
Kiara yang duduk di depan Winata benar-benar sangat gugup tangannya yang di letakkannya di atas pahanya saling menggenggam erat. Bahkan dia juga meremas roknya.
Dia benar-benar tidak menyangka jika akhirnya akan berhadapan dengan Mitra Winata. Orang yang pasti cukup menakutkan. Bahkan sangat takut dengan Winata dan pasti orang yang seharusnya di hindari.
Tidak berapa lama orang tadi di perintahkan Winata untuk membuatkan teh sudah datang.
" Terima kasih," ucap Winata. Pelayan tersebut mengangguk lalu pergi.
" Ayo Kiara di minum!" ujar Winata.
" Iya pak," jawab Kiara
" Kiara come on kamu harus tenang jangan gugup Kiara," batin Kiara yang berusaha menenangkan dirinya.
" Kamu seorang penulis?" tanya Winata tiba-tiba kembali membuka pembicaraan.
" Iya pak," jawab Kiara.
" Apa kamu tidak bisa bicara melihat saya. Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Winata yang melihat Kiara yang sedari tadi menunduk. Kiara terlihat membuang napasnya perlahan dan mengangkat wajahnya menghadap Winata.
Kiara bisa melihat jelas. Bagaimana wajah Winata. Wajah yang terlihat sangat berwibawa. Sangat tegas dan mungkin memang sedikit kejam.
Apa lagi Kiara mendengar beberapa cerita Kevin mengenai Winata yang jelas apa yang di ceritakan Kevin sama dengan apa yang di lihatnya berdasarkan penilaiannya. Dari wajah Winata.
" Saya melihat beberapa buku kamu, dan semuanya bagus," ucap Winata yang sedari tadi berbicara dengan santai.
" Makasih pak," sahut Kiara.
" Aku yakin papanya Kevin pasti sudah mencari tau siapa aku. Dia bahkan tau aku penulis dan juga tau. Jika aku sering kemari, apa lagi yang sudah di ketahuinya. Kenapa perasaanku semakin tidak tenang," batin Kiara.
" Kamu tidak ada rencana menulis lagi?" tanya Winata.
" Ada Pak, tapi waktunya belum ada yang tepat," jawab Kiara.
" Sebaiknya kamu lanjutkan menulis. Dari pada kamu melakukan hal yang tidak berguna. Seperti berkencan. Apa itu berguna," ucap Winata seakan minyindir.
Bagai di sambar petir. Kiara mendengarnya. Kiara semakin takut dan semakin yakin Winata tau hubungannya dengan Kevin.
" Tidak bergunakan? tanya Winata. Kiara menganggukan kepalanya dan Winata terlihat tersenyum tipis.
" Lanjutkan bakatmu sebagai penulis jangan membuang waktu di masa mudamu. Kamu masih 19 tahun. Jelas banyak yang bisa kamu lakukan," ucap Winata.
" Kamu menjadi pengunjung di perpustakaan ini. Pengunjung tetap dan membaca paling banyak buku. Ya Kevin juga sering mengunjungi perpustakaan ini," ucap Winata lagi yang sekarang menyinggung Kevin.
" Memang om Winata sudah tau hubunganku dengan Kevin," batin Kiara seakan pasrah.
" Oh iya. Saya baru tau. Jika kamu juga salah satu orang yang berjasa di yayasan Lexus. Kamu mengembangkan sekolah dan juga kampus Lexus. Tapi sayang kamu tiba-tiba malah keluar dan Lexus sudah tidak punya anak yang memiliki 1Q tinggi lagi. Pasti yayasan kami sangat kehilangan kamu, hal itu pasti sangat di sayangkan," ucap Winata. Kiara diam saja. Karena dia pasrah. Dia hanya akan menjawab apa yang di tanyakan.
" Bisa di jelaskan. Kenapa kamu memilih keluar dari perguruan tinggi Lexus?" tanya Winata.
" Apa yang harus aku jawab," batin Kiara yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan Winata.
" Kiara!" tegur Winata yang melihat Kiara diam saja.
" Saya punya cita-cita untuk kuliah di Harvard dan saya ingin kuliah di sana," jawab Kiara. Winata tampak mengangguk-angguk mendengar jawaban Kiara.
__ADS_1
" Apa kamu sudah keterima?" tanya Winata.
