
" Apa yang papa lakukan. Kenapa papa melibatkan keluarga Kiara?" tanya Kevin yang marah-marah di ruangan kerja papanya.
" Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan," sahut Winata dengan santai.
" Tapi papa tidak perlu memecat pak Winata dan juga Rangga. Papa sangat keterlaluan," sahut Kevin yang benar-benar marah.
" Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Tetapi kau tidak mendengarku. Jadi itu tidak salahku," ucap Winata.
" Tidak salah papa bilang. Papa benar-benar. Papa masih bilang tidak salah dengan apa yang papa lakukan. Aku benar-benar tidak percaya. Jika papa bisa melakukan semua ini," ucap Kevin.
Dari pada kamu banyak berbicara. Aku masih memberimu kesempatan untuk menyelesaikan hubungan yang seharusnya tidak terjalin itu. Sebelum aku akan melakukan hal yang lebih parah lagi," ucap Winata memberi ancaman.
" Apa lagi yang akan papa lakukan," teriak Kevin dengan suaranya yang mengelegar benar-benar emosi.
" Percuma kau berteriak sampai ke atas langit. Suaramu tidak akan mengubah semuanya," ucap Winata bangkit dari duduknya dan mendekati Kevin.
" Semua pilihan hanya ada pada mu. Semakin kau mempertahankan hubungan yang kau banggakan itu semakin kamu melihat siapa sebenarnya Mitra Winata," ucap Winata menepuk bahu Kevin.
Kevin mendengarkan ancaman dari sang papa membuat matanya memerah dengan tangannya yang mengepal.
" Papa benar-benar kejam," ucap Kevin membuat langkah Winata berhenti.
" Jika kau tidak ingin melihat kekejammanku lagi. Kau bisa menyelesaikannya," sahut Winata yang kembali melanjutkan langkahnya.
Kevin yang mendengarnya memejamkan matanya dengan air matanya yang menetes. Sekarang perasaannya benar-benar bimbang. Bagaimana tidak. Dia sangat mencintai Kiara. Tetapi mencintai yang hanya bisa memberi penderitaan.
Dia tidak tau apa lagi yang akan di lakukan papanya. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan salah satu tujuannya untuk menikahi Kiara. Agar bisa melindunginya. Tetapi orang tua Kiara belum mempercayainya. Jadi dia semakin tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Kevin mengacak rambutnya Frustasi dan langsung berlutut. Air matanya kembali menetes. Dia merasa seperti pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya akan menunggu apa saja yang akan terjadi pada Kiara yang pasti papanya tidak akan berhenti sampai hubungannya benar-benar sudah selesai.
" Apa yang harus aku lakukan Kiara," batin Kevin.
**************
__ADS_1
Malam hari yang begitu indah. Tampak bulan yang cantik di atas sana dengan bintang-bintang yang mengelilinginya. Di pinggir jembatan Kiara dan Kevin berdiri dengan ke-2 tangan mereka di letakkan di pagar jembatan.
Sesekali mereka melihat indahnya langit dan sesekali juga melihat ke bawah melihat bayangan bulan dari air. Ke-2nya berjanji untuk bertemu.
Sebelumnya ke-2nya sudah menghabiskan banyak waktu 3 jam lalu, berjalan dengan tangan bergandengan, menikmati makanan, dan melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan dan kaki mereka berhenti di jembatan sejak 20 menit yang lalu tanpa obrolan sedikitpun.
Sepertinya hati mereka yang saling bicara. Sehingga suara mereka tidak terdengar sama sekali.
" Malam ini sangat indah," ucap Kiara dengan senyum di wajahnya melihat bulan.
" Kamu benar, ini sangat indah," sahut Kevin yang juga melihat langit. Tangan kiri Kiara memegang erat tangan kanan Kevin yang berada dia pagar jembatan.
Kevin melihat kearah Kiara merasakan tangan Kiara yang benar-benar dingin. Kiara menoleh ke arah Kevin dengan tersenyum tipis.
" Kevin," ucap Kiara.
" Ada apa?" tanya Kevin.
Bahkan masih bisa tersenyum. Jelas mendengarnya Kevin sangat sakit. Ada sesuatu di dadanya sehingga begitu sesak. Kevin pun menghadapkan tubuhnya pada Kiara dan menumpuk genggaman tangan itu dengan tangannya satu lagi.
