Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin

Takdir Cinta Datang Untuk Kiara & Kevin
Part 82 mengajak ke Amerika


__ADS_3

Apa lagi dari kata-kata Kiara tadi sudah menjelaskan kecemburuan yang besar dan pasti di balik cemburu itu ada perasaan besar kepadanya.


Tetapi dia ingin mendengar dari wanita yang sekarang salah tingkah dengan pipinya yang memerah. Bukan karena marah lagi. Terapi karena kegugupan dengan pertanyaan yang di ajukan nya.


" Kita pulang," sahut Kiara yang benar-benar tidak tau harus bicara apa. Dia hanya semakin gugup berada di depan Kevin.


Kevin sungguh mengerjainya. Tadinya dia yang kesal dan berusaha di bujuk. Sekarang dia menjadi salah tingkah dan seperti orang bodoh.


" Kau tidak akan menjawabnya?" tanya Kevin menaikkan 1 ujung alisnya.


" Apa gunanya menjawabnya. Sudah ayo pulang," ajak Kiara dengan wajah merengutnya semakin lama wajah itu akan semakin memerah.


" Sudah ayo pulang," desak Kiara lagi. Kevin mendengus kasar melihatnya.


" Seharusnya dia tidak bertanya. Bukannya seharusnya dia tau," batin Kiara kesal.


Kiara mengambil boucket bunga pemberian Kevin lalu berdiri. Kevin masih diam di tempat Kiara pun memilih pergi duluan.


Kevin mendengus dengan senyum di wajahnya. Lalu meninggalkan uang pembayaran di meja tersebut dan langsung pergi menyusul Kiara sudah berjalan dengan langkah yang terburu-buru.


********


Ternyata Kiara dan Kevin masih tidak pulang. Mereka masih berjalan-jalan di sekitar menara Eiffel. Tetapi kali ini mereka diam tanpa ada pembahasan.


Kiara sangat enggan mengeluarkan suaranya untuk berbicara Karena sudah terlanjur moodnya hilang. Bukan karena wanita itu lagi. Tetapi mungkin karena pertanyaan Kevin yang membuatnya diam seribu bahasa.


" Apa kau akan diam terus?" tanya Kevin.


" Kau yang membuatku diam, seperti ini," sahut Kiara.


" Baiklah lupakan pertanyaanku. Anggap aku tidak bertanya kepadamu," ucap Kevin.


" Anggap saja aku tau jawabannya," sahut Kevin Kiara mengangguk kan kepalanya.


" Kiara apa kau masih marah dengan Ladya?" tanya Kevin. Kiara menoleh kearahnya.


" Jangan bertanya mengenainya, aku tidak ingin mendengarnya," ucap Kiara dengan matanya yang tidak pernah bohong. Bahwa dia memang tidak menyukai wanita itu.


" Baiklah! aku tidak akan membahasnya lagi. Aku tidak akan membahas apa yang membuat kamu tidak suka. Yang penting kamu sudah tau. Bagaimana hubunganku dengannya. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang special juga tidak seperti apa yang kamu pikirkan," ucap Kevin bicara panjang lebar.


" Memang apa yang aku pikirkan. Aku tidak memikirkan apapun?" sahut Kiara.


" Aku tau apa yang kamu pikirkan, tetapi sekarang aku juga tau pikiran kamu sudah baik-baik saja," ucap Kevin lagi dengan lembut. Kiara tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


" Memang pikiranku sekarang baik-baik saja. Jauh lebih baik," batin Kiara.


" Kevin apa besok kita akan pulang ke Jakarta?" tanya Kiara.


" Seharusnya iya. Tetapi aku langsung terbang ke Amerika, jadi kamu pulang bersama Arya dan 2 anak buahku," jawab Kevin.


" Kau mau Amerika?" tanya Kiara sedikit kaget. Kevin mengangguk.


" Apa lama?" tanya Kiara yang seperti tidak ingin jika pulang sendri. Wajahnya juga terlihat sendu saat mendengar kepergian itu.


" Tidak lama. Aku ada urusan pekerjaan sebentar," jelas Aditya.


" Ohhhh, begitu rupanya," sahut Kiara dengan tidak bersemangat.


" Kau mau ikut?" tanya Kevin yang menawarkan Kiara untuk ikut. Karena Kevin bisa melihat Kiara yang tampak sedih mendengar kepergiannya ke Amerika.


" Ikut. Aku," tunjuk Kiara pada dirinya sendiri. Kevin mengangguk.


" Memang boleh?" tanya Kiara yang sepertinya setuju-setuju saja jika ikut pergi dengan Kevin.


" Boleh, kau boleh ikut. Jika kau mau, aku akan menyuruh Arya membelikan 1 ticket untukmu," sahut Kevin sepertinya sangat serius dengan tawarannya dan Kiara juga sepertinya sangat tertarik untuk ikut.


" Apa di sana lama?" tanya Kiara.


" Bagaimana kau mau ikut?" tanya Kevin sekali lagi yang memang benar-benar membutuhkan jawab wanita yang kebingungan di hadapannya itu.


" Jika ikut apa tidak akan merepotkanmu?" tanya Kiara pelan.