" Saya sudah di terima. Hanya tinggal mengikuti ujian beasiswa dan pendaftaran ulang," jawab Kiara.
" Begitu rupanya. Kebetulan saya juga kenal beberapa orang di sana. Termasuk orang yang mengurus pendaftaran murid baru. Yang mungkin saya bisa berbicara padanya. Untuk meloloskan orang yang akan masuk atau tidak meloloskannya," ucap Winata yang terus berbicara dengan santai.
" Apa maksudnya. Kenapa Om Winata bicara seperti itu," batin Kiara merasa semakin ada yang tidak beres.
" Ya dalam masalah itu pasti biasa bukan," sahut Winata dengan tersenyum dengan penuh arti. Tetapi sangat menakutkan untuk Kiara.
" Hmmm, kamu juga anak dari Danu Bramana yang bekerja di perusahaan saya?"tanya Winata.
" Iya pak," jawab Kiara yang sekarang bicara lebih tenang.
" Kakak kamu juga akan di promosikan sebentar lagi,"ucap Winata.
" Apa maksudnya kenapa bicaranya jadi merembet- merembet Kesana kemari. Apa yang sebenarnya ingin di katakannya," batin Kiara yang benar-benar tidak mengerti dengan Winata yang terlalu banyak bicara dan membuatnya penasaran inti dari perkataan itu.
" Hmmm, ayo minum. Kamu jangan tegang seperti itu," ucap Winata.
" Iya pak," jawab Kiara yang tangannya mengambil secangkir teh dan ingin meminumnya yang Winata juga sudah mulai meminumnya.
" Di mana kamu pertama kali bertemu Kevin?" tanya Winata membuat Kiara tidak jadi minum. Dan jantungnya semakin berdebar tidak menentu. Bagai di sambar petir dengan pertanyaan itu.
" Apa di perpustakaan ini?" tebak Winata. " Soalnya saya melihat cctv kamu sering bersama nya di sini. Berduaan dan terlihat sangat dekat," lanjut Winata.
Dada Kiara semakin sesak mendengar kata-kata itu dan dengan perlahan Kiara menurunkan gelar tehnya. Dia tidak jadi minum karena mendengar ucapan Kiara.
" Apa kalian bertemu di Luar Negri. Paris, Amerika atau Jerman," lanjut Winata lagi.
" Atau kerap kali menghabis waktu di hotel Lexus," lanjut Winata lagi. Kiara menelan salavinanya mendengarnya.
" Tidak ada yang benar," sahut Kiara dengan keberanian yang besar. Mungkin memang apa yang di sembunyikannya selama ini sudah ketahuan dan untuk apa lagi harus berpura-pura seperti tidak ada hubungan.
" Aku bertemu dengannya pertama kali di pesawat itu seingatku. Tetapi Kevin mengatakan tidak. Dia juga bahkan tidak memberi tahuku sama sekali. Mungkin jika bapak menanyakannya dia akan memberi tahunya," ucap Kiara yang berbicara benar-benar berani dan sedikit menantang.
" Sudah kuduga gadis ini. Memang tidak mudah di kecoh. Dia bahkan terlihat tenang saat aku mengatakan tentang Kevin," batin Winata harus mengacungi jempol dengan keberanian Kiara bicara kepadanya.
**********
Pembasahan Kiara dan Winata sudah selesai dan Kiara sudah kembali ke cofee shop di mana kakaknya menunggu dengan gemetaran dan penasaran dengan apa yang di bicarakan Kiara dan Winata.
Saat melihat sang adik sudah menyebrang jalan dan hampir mendekati kedai kopi Rachel yang tidak sabaran langsung menghampiri adiknya.
" Kiara apa yang di katakannya. Apa kamu baik-baik saja. Apa dia mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Atau apa yang di lakukannya ?" tanya Rachel mencecar Kiara dengan pertanyaan yang banyak dengan memegang lengan adiknya.
" Tidak kak, tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja," jawab Kiara. Rachel mengkerutkan dahinya. Jelas tidak percaya dengan hal itu.
" Bohong. Mana mungkin sudah cerita sama kakak apa yang di katakannya sama kamu," ucap Rachel yang jelas memang tidak percaya dengan adiknya. Kiara menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Dia hanya menanyakan. Kenapa aku keluar dari universitas Lexus?" jawab Kiara.