" Kenapa?" tanya Kevin.
" Aku tidak ingin keluarga ku bermasalah. Jadi mari kita selesaikan semuanya. Aku rasa sudah cukup sampai di sini," ucap Kiara dengan matanya bergenang. Alasan yang di berikannya memang itu lah yang sebenarnya. Merasa bersalah kepada keluarganya dengan semua yang terjadi.
" Kamu yakin?" tanya Kevin dengan suara beratnya. Dia tau Kiara pada akhirnya akan menyerah. Karena keluarganya yang benar-benar dilibatkan.
" Iya aku yakin. Mari kita berakhir," ucap Kiara menegaskan sekali lagi.
" Baiklah, mari kita berakhir di sini," sahut Kevin setuju. Air mata Kiara langsung menetes saat Kevin menyetujuinya.
Kevin memang tidak punya pilihan lain. Selain harus setuju semuanya. Karena dia tidak bisa membiarkan Kiara harus menderita.
Dia tidak mungkin menonton semua yang di lakukan papanya. Tidak mungkin rasanya dia akan menjadi penonton dengan semua yang terjadi pada Kiara.
__ADS_1
" Iya, kita memang harus berakhir," sahut Kiara berpura-pura tenang dengan tangannya perlahan lepas dari Kevin. Kevin yang berdiri di depannya juga sama. Berpura-pura tegar untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita cinta pertamanya itu.
" Aku dan keluarga ku juga akan pindah," ucap Kiara yang memberitahu Kevin.
" Maaf aku. Aku sudah membuatmu seperti ini," ucap Kevin merasa bersalah. Kiara langsung menggelengkan kepalanya.
" Tidak ada yang salah. Memang hubungan ini tidak seharusnya ada. Jadi jelas. Tidak ada yang salah dalam semua ini," sahut Kiara.
" Apapun itu aku minta maaf. Kiara aku hanya berharap kau benar-benar bisa bahagia dan melanjutkan kuliahmu dengan baik. Aku berharap kamu benar-benar bisa lulus dengan baik dan bisa sukses, seperti semua yang kamu impikan," ucap Kevin yang berbicara begitu berat dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.
" Iya, pasti semuanya pasti seperti itu," sahut Kiara dengan suara seraknya.
" Ya sudah kalau begitu aku harus pulang, aku pulang dulu, aku masih banyak yang harus di kerjakan," ucap Kiara yang tidak tahan dengan semua yang di hadapinya dan memilih untuk pergi.
Tetapi Kevin menahan tangannya dan menariknya pelan ke hadapannya sehingga dia dan Kiara begitu dekat. Kevin memegang pipi Kiara dengan ke-2 tangannya dan menatap Kiara dalam-dalam dan langsung meraih bibir Kiara.
Mata Kiara terpejam dengan air matanya yang menetes. Ciuman yang begitu terasa sakit. Sakit harus berpisah dengan orang yang di cintai. Bukan karena sudah tidak cinta lagi. Bukan karena kematian tetapi karena restu yang hanya bisa membuat saling menyakiti.
Ciuman itu semakin dalam. Sebagai akhir dari segalanya. Perasaan yang saling berbicara. Dan memutuskan untuk mengambil jalan berpisah untuk semuanya.
" Aku sangat mencintaimu Kiara. Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun kepadamu. Maaf kan aku yang sudah membuatmu mengalami semua ini," batin Kevin yang terus memperdalam ciumannya.
" Aku mencintai mu Kevin. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak tau Kevin. Bagaimana aku melanjutkan hidup untuk semua ini," batin Kiara yang sangat jelas tidak rela berpisah.
Lama berciuman akhirnya pasangan itu saling melepas ciuman itu. Dengan napas ke-2nya yang sama sekali tidak saling beraturan. Wajah ke-2nya di penuhi air mata. Air mata perpisahan mereka.
Kevin menatap dalam wanita yang akan di lepasnya dengan tangannya yang mengusap air mata Kiara. Kevin mencium lembut kening Kiara.
Kiara menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Tersenyum pada Kevin. Tanpa Adi pembicaraan Kiara menurunkan tangan Kevin dari pipinya dan perlahan pergi melangkah untuk pergi.
Lama dan lama langkah Kiara semakin di percepat dan Kevin hanya bisa melihatnya punggung Kiara yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.
Bersambung......
__ADS_1