" Tidak! jika kau ikut. Aku akan membantumu sekalian mendaftar kan kuliahmu. Bukannya kau katakan kau ingin kuliah di Harvard. Aku alumni dari sana. Jadi akan sangat mudah jika aku membantumu dan kau juga di permudah mendapatkan beasiswa," jelas Kevin yang memang punya niat awal jika dia akan membantu Kiara dalam beasiswanya.


Dia ingin Kiara benar-benar lulus dan menjadi mahasiswa di sana.


" Serius?" tanya Kiara tidak percaya. Kevin menganggukkan kepalanya.


" Apa aku sudah memenuhi syaratnya dan kau akan memberikan tanda tangan surat baik itu," ucap Kiara yang masih tidak percaya.


Kevin memegang ke-2 bahu Kiara, menatap Kiara dengan dalam- dalam.


" Kiara kamu sudah melakukan semuanya dan hasilnya sangat bagus. Dan sesuai janjiku. Aku akan memberikanmu surat baik itu. Agar kamu bisa melanjutkan pendidikan mu. Pendidikan itu adalah hakmu, kamu harus mengejar impianmu," jelas Kevin berbicara dengan tulus membuat Kiara merasa haru dengan Kevin yang berkata seperti itu.


" Apa aku akan kuliah secepatnya?" tanya Kiara masih terus memastikan. Kevin mengangguk lagi.


" Kamu akan kuliah. Aku tidak hanya memberikanmu surat baik. Tetapi aku juga akan menyelesaikan semua prosedurnya sampai kau diterima," jelas Kevin.

__ADS_1


" Kamu melakukan sampai sejauh itu?" tanya Kiara masih tidak percaya. Kevin mengangguk lagi.


" Kevin. Aku tidak percaya. Jika aku akan melanjutkan kuliah ku. Terima kasih Kevin. Kamu melakukan banyak hal untukku. Ini hadiah ulang tahun yang paling berharga di dalam hidupku," ucap Kiara tanpa sadar meneteskan air matanya karena sangat terharu.


" Ulang tahun, kamu ulang tahun?" tanya Kevin bingung.


" Hmmm, aku ulang tahun kemarin malam. Tepat jam 12 di atas kapal. Sekarang usiaku genap 19 tahun. Makanya aku sangat bahagia jalan-jalan sejak pagi. Itu merupakan hadiah untukku dan aku pikir hadiahnya sudah selesai. Ternyata tidak. Malam ini masih ada lagi hadiah yang paling besar," ucap Kiara dengan air matanya yang masih menetes.


Kebahagian, kekesalan, dan haru, bercampur menjadi satu di malam yang indah. Di bawah salju yang turun dengan Pria yang sangat baik di depannya.


" Terimakasih Kevin," ucap Kiara memeluk Kevin.


Ke-2 tangannya melingkar di pinggang itu. Kevin tersenyum dan membalas pelukan itu. Kiara maupun Kevin sudah tidak canggung lagi untuk beradegan mesra. Mereka memang pasangan yang di mabuk asmara.


" Kenapa tidak mengatakan. Jika kamu ulang tahun?" tanya Kevin.


" Apa jika aku mengatakannya. Kamu akan memberiku kue ulang tahun dan juga hadiah?" tanya Kiara yang masih berada di pelukannya.


" Jika itu perlu kenapa tidak," sahut Kevin.


Kiara melepas pelukannya dari Kevin. Mengangkat kepalanya melihat Pria dingin yang sekarang begitu hangat kepadanya.


" Aku sudah tidak membutuhkannya. Karena aku sudah mendapatkan yang lebih dari itu," ucap Kiara. Semenjak bersama Kevin Kiara juga bicara sedikit bijak. Kevin mengusap pucuk rambut Kiara.


" Kamu tidak menginginkan kue ulang tahun dan hadiah dari ku?" tanya Kevin yang pasti tidak apdol jika tidak memberikan itu.


" Aku sudah mendapatkannya. Jadi aku tidak membutuhkannya lagi," jawab Kiara.


" Ya sudah kalau memang tidak perlu," sahut Kevin Kiara mengangguk.


" Apa sekarang kita sudah bisa pulang, ini sudah sangat larut," ucap Kevin melihat arloji di tangannya.


" Iya ayo!" ajak Kiara.


" Tetapi tunggu dulu. Aku belum mendapatkan jawaban apa kamu akan ikut besok?" tanya Kevin yang masih merasa belum jelas.


Kiara mengangguk cepat. Dia setuju untuk pergi besok. Karena Kiara juga harus mendaftar kuliah di sana.


" Aku akan ikut besok. Jika hanya sebentar kenapa tidak. Aku akan ikut bersamamu. Aku tidak mau pulang sendirian. Jadi anggaplah aku tidak punya pilihan lain," jawab Kiara.


" Baiklah! Aku senang mendengarnya. Ya sudah sekarang Ayo pulang, kamu harus istirahat," ucap Kevin Kiara menganggukkan kepalanya


Kevin tersenyum dan kembali meraih tangannya, menggengamnya erat. Mereka pulang dengan berjalan bergandengan. Dengan hati yang pasti sudah jauh sangat bahagia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2