Evan, hentikan, kau menyakitiku," protes Shirin melihat Evan yang terus menciumi lehernya dengan mengusap-usap punggungnya bahkan tangan Evan mulai meraba di bawah sana menaikkan dress Shirin.
" Evan cukup!" Shirin terus memberontak dengan kekasaran Evan kepadanya. Mungkin Evan sangat emosi dengan Shirin yang akan mengakhiri pernikahan mereka.
" Aku tidak ingin berpisah denganmu," ucap Evan yang terus menciumi Shirin.
Akhirnya Shirin pun pasrah dengan apa yang di lakukan Evan kepadanya. Karena merasa Shirin sudah tenang Evan memperlembut sentuhannya dan kembali merai bibir Shirin menciumnya dengan lembut dan tidak sekasar tadi.
Mereka juga sudah sama-sama tidak menggunakan pakaian lagi dan sudah polos tanpa sehelai benangpun. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka melakuka penyatuan.
Mereka melanjutkan pertengkaran mereka di atas ranjang dengan saling memuaskan satu sama lain.
Hubunganitu jelas bukan pertama kali mereka lakukan bahkan sebelum menikah pun Evan dan Shirin sudah beberapa kali melakukan hubungan badan.
Tetapi masih untuk Evan bertanggung jawab atas Shirin dan benar-benar tidak meninggalkannya. Walau Shirin sudah meminta beberapa kali.
Tetapi di tetap mempertahankan hubungan itu. Hanya papanya saja yang memang tidak akan merestui hubungan itu. Karena seperti yang Shirin katakan. Karena dia bukan anak kolong merat.
Memang jika Winata mengetahui hubungan itu apalagi mengetahui Shirin dan Evan sudah menikah. Mungkin tidak akan seperti Kevin yang hanya di beri teguran. Tetapi mungkin hal yang tidak akan pernah di bayangkan oleh Evan.
*********
Akhirnya permainan panas suami istri itu selesai juga setelah melakukan hampir 3 jam sampai Evan menjatuhkan dirinya di samping Shirin. Evan yang sudah di banjiri keringat dan napas yang tersenggal-senggal.
Sama halnya dengan Shirin dia juga berkeringat dan napas yang tersenggal-senggal. Shirin langsung menarik selimut menutup tubuhnya dan memiringkan badannya.
Evan langsung memeluknya dari belakang, dan mencium pipinya. Mencium bahunya lembut dan Shirin ternyata masih menangis dan langsung menyeka air matanya.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang, aku hanya ingin kamu mengerti. Aku mohon kasih aku waktu. Aku akan menyelesaikan semuanya," ucap Evan yang terus membujuknya.
" Aku akan Resign jadi pramugari Lexus," ucap Shirin tiba-tiba.
" Shirin, ayolah jangan seperti ini," bujuk Evan lagi.
" Evan, bukannya kita akan menjaga jarak. Aku ingin menenangkan diri. Dan aku ingin pulang kampung. Kalau kamu sudah merasa aman dan segalanya. Kamu bisa menjemputku," ucap Shirin yang benar-benar bulat dengan keputusannya.
" Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan," jawab Evan tanpa masalah dan semakin memeluk erat Shirin. Kembali mencium pipi Shirin.
" Aku tidak tau kapan ini akan selesai dan kapan akan berakhir. Aku sangat lelah Evan. Tetapi aku juga tidak tau harus melakukan apa. Aku sangat capek dengan semua ini," batin Shirin yang benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
" Aku berharap kamu benar-benar paham Shirin. Aku tau kamu marah. Tetapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Bersabarlah Shirin. Aku pasti akan menyelesaikan semuanya dan akan membuatmu terus bahagia," batin Evan yang benar-benar sangat mencintai Shirin.
***********
Alan sedang berada di kamarnya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang Sementara Saras sedang berada di meja rias melakukan rutinitas seperti biasa sebelum tidur. Alan sepertinya penuh pemikiran.
" Jadi benar Kevin punya pacar?" tanya Alan tiba-tiba membuat Saras menoleh kearahnya.
" Kamu kok bilang gitu," sahut Saras heran dengan mengkerutkan dahinya.
" Papa mengetahui hubungan mereka," jawab Alan. Saras langsung kaget.
" Papa tau?" tanya Saras tidak percaya dan Alan mengangguk pelan.
" Lalu apa yang terjadi?" tanya Saras.
" Sepertinya. Papa tidak merestui. Soalnya aku mendengar papa menanyakan hal itu pada Kevin dan sepertinya papa sudah menyuruh mereka berpisah," Jelas Alan.
" Kamu serius?" tanya Saras benar-benar tidak percaya.
" Iya aku mendengarkan hal itu sendiri," sahut Alan membenarkan tebakannya.
" Kasian Kiara. Dia masih sangat muda. Tetapi harus mengalami hal ini. Kenapa memang sangat sulit jika harus jatuh cinta dengan anak-anak dari keluarga Mitra Winata," batin Saras yang sangat prihatin dengan Kiara.
Dia memang mengenal Kiara. Karena sudah beberapa kali Kiara menjadi pasiennya. Dia juga melihat Kevin adik iparnya yang sangat mencintai wanita yang tidak tau apa-apa itu.
" Saras!" tegur Alan.
" Iya," jawab Saras.
" Kamu kenapa?" tanya Alan.
" Nggak apa-apa, seharusnya bukannya masalah ini tidak perlu di herankan," sahut Shirin.
Bersambung......
__ADS_1