" Hanya itu," sahut Rachel. Kiara mengangguk.
" Masa hanya itu," ucap Rachel yang tidak percaya.
__ADS_1
" Ya dia wajar menanyakan hal itu. Karena dengan keluarnya aku dari yayasan Lexus. Saham mereka turun. Makanya dia memanggilku untuk mengobrol," ucap Kiara dengan sedikit penjelas.
" Sudahlah. Ayo kita masuk. Jangan bicara di sini," ucap Kiara yang berjalan terlebih dahulu memasuki kedai kopi dan meninggalkan Rachel yang masih kebingungan.
" Masa iya. Mitra Winata hanya mengatakan itu saja," batin Rachel yang tidak percaya dengan adiknya.
" Apa Kiara menyembunyikan sesuatu. Atau dia memang tau hubungan Kiara dan Kevin dan dia melarang hubungan itu," batin Rachel yang menebak-nebak apa sisi pembicaraan itu.
" Kiara pasti menyembunyikan sesuatu. Wajahnya juga sangat lesu," ucapnya lagi yang merasa ada tidak beres. Lama berbukit dan menebak-nebak apa yang terjadi. Akhirnya Rachel pun menyusul Kiara memasuki kedai kopi.
*********
Sandy terlihat sedang mencuci piring. Clarissa dengan yang bangun tidur menuruni anak tangga dengan kimono yang dipakainya. Dia merasa tidak bisa tidur. Clarissa pun memilih keluar kamar untuk mengobrol dengan Sandy.
Dan ternyata mendapati Sandy berada di dapur dan sedang mencuci piring. Clarissa tersenyum dan menghampiri Sandy. Dan langsung memeluknya dari belakang membuat Sandy kaget yang tiba-tiba. Sudah ada tangan memeluknya.
" Kenapa belum tidur?" tanya Sandy tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Aku tidak bisa tidur," jawab Clarissa.
" Kenapa?" tanya Sandy.
" Entahlah. Aku ingin mengobrol dengan mu. Agar aku mengantuk dan akhirnya bisa tidur," ucap Clarissa.
" Aku sedang mencuci. Selesai ini kita akan mengobrol," ucap Sandy.
" Hmmm," jawab Clarissa. Sandy mendengus tersenyum melihat Clarissa masih memeluknya .
" Tunggulah di sana! aku selesaikan ini dulu," ucap Sandy.
" Aku tidak mau. Karena ini aku terakhir memelukmu seperti ini," ucap Clarissa Sandy bingung mendengar ucapan Clarissa.
" Kenapa?" tanya Sandy menghadapkan tubuhnya pada Clarissa melihat Clarissa dengan wajah serius.
" Aku besok akan pulang. Aku harus menetralkan suasana. Sebelum papa mencurigai ku," jawab Clarissa.
" Oh, begitu. Aku kira entah apa," sahut Sandy lega.
" Kenapa kamu, takut ya. Aku pergi begitu saja," ucap Clarissa menggoda Sandy.
" Iya bisa di katakan. Aku takut tidak bisa seperti ini lagi," jawab Sandy jujur. Clarissa tersenyum mendengarnya.
" Kita kan masih bisa ketemu di kampus bukannya ruanganku itu bebas untukmu. Jadi Kiara bisa berduaan di sana," ucap Clarissa memegang pipi Sandy.
" Kamu ini benar- benar-benar nakal," ucap Sandy mencolek hidung Clarissa. Clarissa mengalungkan tangannya di leher Sandy.
" Aku padahal ingin tinggal di sini selamanya denganmu," ucap Clarissa.
" Aku juga. Aku juga ingin tinggal di sini. Bersamamu," jawab Sandy. Clarissa jinjit dan langsung mengecup bibir Sandy.
" Aku pasti sangat merindukanmu," ucap Clarissa.
" Aku juga pasti lebih merindukanmu," jawab Sandy. Mereka saling menatap dan dan pandangan mata mereka turun pada bibir lawan masing-masing dan sampai akhirnya bibir itu saling menempel dan berciuman dengan dalam.
Mereka akan berpisah sementara. Jadi harus melepas rindu dulu.
__ADS_1
Bersambung....